Neitherland

Neitherland
45: Amoeba Paling Keren



"Aera!" Suara Morat dan Aiwan saling sahut dengan rona kejut yang masih terlihat di tengah lebamnya wajah mereka.


Seolah keterkejutan para pria bukan masalah baginya, Aera justru fokus menatap keselilingnya. Sialan memang. Semua terjadi di luar rencananya. Dia memang ingin keluar, tapi selanjutnya ingin menyusup ke ruang kontrol. Nyatanya kini dia ikut berjudi dengan maut di tengah arena koloseum. Apa benar hidupnya sudah tidak penting? Apa mungkin Roschiil tidak lagi terobsesi pada quantum tunnelnya?


Aera mendengus kesal, ingin rasanya dia menembus semua dinding itu tapi percuma dia tahu sistem pengendalinya tidak berada dalam ruangan ini.


"Bagaiman kau bisa masuk ke sini?" Gian bertanya tidak percaya. Aera tersenyum dan mengindik.


"Karena kehebatanku," guraunya yang dibalas decakan kesal.


"Harusnya kau mengeluarkan kami, bukannya ikut-ikut masuk. Auucchh ...!" Cibir Gian yang kemudian meringis karena luka di pelipisnya tanpa sengaja tersapu tangannya sendiri.


Aera berusaha untuk mengabaikan cibirannya, dia tahu Gian hanya merasa prustasi memikirkan ibunya. Pandangannya menyapu ke sekitar koloseum, keriuhan penonton bukan lagi dikarenakan menyaksikan pertandingan antar gladiator. Namun, karena kesibukan mereka yang saling mencumbu seolah tidak ada lagi kata malu di dunia ini.


Sebelumnya penonton tampak makin berkurang, tadinya Aera berpikir mereka pulang karena lelah dan sejenisnya. Namun, ternyata dia salah, kini arena Koloseum kembali dikerubungi para penonton dengan baju seragam. Kain hitam panjang dilengkapi hodie besar. Mereka terlihat seperti ribuan penjaga Askaban. Seharusnya mereka saja yang berada di sini lalu dimusnahkan secara massal untuk menjadi mengantar sekaligus penjaga ruh sang Ratu yang akan dikurbankan. Pikir Aera.


Di atas sana tampak purnama nyaris berjalan menuju sempurna. Desain melingkar dinding koloseum rupanya dapat terbuka. Dari dalam arena, layar yang menunjukkan tahta Roschiil tampak melayang. Menyisakan space hampir tiga meter dan pasti merubah formasi koloseum yang awalnya melingkar.


Di ruang luas sana tampak sebuah altar dan seorang wanita dengan gaun putih. Di sekelilingnya sembilan kursi dengan wanita muda yang tangan dan kakinya terikat. Mereka semua menggunakan jubah hitam seperti halnya para menonton tetapi tidak menggunakan hodie. Di antara wanita yang mengelilingi Ratu bergaun putih, Aera menangkap sosok yang tidak asing baginya.


"Cyma!" Morat berteriak kesal, menyadarkan kebingungan Aera. Benar saja, salah satu gadis yang duduk dengan tangan dan kaki terikat adalah Cyma.


Di layar, Roschiil yang juga menggunakan seragam hitam dengan lambang segitiga terbalik tepat di area hodie yang menutup wajahnya, menaiki altar. Sebuah Kris mandraguna digenggam mesra oleh tangan kanannya, sedang yang kiri memegang kitab setan. Sebelum purnama sempurna, Entruscana sudah harus gugur. Aera melihat semua sistem roket aktif dan siap luncur.


Inikah akhir hidupku? Benarkah harus begini? Aera menatap Aiwan dan Morat yang bersiap dengan senjata mereka; agar bisa menepis tombak ataupun roket yang mengejar. Namun, benarkah semudah itu menghindari senjata berteknologi tinggi ini?


Aera sangat tahu salah satu proyek senjata yang meminta bantuannya; mengunci target dalam kondisi apapun. Itu adalah senjata paling keras kepala yang pernah ada. Ketika target telah terkunci, ingin menghindar seperti apapun tombak/pisau/roket atau apapun jenis senjata yang menggunakan teknologi hyper shoot pasti akan menangkap sang Target hingga mati. Dan, mungkin inilah akhir dari kisah mereka yang terlalu percaya dapat menang dari seorang penguasa dunia.


Di detik-detik terakhir sebelum semua senjata itu lepas dan memburu mereka, pertolongan yang memiliki peluang 0,001 persen akhirnya datang.


Energi listrik di Istana mewah nan megah itu seketika mati.


satu


dua


tiga


Keriuhan kembali terdengar, tetapi segera berganti dengan keterkejutan dan tanda tanya ketika di detik ke empat listrik kembali berfungsi.


Aera menyadari dinding dan kubah eksekusi itu perlahan mundur; kembali ditelan dinding koloseum yang agung.


"Dalam waktu sepuluh menit ke depan kalian akan aman, jadi mari kita diskusikan taktik jitu keluar hidup-hidup dengan mengalahkan sang pemilik istana." Setelah seribu rasa sakit dan ketakutan, suara AI itu kembali bergema. Aera senang bukan kepalang.


"Keri! Kau berhasil!" Sangking senangnya Aera lupa memanggilnya dengan panggilan sayang; pesek.


"Aku tahu akan berhasil, kau tidak perlu berjingkrak lebay begitu. Sekarang kita perlu mendiskusikan masalah genting. Kalian bisa aman karena Ries berhasil memanipulasi gambar di tiap layar hologram mereka. Dia membuat seolah-olah kalian tengah bergulat dengan mesin paling kejam dan kini nyaris merenggang nyawa."


Ries. Aera tersenyum, ternyata keputusannya membiarkan dia pergi malam itu adalah hal paling tepat.


"Sekarang kalian memang telah bebas, tapi kita kalah jumlah. Prajurit yang berada dalam istana saat ini hampir 1000 orang. Kalian akan dengan mudah dilumpuhkan. Aku sudah merusak semua sistem senjata berteknologi hyper shoot mereka, dan semua AI atau apapun yang berhubungan dengan elektromagnetik. Kabar buruknya ke seribu prajurit itu juga dilengkapi dengan senjata manual.


Mungkin Aiwan bisa dengan mudah mengendalikan peluru, roket atau apapun itu. Tapi bagaimana dengan kalian bertiga? Jadi apa rencana kalian?" tanya Keri pada akhirnya.


"Kita kalahkan saja mereka, sekarang juga. Sebelum iblis itu menyadari semuanya." Aera menunjuk Roschiil yang terlihat was-was menatap layar.


"Aku tidak masalah tapi menghadapi banyak orang bersenjata secara langsung terlalu beresiko untukmu," tampaknya Aiwan keberatan.


"Aku setuju." Aera mendengus ketika Morat menambah suara. Sedangkan Gian hanya mengangguk-ngangguk.


"Jika langsung menyerang memang beresiko karena itu kita butuh rencana," Aera ngotot dan mulai menyusun strategi. "Ke seribu prajurit itu tidak mungkin berada dalam satu tempat 'kan?"


"Ya, lima ratus enam orang berada di ruang latihan militer tepatnya belakang istana. Mereka sedang berpesta, ada banyak minuman dan wanita. Seratus orang berada di Koloseum yang menyebar ke ruang persembahan. Tiga ratus berada di luar istana. dan sisanya tersebar ke segala penjuru istana; berpatroli dalam kelompok; dua sampai tiga orang."


"Binggo! Aiwan yang bisa menempatkan laser dan menahan semua material yang melaju langsung ke ruang latihan. Buat saja mereka pingsang, jangan dibunuh. Morat yang energinya seperti powerbank melumpuhkan prajurit di sekitar koloseum. Lakukan dari luar jangan sampai ketahuan oleh para prajurit yang berjaga di dalam. Sedangkan aku akan melumpuhkan setiap prajurit yang berpatroli.


Untuk di luar istana, segera hubungi Mentri sayap kanan, dan minta Ries menghadap tuan Piller. Aku harap mereka bisa menyelesaikan masalah penjagaan di luar istana tanpa harus melakukan kekerasan. Ok, mulai!"


Aiwan dan Morat yang tadinya ingin protes keputusan Aera mengeksekusi prajurit patroli, Segera setuju setelah mengetahui Keri menjadi guide-nya dalam menemukan jalan yang tepat untuk dapat menyerang dengan sekali pukul. Saat itu pula Keri serupa Amoeba yang bisa membelah dirinya menjadi banyak bagian.


Satu bagian menuntun Aiwan menemukan ruang latihan militer, yang ternyata letaknya cukup jauh dari pintu belakang istana. Bagian lainnya membantu Morat menemukan tempat prajurit yang berjaga di luar koloseum. Bagian lainnya membantu Aera menemukan jalan cepat mendekati prajurit patroli. Dan satu bagian lagi membantu Aiwan menemukan tempat yang aman untuk melindungi diri. Sedangkan yang lainnya sedang menghubungi Ries dan beberapa aparat yang berada di jajaran sayap kanan.