Neitherland

Neitherland
Season II ~~~~Tamat~~~~



Ries masuk ke kamar rawat bersama Antonius. Mereka baru saja menyaksikan kremasi rekan-rekannya yang gugur melawan raja Iblis dan konco-konconya.


"Dia belum sadar?" tanya Ries yang hanya dijawab gelengan dari Cyma. Artis papan atas itu tampak menyedihkan. Di belakangnya Morat dalam kondisi yang sama dengan Aera; tidak sadarkan diri. Sedang Stego jauh lebih baik. Sekalipun tangan dan kakinya harus digips tapi dia tetap terjaga. Antonius membuka tirai yang memisahkan tiga pasien itu. Dari matanya yang sembab tampaknya pria tampan berkulit gelap itu barusan menangis.


Siapapun menganggap kesedihan Stego hal yang wajar. Dua temannya wafat; Yuuko dan Moana. Terlebih Stego merasa Moana melindunginya yang tidak mampu menghindar karena cidera, dengan membiarkan tubuhnya menerima tusukan dari musuh. Maka dirinya adalah salah satu sebab kematian Moana.


"Tidak apa-apa," Antonius mencoba menghibur. "Begitulah tim. Sebagai sesama teman kita saling melindungi."


Ries mengangguk setuju. Sejak melihat rekannya tewas Antonius mendadak jadi lebih normal. "Jika kau yang berada di posisi Moana, bukankah kau pun akan melakukan hal yang sama?" Rias bertanya datar. Dalam logika dia memaklumi tingkah Moana. Namun, dalam hatinya dia sungguh mengutuknya dan dia tahu Stego tidak bisa disalahkan.


Stego melirik Ries. Dia paling tahu perasaan yang coba disembunyikan oleh gadis cantik itu karena dia pun begitu.


"Maaf," bisiknya yang tidak didengarkan oleh siapapun selain dirinya sendiri.


Stego memejam dadanya kembali sesak. Bayangan Joylim melintas dalam benaknya. Kenangan ketika mereka masih kecil silih berganti dengan berbagai pertengkaran dan kenangan manis. Ah, Stego menghela napas. Sebutir bening kembali mengalir, wanita keras kepala itu telah tiada bahkan sebelum dia sempat mengutarakan perasaannya.


***


Seminggu Kemudian.


Aera dan Cyma saling menyender menatap ombak yang saling berkejaran. Di belakang, Gian dan rekannya yang lain pun sama, kesedihan tampak jelas menaungi wajah mereka. Semua berdiri menghadap laut dengan seragam hitam. Menghantar abu kremasi Morat yang pergi setelah dirawat beberapa hari.


Stego yang duluan berbalik, memutar kursi rodanya sembari berteriak. Melepaskan beban di dadanya yang semakin berat.


10 jam yang lalu ...


Aera yang tengah bertugas menjaga Morat, terbangun dari tidurnya. Memori yang sempat terlupakan, seketika muncul kepermukaan. Sembari tersedu Aera memeluk Morat yang masih dalam kondisi koma.


Dia akhirnya mengingat tujuan pemrograman AI Keri dahulu adalah memusnahkan Roschiil. Sebuah perintah mutlak yang menjadi tujuan sesosok Keri dengan coding "Endgame" solusi "Program sukses\=endprogram." Sebuah perintah untuk menghapus dirinya sebagai AI. Hingga tidak satupun yang tersisa selain kenangan.


Sedangkan Aiwan, saat menyelamatkannya dari laboratorium Prof Elshine, sebuah janji mengikatnya dengan kekuatan The Art. Janji untuk dapat membantu mewujudkan misi Keri yang mendapat imbalan; membawanya menuju waktu--di mana orang yang sangat dia cintai hidup hingga mereka dapat bersama.


Sebuah perjanjian konyol menurut Aera. Dan, sesuatu yang dia pikir tidak masalah karena saat itu dia tidak peduli pada Aiwan. Dia hanya melihatnya sebagai kenangan dari sang Nenek, yang mungkin tidak masalah karena akan membuat orang yang dia cintai merasa bahagia. Namun, kini dia menyesalinya. Karena janji konyol itu dia kehilangan Aiwan.


Aera merasa kesal jika berpikir, mungkin di dimensi lain, makhluk itu telah berbahagia dengan wanita yang membuatnya murka. Wanita yang menghiasi sebagian besar memorinya ketika dulu dia membacanya.


"Morat, jangan khawatir, jika kau memang sudah tidak sanggup tidak masalah. Aku dan Cyma akan baik-baik saja. Kau tahu, kami telah melalui hal yang jauh lebih sulit. Fakta kepergianmu hanya akan membuat kami sedih beberapa hari. Tapi kami akan segera bangkit. Jadi jika lelah pergilah. Aku tidak akan menahanmu lagi."


Tepat ketika ucapan Aera berakhir bedside monitor berbunyi. Diagram yang tadinya bergerak naik turun perlahan menjadi lurus. Aera yang menyadari ucapannya termangu. Kepalanya berputar hendak mencari seseorang. Pandangannya bertemu dengan Cyma. Sahabatnya telah berlinang air mata.


***


Satu Tahun Kemudian


Di istana NU, Gian sibuk memeriksa berkas. Dua memilih menjadi seorang raja yang memegang kendali penuh atas NU dan berusaha sebaik mungkin menjaga hak para budak. Kondisi ekonomi yang rapuh membuatnya sulit menghapus sistem perbudakan karena ditolak oleh para bangsawan.


Pintu ruang kerjanya terbuka. Seorang wanita yang tengah hamil masuk diikuti pelayan yang membawa nampan. Gian mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Senyumnya terukir indah, dia lantas bangkit dari duduknya dan menyambut wanita yang tengah mengandung anaknya. Memeluknya dan memberi kecupan singkat.


"Waktunya camilan sayang," bisik wanitanya. Sebelah tangannya yang tampak seperti lengan normal membelai wajah Gian. Selain dokter dan mereka yang menyaksikan penderitaan wanita itu ketika lengannya dipotong oleh si Iblis, tidak akan ada yang tahu jika itu hanyalah lengan tiruan berbalut kulit sintetis.


Senyumnya mengembang ketika tubuhnya melayang, Gian menggendongnya tanpa menghiraukan beberapa pelayan yang masih sibuk mengatur camilan.


***


Seharusnya aku biarkan saja bisnisnya bangkrut, kenapa aku harus mengikuti keinginan gilanya?


Sejak tadi Aera tidak berhenti mengoceh dalam hati. Kadang dia mengutuk, kadang pula menyesali keputusannya menjadikan Cyma saudara serumah yang terus merusak harinya, sejurus kemudian dia mendesah panjang lalu berjanji melakukan kebodohan ini untuk kali terakhir. Hingga tanpa dia sadari, langkahnya telah tiba di sebuah restoran mewah yang berada di seberang gedung KF.


Tanpa repot membenahi riasannya. Aera mencari nomor meja dan melihat sosok pria yang tengah duduk menatap ke luar jendela.


"Gayanya seperti dalam drama," Aera mencibir. Dengan malas dia mendekat lalu menarik kursi yang ada di hadapan sang pria. "Sudah menunggu lama?" tanyanya sembari meletakkan bo-kongnya di atas kursi.


Sang pria berbalik. Pandangan mereka bertemu. Aera terpegun.


"Aku senang kau baik-baik saja," ucap pria itu mengabaikan pertanyaan Aera.


"Kenapa ...," pernyataan Aera terputus, dia seperti orang linglung. "Ooh, karena dia masih hidup? jadi jadi batu sialan itu membawamu ke sini?" Aera berusaha membuat suaranya sedatar mungkin. Pandangannya berusaha menatap ke segala arah. Dia tidak ingin perasannya terlihat jelas.


"Jadi kau ingat?" Aiwan tersenyum. "Saat pergi aku diberi dua pilihan kembali ketika kalian di pantai atau ke sini saat kau telah bangkit dan siap memulai hidup baru."


Kening Aera mengerut "Aku? Kau ke sini karena aku? bukan karena masa-lalumu?" tanya Aera tidak percaya.


Aiwan tersenyum, bibirnya bergerak mengucap sesuatu tetapi tertutup oleh suara musik dari seorang pria. Teriakan gitarnya yang jadul dan lagunya yang berasal dari puluhan tahun lalu membuat jawaban Aiwan teredam oleh alunan lagu cinta.


Then you smiled over your shoulder


For a minute, I was stone-cold sober


I pulled you closer to my chest


And you asked me to stay over


I said, I already told ya


I think that you should get some rest


I knew I loved you then


But you'd never know


'Cause I played it cool when I was scared of letting go


I know I needed you


But I never showed


But I wanna stay with you until we're grey and old


Just say you won't let go ...


***


Terima kasih udah baca Neitherland, readers tersayang!🥳 Terima kasih juga yang tiap kali baca gak pernah lupa ngasi tanda cinta 😍 Aera dan Aiwan doain kalian semua sehat dan bahagia.


Oh iya aku rilis cerita baru, judulnya Magic in Love. Romans Fantasi, Jangan lupa mampir yaa😍 makasi dan sampai jumpa ...! 🎉🙌❤️