Neitherland

Neitherland
Season II, Tembakan Berlian



Dari ruang kuantum yang sumber lokasinya tepat di apartemen Aera. Ries tengah mengunci setiap sisi partikel medan pelindung presiden. Podium itu telah dilapisi medan pelindung paling mutakhir dan Ries berusaha menjebol pertahanannya.


"Bagaimana bisa sesulit ini," keluhannya bergema di kepala Aera. Sedikit banyak mengganggu konsentrasi ilmuan cantik itu.


Menggunakan nano kamera yang merekam gelombang otak dan menerjemahkannya sebagai pesan suara. Seolah melakukan mind link, Aera menjawab Ries tanpa perlu mengeluarkan suara, persis berbicara pada dirinya sendiri, tetapi Ries mampu mendengarkannya berkat penerjemah pesan yang mereka kirimkan menuju lobus temporal.


"Ada masalah? sepertinya sebentar lagi target akan naik ke podium, kau harus lebih cepat."


"Medan pelindung yang mereka gunakan tidak seperti Medan pelindung pada umumnya. Kemarin kita hanya menggunakan Medan pelindung mobil kampanye sebagai sampel, dan itu jauh berbeda." Ries melaporkan masalahnya.


Padahal sebelumnya mereka telah menyiapkan eksekusi cepat tepat untuk membobol medan pelindung, sialnya rencana mereka seolah bocor dan kini harus menghadapi kenyataan teknologi yang mereka gunakan tidak mampu mengurai pelindung itu dengan cepat.


"Kunci saja semua bagiannya lalu gunakan gelombang suara yang ada dalam disk 10," saran Aera setelah terdiam cukup lama.


Sebulan bagi Aera merencanakan semua ini, sesulit apapun itu dia pasti akan menemukan jalannya alih-alih mengeluh dan mulai frustasi.


Ries seolah tersadar, dia menepuk kepalanya. Saran yang cerdas! menggunakan gelombang suara untuk mengurai susunan molekulnya. Disk 10 adalah kumpulan suara ultrasonik yang bisa mereka konversikan ke dalam bentuk apapun termasuk senjata mematikan. Menggunakan prinsip modulus young (E) Ries akhirnya memilih satu lagu.


"Kurang dari lima menit, target akan berdiri dipodium dan lima menit kemudian, Medan pelindungnya akan membentuk lubang seukuran amunisi kalian. Beberapa lubang itu tepat di antara mata, pipi kanan dan kini, leher, dada kiri. Tapi hindari menembak bagian dada, aku pikir kalian tahu apa yang ada di balik kantongnya."


Aera tersenyum mendengar penjabaran Ries, dia mungkin menggunakan rumus cepat rambat gelombang, menemukan waktu tepat untuk membidik. Akan tetapi perubahan molekul atom tidak stabil dalam jangka waktu kurang dari satu menit. Jadi mereka kembali bertaruh, khusus presiden Aera harus bisa membidik dengan tepat karena jarak Yuuko menjadi kelemahan mereka.


"Yuuko, tepat diwaktu yang telah ditentukan, fokus saja pada Dmitry Fredkov. Presiden serahkan padaku." Aera memutuskan dengan cepat.


"Siap laksanakan!" jawaban Yuuko yang memancing tawa Ries.


"Berhenti tertawa. Buka saluran komunikasi delta, theta dan gamma tanyakan kondisi mereka."


Di saat yang sama, Aera tengah membagi fokus karena sedang menjawab pertanyaan ramah tamah tidak penting dan sangat menyebalkan baginya. Dia bersikap terbuka dan berakting menjadi makhluk sosial sempurna, agar terlihat sama oleh AI pengintai. Akan tetapi kini dia nyaris kehilangan kesabaran dan ingin menjawab dingin, pada para wanita dan pria yang tetiba merasa sok dekat dengannya.


"Terima kasih!" ucap Aera ramah dengan senyum terindah ketika seorang wanita yang namanya entah siapa menepuk tangannya. Menghiburnya karena kematian tunangannya, Epraim. Tolonglah, itu telah berlalu sebulan lamanya. umpatnya dalam hati karena tahu wanita itu menghibur sekedar basa-basi. Yang jauh lebih menyebalkan rupanya dia tengah mengejek dalam hati. Jenis manusia munafik yang ingin sekali dia lenyapkan dengan sekali tembak.


"Morat dan Stego sejauh ini telah berhasil masuk ke kamar Roschiil. Aiwan tidak menemukan The Art tapi mengambil The Eye. Dan, Moana sejak tadi mengatakan jangan khawatir, aku bahkan tidak tahu dia mengatakan itu padaku atau pada dirinya sendiri. Jangan tanya kenapa tidak tanya pada si mesum gila, dia tidak akan mengatakan apapun selain ucapan cabul yang menyebalkan." Aera tersenyum menanggapi laporan Ries.


Presiden melangkah naik ke podium, masih dengan akting bercakap manis dengan orang-orang yang duduk di dekatnya, Aera membuka clutch bag miliknya. Menarik sebuah kacamata mewah, lalu mengenakannya.


Di saat beberapa mata terfokus pada podium, dengan cepat Aera merangkai clutch bag mewahnya kembali dalam bentuk senjata mematikan. Di menit yang telah ditentukan beberapa orang yang duduk di depannya seketika berdiri ketika merasakan aliran listrik mencubit kulit paha mereka, tanpa menyia-nyiakan kesempatan Aera ikut berdiri dan membidik di saat yang sama melepas tembakan.


Hening seketika, jatuhnya ke dua orang dengan kedudukan tertinggi di Neitherland seolah membuat seluruh tamu yang hadir kehilangan kesadaran. Potret presiden dengan jidat bocor ditembus amunisi berlapis berlian sesaat menjadi pemandangan yang membuat siapapun berhenti bernapas.


"Tangkap terorisnya!" teriakan seorang berseragam prajurit hitam, seolah menjadi komando bagi para tamu undangan untuk kembali tersadar dan berlarian mencari tempat aman.


Waktu yang cukup bagi Aera meraih tali bidikan Yuuko. Melompat dan bergantung dari satu tali ke tali lainnya, lalu melompat ke lampu gantung diiringi kejaran peluru dari berbagai arah sebelum akhirnya Aera kembali melompat ke lantai atas. Tujuannya adalah ruang penitipan barang karena bola kuantum yang telah dia modifikasi menjadi coklat tetap ditahan dan disimpan dalam ruang penitipan barang.


"Segera pergi Yuuko!" seru Aera lewat telepati kuantum.


Dia menyadari gadis itu masih bertahan di menara setelah melihat keributan di luar. Harusnya dia segera pergi setelah targetnya tewas dalam sekali tembak.


"Aku menunggumu," balasan Yuuko membuat Aera berdecak kesal alih-alih tersentuh karena kesetiaan juniornya.


"Bodoh, jika bolaku tidak mereka tahan sejak tadi aku telah pergi. Maka pergilah sekarang!"


"Aku akan membantumu mengalihkan perhatian mereka." Yuuko masih keras kepala.


"Aku benci menyuruh berulang kali. Jika menit berikutnya kau masih belum pergi aku akan mengeluarkanmu dari tim."


Aera sengaja membuat bola kuantum demi menjaga keamanan semua timnya. Dia tidak bisa menerima konsekuensi jika Yuuko harus tertangkap karena kesetiaan bodoh yang dia miliki. Tidak ada jawaban, Aera kembali sibuk menghindari peluru dan kejaran prajurit yang telah berada di belakangnya. Dia berharap gadis itu telah pergi bertemu Ries. Sesekali dia pun melepaskan tembakan yang langsung menjatuhkan tiga bahkan lebih prajurit karena sinar gamma yang digunakannya memiliki panjang seratus meter.


Tidak ada jalan, dia harus melompat dan menghadapi puluhan prajurit karena bola kuantumnya terletak diruang sebelah tangga. Ruang istirahat bagi para penjaga istana ketika malam hari. Benar-benar sialan, apa mereka benar berpikir itu adalah coklat? Aera hanya berharap para prajurit bodoh itu tidak sampai memakannya.


Aera merosot melalui sisi pegangan tangga. Sebelah tangannya meluncurkan tembakan dari pistol rakitan dengan amunisi berlapis berlian. Tangan sebelahnya menyapu semua prajurit di sebelah tangga dengan sinar gamma yang mampu membelah baju zirah sekalipun.


Pekik takut para tamu undangan adalah keributan lainnya yang memeriahkan ruang aula istana Wazner. Potret ruang megah nan mewah yang masih bertahan hingga beberapa menit yang lalu kini berganti dengan kekacauan yang membuat siapapun nyaris muntah. Darah dan potongan tubuh prajurit yang berserakan adalah alasannya.


Tepat di bawah Aera berhadapan dengan lawannya. Sebuah AI yang beberapa bulan lalu menjadi wasit koloseum Roschiil. Sinar Gamma Aera hanya melukai kulit sintetisnya percikan-percikan api tampak dari siku dan lehernya. Aera kini berdiri tegak setelah berhasil melumpuhkan tiga prajurit dengan jurus manga krav yang dia pelajari dari Aiwan. Pistolnya telah terbang entah kemana setelah amunisinya bersarang ditubuh para korban.


Dia mendengus malas melihat gerakan karate yang dilakukan sang AI. Aera melonggarkan jam tangannya, memencet salah satu tombol dan memasukkan benda kecil itu ke mulutnya. Setelah sedikit lumer oleh liurnya dia kembali mengeluarkannya memadatkannya laku melemparkan tepat di atas kepala sang AI.


Duaarrr!


Aera yakin jurus yang dia peragakan bahkan belum selesai, tetapi AI itu kini berubah menjadi seonggok rongsokan karena center power-nya telah hancur.