
Lampu ruang operasi masih terjaga, ketika Aiwan, Morat, Cyma dan sang Ratu yang masih terlentang dengan sebuah gladius yang setia mencumbu jantungnya berpindah ke ruang medis. Gian yang tengah menatap ruang operasi dengan sorotnya yang kosong, seketika terlonjak. Air matanya yang sejak tadi bertahan tegar, menyeruak keluar melihat ibunya.
"Ima," panggilnya sesegukan. Tatapan sang ratu menyambutnya. Sudut bibirnya sedikit melengkung. Rasa sakit menjemput maut--- tengah menyiksanya. Lantas bibirnya memuai, seolah ingin mengatakan sesuatu.
Gian menggeleng cepat, "Jangan katakan apapun, Aiwan akan membawa dokter terbaik, bertahanlah." Hiburnya lebih kepada dirinya sendiri.
"Maaf," tutur sang Ratu setengah hidup. Nafasnya semakin memberat. Dadanya semakin sesak, rasa sakit itu bagaikan batu yang siap menghancurkan jiwanya Tangannya berusaha menjangkau Gian. Dengan cepat sang Pangeran merengkuh jari-jari dingin ibunya, lalu meciumnya takzim.
"Tenanglah, Ma," pinta Gian. "Aku yang harusnya minta maaf karena tidak bisa menyelamatkanmu." Setetes demi setetes cairan bening yang sejak tadi menggumpal, berhasil meloloskan diri dari sudut mata sang Ratu. Tatapannya mengisyaratkan kesedihan dan penyesalan terdalam, ketika ke dua retinanya memindai wajah Gian; satu-satunya pewarisnya yang tersisa.
Sang Ratu menggeleng lemah dengan sisa tenaga, "Ini balasanku karena telah membunuh ibumu."
Ucapan sang Ratu seolah menjadi saklar yang seketika memadamkan semua lampu. Sesaat mereka dikungkung pekatnya malam tanpa hadirnya cahaya. Sebelum akhirnya semua lampu berenergi listrik itu kembali berpijar. Namun, sang Ratu tidak lagi bernyawa. Seolah kegelapan adalah malaikat maut yang bertugas menjemputnya.
"Tidak! Di mana dokternya!" Gian berteriak histeris. Dokter jaga di istana Roschiil setiap harinya memang hanya ada empat orang. Sebelumnya Keri menuntun Aiwan menuju Asrama para dokter untuk membawa mereka. Tiga dokter yang ada menjadi asisten sang AI bernama Ketty. Mereka tidak ingin mengganggu proses operasi Aera yang cukup beresiko.
Sejurus kemudian Aiwan muncul dengan dua dokter yang memucat. Tampaknya dia kembali menculik mereka dengan ancaman bukan rayuan. Namun, wajah Aiwan terlihat kusut.
"Tolong periksa ibuku," pinta Gian memelas.
Morat mencoba berdiri; meminta para dokter dengan todongan senjata, tetapi tubuhnya kembali limbung. Cyma yang sejak tadi terdiam menggunakan mantel Morat kebingungan menatap ulah ke dua pria, yang baginya serupa superhero karena telah menyelamatkannya.
Melihat ke dua dokter itu justru bergeming dengan pandangan bingung, Aiwan menembak pintu kaca menuju toilet. Seketika butiran kaca berserakan memenuhi lantai. Tidak ingin salah satu di antara mereka menjadi sasaran tembak selanjutnya, ke dua dokter itu pun bertindak. Memeriksa nadi dan napas sang Ratu lalu menggeleng lemas.
Takut-takut seorang dokter berucap, "Maaf, tapi yang mulia telah tiada."
Gian terdiam, informasi yang tadi dia dengarkan belum sepenuhnya dicerna oleh otaknya. Aiwan juga diam. Pandangannya terus menatap ruangan di mana Aera di operasi. Pun dengan Morat.
Kenapa lampunya mati? apa semua listriknya mati?
Pertanyaan yang terus menghantui kepala Morat dan Aiwan. Namun, tampaknya Gian tidak memperhatikan hal itu. Dia tengah tenggelam dalam kegamangannya sendiri. Sejurus kemudian pintu ruang operasi terbuka. AI bernama Ketty tak muncul di sana. Ketiga dokter itu pun tidak. Aiwan memilih masuk. Namun tubuhnya segera melorot ke lantai.
***
Sedangkan di luar istana, ratusan prajurit bertumbangan karena bom serangga Ries. Aiwan dan Morat tidak akan tahu, keberhasilan mereka menembus kuil dan mengacaukan ritual karena bantuan Ries. Jika dia tidak mengirimkan drone bom berbentuk serangga lucu, bahkan setelah purnama berlalu, mereka masih akan disibukkan oleh serangan para prajurit yang berjaga di luar istana.
Sepanjang mata memandang, jalan, taman, sampai teras istana diselimuti potongan tubuh prajurit yang hangus terbakar. Keberhasilan Keri meretas sistem keamanan istana adalah faktor pendukung lainnya. Karena dengan melumpuhkan medan pelindung istana, drone pembunuh Ries dengan mudah menyusup ke halaman dan membombardir mereka dalam waktu singkat. Sebuah bom pembunuh yang ekonomis karena hanya menghancurkan tubuh sang target tanpa menyentil bagian bangunan istana.
***
Roschiil menghancurkan semua yang ada dalam ruang kontrol istananya. Dia tidak tahu bagaimana cara mereka meretas sistem keamanan istananya ketika semua tahanannya tidak satupun luput dari pengawasannya. Roschiil mulai memikirkan pihak lain yang bekerja jarak jauh, tetapi bukankah itu terlalu hebat? bagaimana mungkin dia tidak mengetahui ada orang sehebat itu di Neitherland yang sejatinya berada di bawah kekuasaannya.
Cih, persetan dengan ritual. Aku harus menemukan cara menyiksa para pemberontak kecil itu dengan cara paling gila. Batinnya ketika menangkap salah satu kamera sisi tv yang menunjukkan kondisi ruang medis.
Roschiil menatap satu-satu layar yang menyorot bagian-bagian dari istananya. Di setiap koridor, dia menemukan tubuh prajuritnya yang tertembak dengan warna lantai yang kini berubah merah pekat. Berpindah ke ruang militer, darahnya seketika mendidih mendapati prajurit kesayangan yang dia bangun dengan jiwa raganya nyaris seperempat telah hangus. Potongan tubuh yang hangus adalah pemandangan lainnya. Namun, sebagian besar dari mereka bergeming, terlindung dengan cara aneh.
Lantas pekikan amarahnya kembali menggelegar, ketika melihat halaman istana bagian luar. Potongan tubuh prajurit setianya berserakan layaknya dedaunan kuning di musim gugur. Tepat di saat itu, pintu ruangan terbuka. Tiga orang pria dan seorang wanita; Joylim, masuk lalu membungkuk ketika mendapati ruang kerja mereka hancur diamuk sang Penguasa.
"Apa yang kalian lakukan, hah?! bukannya kerja kalian malah asyik bermain di luar dan membiarkan sejumlah manusia tengik itu mengobrak-abrik sistem keamananku. Apa kalian sudah bosan hidup? Mau kukirim ke neraka bersama keluarga kalian! hah? jawab setan!"
Bugh!
Sebuah bogeman, tendangan dan tamparan masing-masing melayang di kepala orang yang berbeda. Joylim wanita tercerdas yang dulunya menjabat sebagai ketua biro hukum Neitherland kini memegang jabatan sebagai ketua OSyN. Rambut pirangnya yang bergelombang menjuntai hingga ke bahu. Wajahnya datar layaknya skateboard, berpadu dinginnya es kutub.
Mata hazelnya sedang mengerjap. Karena sebuah pukulan yang mampu mengguncang isi kepalanya. Seketika dia membungkuk, "Maafkan kami tuan," tuturnya dingin lagi tenang.
"Aku tidak menggaji kalian untuk sebuah kata maaf, bedebah!" Murka Roschiil masih belum surut.
"Kami keluar untuk mengejar sinyal yang mencoba membobol sistem ...,"
plaakk!
Kalimatnya terpotong karena telapak besar sang Tuan lebih dulu mendarat di pipinya yang putih. Joylim terhuyung tetapi segera berhasil menyeimbangkan dirinya dan kembali tegap.
"Mencoba katamu! dia sudah berhasil bahkan mengambil kendali semuanya, bodoh!"
Roschiil kembali mengamuk seperti banteng kerasukan setan mabuk. Jeremy dan Doremy saling pandang. Sedangkan Omeldo sigap menyodorkan sebuah sapu tangan kepada Joylim. Sudut bibir gadis itu telah sobek dan menitikan darah.
"Anda bisa lihat, Ketty tengah melakukan operasi dengan prosedur yang ternyata telah rapi." Joylim kembali bersuara setelah menyapu bersih darahnya dengan selembar kain sutra. Bersyukur ucapannya mampu membuat Roschiil takluk. Emosi buruknya seketika surut lantas beralih fokus menatap layar dan program kerja sang AI.
"Aku tidak tahu prosedur medis apa yang harusnya digunakan. Itu bukan spesialisasiku, tetapi aku yakin, prosedur yang Ketty lakukan baru beberapa menit yang lalu terinstal. Dalam arti kata, program tersebut masih dalam pengembangan dan penyempurnaan koding." Joylim menatap Jeremy yang bertanggung jawab dalam bahasa pemrograman AI medis khususnya Ketty.
Yang ditatap mengangguk setuju, "Ya, beberapa debug belum dibenahi hingga menghambat proses connecting datanya. Namun jika programnya bisa jalan itu berarti ada yang menyelesaikannya ... tapi orang itu bukan aku."
Roschiil menatap mereka, sebilah alisnya terangkat dengan sorot tajam, setajam bayonet seolah berkata, Siapa orangnya? jika jawabannya tidak tahu maka nyawa kalian hukumannya. Namun, hal itu tidak membuat Joylim terintimidasi. Pandangannya tetap tenang, mungkin itu pula alasan mengapa dia yang diangkat sebagai Ketua OSyN.
"Beberapa menit yang lalu kami mendapatkan dua sinyal dari sudut berbeda. Karena itu kami keluar mengejarnya. Berharap kami bisa menangkap siapapun itu. Tapi kemudian kami sadar dua sinyal yang terpancar hanyalah pantulan gelombang radio yang sengaja dimanipulasi untuk mengecoh sumber aslinya."
"Kesimpulannya," desak Roschiil yang sejatinya tidak memiliki stok sabar yang panjang.
"Tujuannya agar kami meninggalkan ruang pusat kendali dan mengambil alih semuanya. Kabar buruknya kami tidak bisa memastikan dia manusia atau AI. Tapi kabar baiknya dia masih ada di ruangan ini."