
Arkdom dan Morat saling berhadapan. Pria yang memiliki badan dua kali manusia normal itu menatapnya dengan nafsu membunuh. Matanya berkilat, bibirnya mengerang persis seperti beruang bertemu mangsa.
"Mati kau!" umpatnya diikuti serangan cepat menuju leher.
Dengan gesit Morat menghindar dan melepas cambuk panjang berujung besi berduri, yang sayangnya juga dapat dihindari oleh Arkdom. Seringai meledek merekah di sudut bibir si Monster Prajurit Hitam. Sesaat mereka masih saling bertahan, sebelum akhirnya ujung cambuk Morat melempar pedang Arkdom.
Seolah berkulit kebal, Arkdom mengabaikan telapaknya yang berdarah karena duri besi yang menjadi mata cambuk. Digenggamnya dengan erat sebelum dililitkan ke tangannya. Aksi tarik menarik berlangsung beberapa detik dengan hasil Morat mendekat disambut oleh bogeman tepat di-da-da-nya.
Dia nyaris terhuyung tetapi sempat melayangkan tendangan ke arah perut--tepat dibawah rusuk Arkdom. Tendangan yang membuat Arkdom semakin murka dan langsung menerobos dengan serangan liar ala krav manga. Gerakan-gerakan cepat dan kuat membuat Morat kewalahan.
Satu tarikan napas membuat gerakannya melambat dan cukup bagi Arkdom menjatuhkannya dengan sebuah pukulan tepat di tengkuk. Morat tersungkur. Arkdom meloncat menindihnya dengan mengerahkan segala berat badannya tepat di lutut. Teriakan Morat menggema tetapi segera teredam oleh jeritan korban lainnya.
***
Joylim berhasil menggores leher Yuuko. Tidak dalam tetapi cukup membuatnya meringis perih. Sebuah gebrakan yang membuatnya semakin ber-has-rat ingin membunuh gadis bertubuh langsing dengan mata minimalis yang berdiri di depannya. Meraka berdua lawan yang seimbang. Memar di sekitar wajah Joylim dan goresan di tubuh Yuuko adalah saksi pertarungan yang hebat. Dan, mereka tahu harus segera mengakhiri pertandingan bebas tanpa wasit dengan hadiah nyawa ini.
"Serangan yang buruk," Yuuko mencibir sengaja memprovokasi lawannya. Namun, jelas gagal. Joylim adalah orang yang paling pandai mengatur emosi layaknya dia pandai mengatur bidak catur sebelum meraih 'fork'. Ucapan Yuuko tidak berarti apapun baginya, karena apa yang harus dilakukan ke depannya adalah perhatian utamanya.
Yuuko menarik katana kembarnya dari punggung sutra yang disediakan oleh Keri. Detik berikutnya mereka saling serang. Gerakan Yuuko yang gesit cukup menyulitkan Joylim. Tidak ingin membuang lebih banyak waktu Joylim memutuskan untuk menggunakan jurus pamungkas dengan tehnik gambit.
Jika dalam turnamen catur gambit mengorbankan beberapa pionnya sebelum meraih kemenangan, maka Joylim pun harus mengorbankan tubuhnya untuk mendapatkan beberapa luka yang membuatnya berdarah. Darah yang keluar dari kulitnya dapat menstimulasi semua indranya menjadi berkali lipat lebih baik. Termasuk mata, dan energinya.
Gerakan Yuuko yang tampak seperti ninja moderen---berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya demi menyerang titik vital Joylim, dengan cepat hingga nyaris tampak menghilang atau berteleportasi cukup mengganggunya. Setelah melepas dua pisaunya, Joylim memilih duduk lalu memejam. Joylim yang kegirangan berpikir dia telah mengalah tidak menyia-nyiakan kesempatan.
Secepat angin Yuuko mendekat. Mengayunkan katanya membelah tubuh Joylim. Darah memercik keluar, sebagian mengotori wajah Yuuko. Normalnya Joylin harusnya tumbang, katana Yuuko adalah katana dari abad 19. Namun, mungkin karena usia itu pula yang membuat Yuuko ragu dan membuang katana di tangan kanannya sebelum kembali menebas Joylim dari belakang.
Ketika dia hendak kembali melaksanakan niatnya Joylim telah berubah menjadi monster paling tangguh. Gerakan cepat Yuuko terlihat jelas di matanya bagai gerakan lambat yang mudah dia patahkan. Yuuko membeliak ketika tangannya ditangkap lalu tubuhnya dibanting bagai latihan dikelas judo.
Katana di tangan kirinya terlepas. Belum sempat dia kembali meraihnya, Joylim telah menindih tubuhnya dan memberinya cengkraman yang mampu meremukkan tulang leher dan membuatnya tak lagi bisa menghirup udara. Kedua tangan Yuuko yang diinjak oleh dua kakinya bahkan tidak sanggup memberontak sebagaimana mestinya. Hanya jari-jari Yuuko yang bergerak bebas seolah menjerit katakutan, dan segera memutih kurang dari satu menit.
***
Moana dan Stego berhadapan dengan ketua kelompok prajurit hitam; Alex, Brey dan Guzel. Mereka saling membelakangi. Di sekitarnya bunyi gesekan pedang saling sahut dengan jeritan dan tangisan korban yang berjatuhan.
Stego mengumpat dalam hati, mengapa dia hanya diberi perisai tanpa pedang. Sedangkan Moana mendapat pisau kecil. Namun, ketika satu pisau Moana menancap tepat di antara mata Guzel dan perisainya bisa memotong ke dua pedang Alex. Stego kembali bersemangat dan menarik kembali umpatannya pada Ries; sosok yang dipikir pemilik suara aneh yang menuntun mereka sejak beberapa jam yang lalu.
***
Roschiil mengabaikan gladiusnya. Dengan amarah yang meledak-ledak dia menghampiri Aera. Gerakannya yang kuat tetapi tenang adalah hal paling menakutkan. Sekalipun waktu bisa mereka manipulasi, nyatanya luka dan energi yang telah terenggut sebelumnya tak dapat kembali. Walau tanpa luka menganga di dada dan perutnya, tetapi rasa sakit itu cukup menyiksa Aera. Hal yang sama terjadi pada teman-temannya. Maka meminimalisir waktu dalam pertarungan adalah hal paling utama.
Aera menangkis tendangan Roschiil tetapi tidak bisa menghindari serangan dari telapak tangannya yang membuatnya terdorong dan memuntahkan darah. Dengan seringai licik Roschiil meneruskan serangannya tanpa memberi jeda bagi lawannya. Aera menghindar dengan berguling pada dinding.
Gerakan Roschiil terus melaju. Tidak melambat walau sedetik. Aera mengagumi stamina si iblis tetapi semua terlalu beresiko jika dalam beberapa menit kedepan dia hanya terus bisa bertahan tanpa menyerang. Aera berputar lalu melompat jauh. Tangannya sigap memeriksa kain putih yang menutupinya. Biasanya Keri memfasilitasi mereka senjata, dan benar saja, sayangnya dia mendapat mata anak panah. Ya, hanya mata saja, tanpa busur dan anak panahnya.
Dia ingin mengumpat tetapi gerakan Roschiil yang gesit tidak membiarkannya melakukan itu. Dengan refleks dia melempari pria tua itu mata anak panah dan tepat menancap di lehernya. Namun, bukan Roschiil sang Iblis kuat jika kematian menjemputnya setelah satu mata anak panah menembus kulitnya. Sakit pun dia seolah tidak merasakannya.
Detik berikutnya mereka kembali baku hantam. Aera yang mulai kelelahan, tertangkap. Batang lehernya digenggam dan tubuhnya terangkat di udara. Roschiil kembali meringis bengis. Lalu dalam sekejap, Aera melayang dan membentur altar yang terbelah. Tulang belulangnya terasa remuk. Dia bahkan berpikir tulang belakangnya telah patah. Darah yang mengalir dari kepalanya tercium amis. Aera berusaha menjaga kesadarannya.
Kepalanya menggeleng. Roschiil, pria yang kini berdiri di hadapannya merupakan jelmaan iblis abadi. Tendangan dan tonjokan darinya tidak meninggalkan bekas apapun di wajahnya. Jadi, pengulangan waktu yang Keri rencanakan akankah berakhir sia-sia?