
Langit biru cerah. Permukaan danau membentuk mozaik memukau dengan kemilau lazuardi. Semilir angin musim panas berembus manja—saat yang tepat untuk menikmati keindahan danau Teli.
Gian kecil tampak riang di atas perahu remote. Senyumnya mengalahkan sinar mentari. Tangannya melambai ketika melihat Hiram—putra mahkota Neitherland datang dengan kekhawatiran yang luput dari pandangannya.
Seketika perahu yang dia tumpangi mengkhianatinya. Tubuhnya dihempaskan ke dasar danau yang tenang. Tanpa pikir panjang Hiram melompat. Anehnya sejurus kemudian tubuhnya terangkat oleh tangan robot yang datang entah dari mana.
Masih sibuk mengatur napasnya yang tengah berkejaran. Gian seketika terbelalak, “Kakak!” teriaknya panik melihat Hiram nyaris tenggelam—tangannya menggapai-gapai udara. Gian menatap ke sekitarnya, mencari para pengawal yang menemaninya ke Teli.
“Hei, kau! Cepat tolong putra mahkota!” desaknya pada sosok berjas hitam dilengkapi kacamata. Kakinya sibuk menendang udara. Tubuhnya masih melayang di atas Teli—dalam genggaman tangan robot yang mungkin berada di dasar sana. Gian tidak tahu, tetapi dia sungguh berharap masih ada robot yang bisa mengangkat Hiram sebelum kram dan tenggelam.
“Seharusnya kau belajar berenang lebih dulu, sebelum mengumumkan perang padaku,” seloroh pria berjas hitam. Seringainya terbit seumpama maut yang menggantung di ufuk timur—kala langit jingga terbakar kerinduan mentari yang nyaris sirna.
Gian terdiam. Dia baru menyadari pria yang mengajaknya berjalan-jalan bukanlah pengawal istana.
“Kak, bertahanlah!” Gian berontak, berharap terlepas dari cengkraman sang robot. Sialnya, tangan-tangan besi itu terlalu kuat baginya. Sedangkan di bawah sana, Hiram semakin tak berdaya.
“Gian, kau harus menjadi putra mahkota yang kuat,” pesan Hiram sebelum kembali tenggelam. Gerakannya semakin melemah, sesaat tatapan mereka bertemu. Ada senyum bercampur getir menghiasi sorotnya. Sebelum akhirnya tubuhnya menghilang di telan Teli—dan tidak terapung lagi. Gian berteriak dan menangis. Namun, pria berjas hitam justru tersenyum.
**
Gian terbangun, tubuhnya dibanjiri keringat dingin. Matanya memejam, ingatan tentang Hiram kembali berkelebat. Dia menghela nafas lambat. Berusaha ingin bangkit dari tidurnya. Namun, rasa sakit luar biasa menyerangnya. Dia baru menyadari lengan kirinya sedang di balut.
“Kau sudah sadar?” suara Aiwan terdengar dalam pekatnya gelap. Kemudian sebuah sinar dari benda panjang menyorotnya. “Uh, maaf, kau tahu, ini namanya senter. Di sini mereka masih menggunakan mesin untuk menyalakan listrik. Jadi saat malam, gelap pekat akan mendominasi, ya, kecuali kita berada di luar ruangan. Kau akan menyaksikan, bahwa langit masih sangat indah di usianya yang kian senja.” Selorohnya tanpa ditanya.
“Di awal malam, mesin masih beroperasi, tapi akan mati menjelang waktu tidur. Yaa, sekitar jam sembilan ke atas. Dan sepertinya ini adalah jam tiga. Ah, kenapa kalian selalu terbangun terlalu dini. Kau ingat? Saat mabuk dan tertidur di rumah Aera kalian pun bangun jam tiga dini hari. Ingin aku bantu bangun?” sebelum Gian sempat mengangguk, tangan Aiwan lebih dulu menyusun tumpukan bantal tepat di dinding lalu mengangkat tubuhnya agar dapat duduk tegak dan bersandar dengan nyaman.
Saat Gian bisa beradaptasi dengan cahaya ruangan yang redup karena sebuah benda yang disebut senter, dia baru menyadari tepat di samping tempatnya tertidur, ada Aera yang tengah duduk memegang selembar kain. Pantas saja sejak tadi Aiwan menggunakan kata jamak saat menyapanya.
Aiwan mengambil posisi duduk di sampingnya. Berhadapan dengan Aera.
“Di mana Keri?”
“Aku terharu, setelah tidak sadar sejak tiga hari, kau justru mencariku. Apa kau sangat merindukanku?” Bagai terlahir dari kegelapan malam, Kepala Keri menyembul tepat di hadapan Gian.
“Apa maksudnya, aku tidak sadar selama tiga hari?” Gian menatap Aera dan Aiwan bergantian.
“Kau sungguh tidak ingat?” tanya Aera.
“Seharusnya kami mencari kota dengan peradaban yang lebih maju, tapi kau sungguh sekarat. Kota ini belum tersentuh teknologi jadi kami tidak tahu apa mungkin otakmu mengalami cidera. Kau tahu siapa aku?” tanya Aiwan, Gian mengangguk.
“Ingatanku baik-baik saja. Terima kasih. Aku hanya tidak menyangka telah melewatkan 36 jam yang sangat berharga.” Imbuh Gian, tatapannya menerawang jauh menuju Neitherland.
Seketika kedua tangannya yang tergeletak di atas pahanya terasa hangat. Aera menggenggamnya—lembut.
“Jangan khawatir, semua akan segera membaik,” hibur gadis bermata coklat itu. Gian bisa merasakan perubahan sikapnya yang berbeda 180 derajat saat mereka pertama berjumpa.
“Hmm... Aku masih berhutang penjelasan pada kalian bukan?” Aiwan menginterupsi sinyal merah jambu yang memancar dari tatapan Gian dan Aera. “Kalian siap mendengarnya saat ini?” serempak, Aera dan Gian mengangguk. Saat itu pula Keri menampakkan wujudnya secara utuh, atau justru melingkupi mereka semua ke dalam jubah kamuflase terbaik miliknya.
“Kita di sini saja, untuk mengantisipasi ada warga yang terbangun dan mencoba mengecek kondisi kita,” ucapnya sembari menampilkan layar hologram dan nyala bintang yang berkelap-kelip bagai di luar ruangan.
“Kau bisa melakukannya tanpa bantuan listrik? Internet? mmm....” Gian berpikir.
“Kemampuan Keri tidak dibatasi dengan kondisi teknologi suatu daerah karena dia adalah daya dan sumber teknologi itu sendiri,” pungkas Aiwan yang membuat Aera dan Gian terkesima.
“Mungkinkah di balik bulu halus yang indah itu tersimpan Arc Reactor dalam film-film sains fiction?” tanya Aera dengan mata berbinar.
“Maaf aku tidak punya waktu menonton film,” sanggah Keri, “Jika ada, aku akan bermain Moment Legend,” tandasnya mengindik lucu. Dia menyebutkan nama permainan daring favoritnya.
“Tantang Arc Reactor, bukankah dalam lemari tempat kita berdiri ada beberapa Arc Reactor?” Gian menatap Aera. Dia teringat isi lemari Aera yang tidak biasa.
Menggeleng, “Itu hanya TFTR. Terlalu berisiko menggunakan Arc Reacktor di rumahku sendiri.”
“Jadi tenaga apa yang kau gunakan untuk quantum tunnel-mu?” Gian penasaran.
“Tanyakan saja pada mereka,” Aera menunjuk Aiwan dan Keri menggunakan dagunya yang lancip “Mereka pasti tahu.” Ya, Aera menduga tidak ada lagi yang tersisa dari semua rahasia yang bisa Aera simpan. Sejak pertama bertemu dan memberinya masalah Aiwan selalu membuatnya terkejut karena mengetahui segala yang yang dia sembunyikan. Aera bahkan menduga Aiwan mungkin pula tahu merek baju dalam favoritnya.
“Hmm.. kalian ingin membahas reaktor nuklir atau mendengar kisahku yang tidak kalah mengejutkan dari ledakan hidrogen?”
Gian dan Aera serempak membenahi posisi duduknya, seolah kompak mereka berseru, “Silahkan ....”
**
Langit merah
Menangis darah
Lukanya merambah
Ke segala arah
Pekik maut
Saling sahut
Belulang semerawut
Lapar disulut
Melilit perut
Mati terluka
Habis tenaga
Semua sama
Usia di batas masa
Pria, wanita
Bayi, dewasa
Semua menutup mata
Semua tak berwarna
Semua tak bersuara
Jiwanya berkelana
Tinggalkan raga
Tanpa kata
**
Aera terseduh. Saat menyadari satu hal, air matanya segera diusap. “Tunggu. Tolong kembali ke bagian yang diberi puisi.” Pintanya pada Keri.
“Kau masih ingin melihat anak-anak yang terluka dan menangis darah?”
“Bukan begitu, hanya saja aku merasa puisi itu tidak asing. Dan juga apa hubungan semua dokumenter perang dunia ini dengan Aiwan?”
“Kau tidak melihat, upacara tentara angkatan udara, yang memberi penghormatan kepada para pilot pesawat tempur?”
Aera memutar ke dua bola matanya, “Kenapa menanyakan hal yang sudah pasti. Tentu aku melihatnya.”
“Kau tahu apa yang mereka lakukan dengan pesawat tempur itu?”
“Mereka menyebar bom hidrogen ke semua belahan bumi, maka terkutuklah para tentara itu! Aku sungguh berharap mereka semua ikut meledak.”
“Ajaibnya harapanmu terkabul, tapi beberapa orang tetap hidup satu di antaranya adalah Aiwan.”
Serempak Gian dan Aera nyaris memekik, “Apaaaa?”
**