
01 Desember 2075
Neitherland Utara.
Sambil memijat lembut pelipisnya yang sejak tadi berkedut, Gian meninggalkan ruang rapat. Mereka baru saja memutuskan undang-undang yang berlaku untuk kepala daerah dan aparat pemerintah. Sejak Neitherland dibagi menjadi dua bagian; NU (Neitherland Utara) dan NS (Neitherland Selatan). Gian berusaha keras untuk dapat memberikan keadilan bagi seluruh rakyatnya. Mengubah dan menambah beberapa pasal yang berlaku adalah salah satu upayanya.
Ibrael sebagai raja Neitherland Selatan didampingi Epraim sebagai penasehat. Sedangkan Gian memegang Neitherland Utara dibantu Leony--keponakan Tuan Piller sebagai penasehatnya. Kuantum Fox dibagi berdasarkan letak LAB-nya. Begitu pula perusahaan besar lainnya yang kebanyakan bergerak di bidang teknologi dan perbankan.
"Mungkin sebaiknya kita makan siang dulu, Yang Mulia," tawar Leony melihat betapa kesalnya raut Gian, berharap bisa menghiburnya dan mengurangi kekesalannya.
Tanpa menatap gadis cantik berambut pirang yang berjalan di sampingnya Gian mendengus, "Silahkan saja jika kau mau. Aku masih ada urusan yang harus aku lakukan." Gian terus melangkah hingga keluar Aula diikuti beberapa penjaga yang setia mengikutinya kemanapun kakinya melangkah. Kamar kecil dan apartemen Aera, tidak termasuk.
Gian menghempaskan tubuhnya ke dalam pelukan kursi hangat tesla. Mengatur kemudi mandiri menuju tempat yang jauh lebih sering dia kunjungi ketimbang kamar seorang raja NU. Mengistirahatkan kepalanya dengan bersandar dan memejam.
Matanya terbuka, sekelebat kejadian di ruang rapat melintasi dalam benaknya seperti arwah penasaran. Dia kembali berdecak kesal. Ah, Mungkin memang dia yang terlalu terburu-buru, tetapi, hei, para bangsawan itu jauh lebih tidak sabaran untuk menuntut segala kepentingannya. Gian hanya ingin memberikan hal serupa untuk rakyatnya yang lain. Dia seorang Raja. Dia penguasanya. Namun, mengapa untuk sekedar mewujudkan niat baiknya saja terlalu sulit?
Gian mengembus napasnya kasar. Jika mereka selalu sok berkuasa, mengapa menjadikannya sebagai seorang raja? Bukannya lebih baik jika mereka saja yang memimpin. Jika dia bukan raja, tentu dia tidak peduli pada semua kebijakan konyol yang menurutnya terlalu dilebih-lebihkan.
Heh, Gian menggeleng kesal. Dia tidak habis pikir pada: kesejahteraan yang sejatinya menimbulkan kesenjangan sosial terlampau tinggi tetapi dinilai sebagai hal yang biasa; keadilan yang hanya berpihak pada para bangsawan tanpa sudi diberikan oleh kaum buruh apalagi budak dan dianggap sebagai suatu hal yang paling logis dan dibenarkan dalam hukum yang entah siapa yang menuliskannya. Namun bagi Gian semua itu cukup membuatnya muak dan ingin menghapus strata sosial yang tidak perlu di saat para ilmuan semakin gencar menciptakan robot pekerja.
Bukankah jauh lebih manusiawi, ekonomis, efektif dan efisien menjadikan besi-besi cerdas itu sebagai budak ketimbang manusia yang lemah dan butuh nafkah untuk diri dan keluarganya? Setidaknya dengan menjadikan robot sebagai budak, para bangsawan tidak perlu membayar mereka setiap bulan dengan upah minimum. Bahkan tenaga robot jauh lebih kuat. Tidak terbatas pada kekurangan fisik yang sering terjadi pada kebanyakan budak, karena dampak radiasi.
Terlahir dengan melalui fase kehamilan normal, tanpa bantuan teknologi yang melindungi janin dari radiasi serta mutasi gen untuk menghindari kecacatan. Membuat banyak para budak yang hidup dengan kondisi fisik tidak sempurna. Mereka rentan sakit dan mati muda.
Gian ingin melindungi hak hidup mereka dengan memberikan mereka kebebasan. Seharusnya niat itu merupakan hal yang baik dan mudah dilaksanakan. Namun, mengapa rasanya seperti sebuah kejahatan berbahaya yang bisa mengancam kehidupan banyak orang. Dengan terang-terangan para Mentri menolak idenya menghapus strata sosial dan meniadakan sistem kasta. Tidak ada budak. Tidak ada bangsawan. Yang ada hanyalah rakyat Neitherland Utara yang merdeka dan bahagia.
Tok ... tok ...
Sebuah ketukan di kaca mobilnya memaksa Gian terjaga dan membuka mata. Entah sejak kapan dia telah tiba di rubanah apartemen Aera. Namun, kini beberapa pengawalnya telah mengintip dari balik jendela kaca yang jelas gelap untuk memastikan kondisinya yang sejak tadi berdiam diri di dalam.
"Terima kasih, tadi aku ketiduran." ucap Gian sembari menepuk bahu sang pengawal saat melangkah keluar dari dalam mobil mewahnya. Pengawal yang diberikan ucapan terima kasih seketika bersemu dan mengangguk.
"Kami akan menunggu di sini yang mulia."
Gian tidak menjawab dan hanya melambai terus melangkah menuju sebuah lift.
Sinar matahari tampak terik, cahayanya menyeruak menembus kaca jendela. Beberapa berhasil mencumbu mesra wajah pucat Aera. Samar-samar gadis itu mendengar suara tangis---lirih. Perlahan matanya terbuka. Dia ingin bangun, tetapi tubuhnya terasa kebas.
"Aera!" pekik suara yang dia tahu milik Cyma. Sebelum kepalanya berhasil menunduk mencari sosok sahabatnya itu, lebih dulu dia merasakan pelukan hangat yang selalu tergesa tiap kali bertemu. Suara tangis yang tadi didengarnya kembali dengan lebih keras.
"Aku pikir kau tidak akan pernah bangun... huuu ... huuu ... huuu ....," Cyma menangis sambil memeluknya. "Kenapa tidur terlalu lama, aku pikir kau sangat cerdas tapi saat sakit kau sangat bodoh!" Cyma terus menggerutu antara senang dan kesal.
Sahabat baiknya bangun dari koma setelah hampir sebulan lamanya, dia bahagia, tentu saja. Namun, kekhawatiran selama merawatnya berubah menjadi rasa kesal, bagi otaknya yang entah berpikir seperti apa, jika sahabatnya itu benar bisa bangun kenapa tidak lebih cepat. Kenapa harus sangat lama. Dan itu cukup membuat Aera tergelak.
Sahabatnya itu, rupanya masih saja bodoh. Jika dulu dia selalu tidak mengerti mengapa, karena lahir dengan teknologi CRISPR-CAS 10 seperti dirinya, harusnya membuat Cyma tumbuh menjadi artis cantik dan cerdas. Namun, kini dia tahu apa penyebabnya. Cyma mengurai pelukannya.
"Kau benar-brnar telah bangunkan?" Dia menangkup wajah Aera, merenggangkan tangan dan meremas badannya.
"Iya. Tapi aku sulit bangun. Bisa tolong bantu aku untuk duduk?"
Setelah sekian lama kembali mendengar suara sang Sahabat, membuat Cyma sedikit loading. Saat dia termangu, sebelum akhirnya memahami permintaan Aera. Dengan cepat dia mengangguk lalu membantunya bagun dari tidurnya.
"Aku akan segera mengabari Morat, dia akan membawa dokter. Pasti badanmu jadi sedikit kaku." Cyma meletakkan sebuah bantal di belakang Aera, membuatnya nyaman untuk bersandar. " Aku ambilkan makanan dulu, kau harus makan agar cepat sehat." Cyma segera berlari meninggalkan kamar.
Aera menatap punggung sahabatnya yang menghilang ditelan dinding ruang tamu. Dia tersenyum lalu menatap seisi kamarnya. Dekorasinya berubah 180 derajat dari ingatan akhirnya berada di sini. Sebuah rak merekat di dinding tepat di hadapan tempat tidur, menarik perhatiannya. Bukan karena warna dan bentuknya yang menarik tetapi karena sebuah buku yang judulnya terasa asing.
Dia memejam, menyesuaikan retinanya dengan cahaya ruangan. Berharap penglihatannya jauh lebih baik walau tanpa bantuan lensa kontak. Setelah beberapa lama, masih saja gagal membaca judul buku di hadapannya dengan jarak kurang dari enam meter, Aera menyerah.
"Maaf, aku lupa belum belanja." Cyma masuk dengan segelas susu dan sepiring buah potong , yogurt dan kacang almond. "Sebentar lagi Morat tiba, aku akan keluar membeli bahan makanan dan memasak sesuatu yang enak. Kau bisa katakan ingin makan apa, dengan sepenuh hati aku akan membuatkannya untukmu." Cyma terlihat antusias, raut sedih yang tadi membingkai wajahnya telah sirna.
Aera tersenyum, "Terima kasih, terserah kau saja."
Mendengar jawaban Aera, senyum Cyma seketika memudar. Wajahnya kembali ditekuk. "Kenapa kalian semua sama .. hiikkss aku jadi merindukannya.. hikkks," gumam Cyma. Tangisnya semakin menanjak.
Aera yang tidak tahu mengapa sahabatnya yang periang bermetamorfosis menjadi melankolis, tampak tertegun. Mungkinkah efek ritual setan meninggalkan trauma mendalam di jiwanya yang lemah. Lalu, siapa pula yang di maksud sahabatnya itu? dia merindukannya? mungkinkah sejak Aera di Pare, Cyma akhirnya menemukan kekasih yang membuatnya jatuh hati?
Belum sempat Aera mengutarakan isi pikirannya, seruan dari arah pintu mengagetkannya. Cyma yang sedang menangis bahkan menyempatkan diri menghapus air matanya dan berbalik. Gian berlari dan langsung memeluk Aera sepenuh hati.
"Syukurlah ... Syukurlah ...," ucapnya berulang layaknya kaset rusak. "Aku sangat merindukanmu," gumamnya tanpa melepas pelukannya.