
Sejak tadi Monect terus menarik dan menghembuskan napas. Sepertinya dia terlalu mengkhawatirkan aku. Kegelisahannya semakin tampak ketika perdana Mentri beserta anaknya memasuki ruangan.
Aku mulai mempertimbangkan banyaknya suara yang mendukungku. Termasuk Rahab yang lebih dulu aku cuci otaknya. Kerutan di wajahnya tampak banyak ketika aku mengutarakan niat beserta alasannya. Dia jelas tidak menyetujuinya, tetapi aku sudah menduga dan menyiapkan argumen yang sulit ditolak. Pada akhirnya dia duduk di tempatnya dengan wajah berlipat. Mungkin tengah memikirkan semua perkataanku dengan pertimbangan.
"Aneh, tapi nyaris tanpa cela." gumamnya mengikutiku ke Aula.
Hampir saja aku tergelak mengingat hal itu. Nyaris setahun menjadi Epraim aku semakin lihai memanipulasi kata.
"Upacara untuk Dewi Isis bisa kita laksanakan bersama dengan upacara kehamilan Ratu Meritites," putus Imam Besar Cheops di sambut hangat oleh semua Mentri. Aku menyeringai, langkahku menjadikannya sebagai tameng, sesuatu yang tepat.
"Dewi Isis merupakan ibu dari Cheops. Ibu para penghuni surga, bukankah terlalu dangkal memilih Ratu yang tengah mengandung? Biarkan Mareskan yang memimpin ritual."
Ucapannya terdengar seperti Mareskan jauh lebih unggul daripada Meritites. Cih, dasar tua Bangka yang licik. Dia masih belum sadar posisinya. Bagaimana mungkin statusnya yang dia dapat dengan kemurahan Imon bisa menjadi lebih mulia dibanding Meritites; anak raja terdahulu; Saudara Se-ayah denganku, kakaknya dan juga suaminya.
"Mungkin karena sudah terlalu tua atau terlalu lama pedangmu pensiun. Kini otakmu seperti besi tumpul yang perlu diasah. Tetapi kalian mungkin pernah mendengar pepatah. Batu mulia tidak akan berubah menjadi debu sekalipun dicacah besi bermata dua. Jika ada batu yang bisa hancur dan melebur dipastikan dia hanyalah batu sungai yang bahkan bisa terseret kuatnya arus."
"Lalu, bagaimana mungkin batu mulia bisa lebih rendah dibanding batu sungai?"
Para Mentri berdehem kebingungan. Sedangkan Ayah Mareskan beserta saudaranya memerah. Jika para pelayan tidak mengipas-ngipasku dengan pelepah kurma yang telah dikeringkan, mungkin saja aku telah terbakar karena panasnya sorot mereka. Aku menyeringai.
"Seperti katamu, Dewi Isis adalah ibu bangsa Cheops. Bukankah jauh lebih tepat ritual keagungannya dipimpin oleh seorang calon ibu?"
Meritites sedang mengandung enam purnama. Memimpin ritual pemujaan sang Dewi aku rasa tidak masalah. Dia hanya perlu duduk manis di tengah simbol yang dibuat di atas altar suci berbentuk The Eye of Horus. Tangan kanan memegang sekhem dengan kepala lotus. Tangan kiri memegang Ankh milik sang Dewi. Toh, yang menyanyi dan menari adalah para pelayan, bukan pemimpin ritual.
"Karena belas kasih Imon kalian diberi kedudukan dan peran dalam membangun Cheops. Beberapa orang yang bersyukur melakukan perannya dengan baik. Tetapi beberapa yang tamak dan tidak menyadari posisinya akan segera kehilangan segalanya."
"Aku bukan Raja Snefru yang bijak dan memberi maaf bagi menterinya yang salah. Karena bagiku kesalahan seperti hama. Jika tidak segera dihilangkan akan menghancurkan. Tidak ada jalan untuk membenahi dan bertaubat."
Kemudian semua menjadi hening. Aku yakin beberapa pendukung perdana mentri mulai mengatur serangan tentang Swaillyn, aku tidak ingin mengambil resiko dan akan menuntaskannya hari ini.
"Dan juga, upacara pernikahanku dengan calon Imona akan dilakukan bersamaan dengan pemujaan Dewi Isis."
Seperti dugaanku, dengungan mereka mulai menanjak bagai kerumunan lebah. Orang-orang yang mendukungku awalnya tampak terkejut, tetapi kemudian mereka mengangguk ringan dan menjadi lebih santai. Begitulah seharusnya para Mentriku. Percaya pada kebijakanku tanpa kenal ragu.
"Bukankah sebagai seorang raja menjunjung tradisi dan ritual keagamaan merupakan keniscayaan?"
Akhirnya mereka yang bersebrangan denganku mulai menunjukkan diri. Tetapi hei, alasan apa itu? aku membawa masalah pernikahan mengapa dia menarik tradisi dan agama? konyol sekali.
Dengan meringis aku menatapnya.
"Mengingkari tradisi sejak ribuan tahun lalu, seperti menorehkan noda dalam tahta. Cobalah berpikir jernih yang mulia."
"Shemu tidak hanya berguna untuk mensucikan status dan dosa karena perbedaan budaya serta agama, tetapi juga waktu yang tepat ketika Isis siap menerima jiwa asing menjadi bagian Cheops."
Bahkan pada argumen terakhir, beberapa yang tadi berada dipihakku mulai menganggukkan kepala. Jika terus diam aku yakin tidak ada lagi yang tersisa di dekatku. Mereka para Mentri yang tugasnya membantu raja membangun negara, bagaimana mungkin memiliki kemampuan bersilat lidah terlicik sejagad raya?
Aku mendengus, mereka sungguh menyebalkan. Hanya karena Swaillyn tidak memiliki latar belakang keluarga yang jelas, maka pernikahan dengannya tidak bisa seagung pernikahanku sebelumnya. Di titik ini aku merasa rumor hiparus tidak ada gunanya. Malam ritual akan selalu ada perkawinan. Aku tidak bisa bersama Meritites, ritual Isis akan membuatku menuh gelora, dan itu bisa membahayakan kandungannya. Jelas sekali tujuan mereka bisa membuatku menghabiskan malam dengan Mareskan.
"Lalu apa yang salah dengan Aera? hiparus bahkan telah menargetkannya sebelum dia menginjakkan kaki di tanah Cheops." Semua terdiam dan aku puas.
"Pernikahanku tetap akan berlangsung bersama dengan ritual."
Beberapa Mentri terlihat kesal, ingin kembali menolak. Namun, hingga napasku berhembus untuk kesekian kali suaranya tidak juga terdengar. Setidaknya mereka tahu, apapun pendapat mereka tidak akan mengubah keputusanku.
"Lalu bagaimana dengan nasab sucinya?"
Pertanyaan dari Set, kakak tertua Mareskan. Sejak tadi dia diam sembari meringis, rupanya dia menunggu waktu untuk menjatuhkan ku dalam sekali pukul. Sayangnya aku lebih unggul.
"Apa yang menjadi masalah dengan itu?" aku hanya ingin memancingnya. Rasanya menyenangkan membuat mereka berpikir nyaris menang padahal mereka bahkan tak mampu menanjak.
"Aku hanya merasa sayang jika malam ritual Isis terlewat begitu saja. Berkah berupa gelora yang meletup seperti sungai Nil yang meluap dan memberi kesuburan hanya akan ada dengan sebuah gelar dari nasab yang jelas."
Perkataannya seperti api yang mulai melebarkan asap. Bau hangusnya bahkan kini menyebar ke sayap kanan. Memang benar, dalam politik tidak ada yang namanya kawan.
"Tentu saja. Karena itu, sebagai Imona dia akan mendapat gelar Henutsen (istri raja)."
Aku menyeringai puas. Gelar yang nasabnya langsung dari raja akhirnya mendapat pemilik yang tepat.
***
Di salah satu kamar kuil Isis, Swaillyn duduk di atas sebuah ranjang batu, kepala ranjangnya dipahat sosok Hathor. Sedang di sekeliling ranjang dipenuhi hieroglif yang berhubungan dengan kesuburan, pernikahan dan keabadian.
Dia teringat percakapannya dengan Khufu, sesaat setelah Mnejeh meriasnya. Wajahnya bersemu malu. Ketika nyanyian dan mantra mulai memekik dari arah ruang pemujaan, jantung Swaillyn kembali berdegup kencang. Sejurus kemudian, Khufu diiringi oleh Imam Besar dan para pendeta kecil memasuki kamar.
Setelah lampion-lampion kecil menerangi seisi kamar, ritual pernikahan pun dilakukan dengan khidmat. Tetesan darah dari telapak tangan Khufu masuk ke dalam cawan berisi air suci. Juga darah dari Swaillyn yang sebenarnya adalah darah Khufu. Karena itu Air cawan menyala sebagai tanda Isis merestui mereka karena keseimbangan antara jiwa, alam dan semesta dapat menerangi Cheops dengan sempurna.
Imam besar masuk ke dalam mihrab yang berada tepat di depan ranjang. Para pendeta kecil tengah menari dan menyanyi bagai orang kesurupan sembari memeluk tiang dengan pahatan Osiris. Ketika Swaillyn tengah asyik memandangi ritual asing yang tampak menarik di matanya, Khufu menariknya dan menidurkannya di atas ranjang. Sorot matanya memancarkan g.a.i.r.a.h yang membara.
Swaillyn terperangah.
Tidak mungkin mereka akan melakukan malam pernikahan di sini 'kan?
Namun, senyum Khufu yang tampak aneh membuatnya bergidik di saat yang sama terpana. Hingga tanpa dia sadari wajah mereka kini saling menempel dengan bibir dikulum lembut. Swaillyn teringat malam terkutuk itu. Tetapi ini jelas berbeda. Walau sedikit canggung karena mereka tidak sendiri, Swaillyn terlena oleh kelembutan sentuhan Khufu.
Di titik ketika para pendeta kecil terus berontak seolah kehilangan akal. Sedang dari arah mihrab mantra imam besar semakin kuat. Semua lampion padam, dan hanya cahaya bulan yang kini menyirami tubuh polos mereka yang mulai tenggelam dalam gelora asmara.