
Roschiil mengerutkan ke dua alisnya. Ruangan pusat kendali dilengkapi dengan sensor identitas. Hanya beberapa orang yang bebas masuk, di luar dari itu akan ada dua prosedur yang berlaku. Pertama jika dalam ruangan terdeteksi penyusup maka alarm militer akan menyala dan pintu keluar otomatis terkunci, lalu asap dengan kandungan opium dosis tinggi pun mengepul; penyusup akan dilumpuhkan kurang dari semenit.
Adapun prosedur lainnya, jika sensor mengidentifikasi orang yang tidak masuk daftar diikuti orang yang terdaftar maka cahaya ruangan akan berubah menjadi biru, seperti empat hari yang lalu ketika Aera masuk bersama Roschiil. Namun kini, ruang pusat kendali itu terlihat normal. Mungkinkah Dalam waktu kurang dari dua puluh menit, sang penyusup berhasil merubah perintah reaksi sensor di saat yang sama merubah semua program serta mengobrak-abrik sistem keamanannya?
Sialan kemampuan sehebat itu harusnya menjadi milikku!
"Bukankah sistem kamera kita menggunakan hyper optik yang bisa mengurai struktur Quantum Stealth?" tanya Roschiil bingung. Logikanya mulai mengambil kendali. Tidak peduli penyusup adalah manusia ataupun AI seharusnya kamera pengintai bisa menangkap sosoknya terlepas sensor identitas telah dilumpuhkan atau belum.
Joylim mengangguk, "Itu menunjukkan dia memiliki teknologi yang lebih baik dibanding quantum stealth. Kemungkinan besar adalah hyper quantum room, aku pernah membacanya dalam drive pribada Aera. Dia tidak membuat proposal tapi sebelum datanya sulit diakses aku yakin dia telah melakukan penelitian tentang itu."
"Kau ingin katakan semua ini ulah Aera? apa kau tidak melihat siapa yang terbaring di meja operasi Ketty?"
"Maksud Joy, AI milik Aera," sela Omeldo yang langsung mendapat sorot bengis dari Roschiil.
"Jadi apa solusimu untuk bisa menangkap penyusup licik itu?" Sebuah kilatan buas mengerling dari mata sang Tuan.
"Aku punya saran, tetapi hasilnya seperti melempar dadu di meja kasino."
Roschiil menatap tajam Joylim, seolah berkata Dasar, bedabah! berani kau menawar padaku! Namun, sorot Roschiil seolah angin lalu bagi Joy, dia tetap bergeming menanti keputusan sang Tuan. Sepuluh detik kemudian Roschiil mengangkat suara.
"Apa taruhannya?"
"Ada banyak kemungkinan buruk juga peluang baik. Pertama jika dia adalah AI yang menggunakan bahan hyper quatum room untuk bisa ke sini, kita akan dengan mudah menangkap gelombang sinyal dan Jeremy bersiap melakukan serangan balik. Keuntungannya, kita bisa memiliki AI terbaik dan mungkin pula quantum tunnel."
"Tapi jika ternyata dia hanyalah berupa sekumpulan program yang bekerja berdasar perintah langsung dari Aera, dalam hal ini mereka terhubung dengan kode genetik yang mampu menafsirkan gelombang otaknya menjadi sebuah sistem dan AI itu sendiri, maka kita akan kehilangan semuanya."
"Semuanya?" ulang Roschiil seolah tak percaya.
"Ya, kehilangan Aera, dan istana karena kita harus pergi dari kejaran sang Mutan. Pasukan militer kita telah lumpuh. Jika gagal, kita hanya bisa mengungsi ke menara loki."
Joy menyebut Mension tua Roschiil yang kini menjadi tempat pengembangan senjata dan nuklir. Dia berjalan menuju ujung ruangan. Membuka akses dan menyingkap dindingnya. Tampak sebuah batu berukuran kecil; setengah dari ukuran bola pimpong. Aneka warna berpijar di sekitarnya. Sedang sekelingnya dibalut Palladium sedikit lebih besar dari ukuran batu. Di bawahnya tampak sebuah steker.
Joy mengarahkan tangannya di atas steker dan menatap Roschiil. Pria paruh baya itu tampak bingung. Kehilangan kesempatan merekrut Aera di sisinya susatu hal yang sulit. Ada alasan yang jauh lebih kuat sekedar meminta quantum tunnelnya dan memanfaatkan kecerdasannya. Namun, dia bukan jenis pria yang berlalu meninggalkan meja sebelum dadunya dilempar, tentu saja---egonya masih setinggi angkasa.
Roschiil mengangguk. Joy menatap Jeremy yang telah siap dengan alat tempurnya berupa AI yang di simpan dalam smartwatch. Dalam hitungan ke tiga, jari telunjuk Joy mencumbu steker dengan sekali tekan. Istana megah itu seketika diselimuti gelapnya malam.
***
Keri sedang menyalin semua program yang di anggap penting ketika akses ruangan terdengar dibuka. Dia segera menyembunyikan beberapa layar yang sedang menunjukkan proses loading file, dan mencari tempat aman. Selanjutnya dia hanya bisa mendesis ketika menyaksikan kemarahan Roschiil yang dianggap terlampau bodoh. Baginya tidak ada yang jauh lebih bodoh dibanding menyikapi kekalahan dengan menambah jumlah masalah.
Beberapa menit kemudian ke empat orang yang sebelumnya berhasil dia tipu, kembali dengan membawa bulir keringat di wajah dan leher. Percakapan mereka membuat dia ingin tergelak, tetapi kemudian dia menyadari bahaya yang akan Aera hadapi. Tepat setelah semua file berhasil disadur, Keri berpindah menuju ruang operasi.
Ngomongnya dengan volume gede, tapi berharap aku kejebak. Katanya aku sepotong besi tuna rungu. Keri bersungut-sungut.
Dia telah memindahkan sumber energi Ketty pada tubuhnya, dan bersiap melepaskan bidikan ke arah tiga dokter tepat ketika Joy hendak menekan steker arc reactor.
Baiklah, selagi menanti ekspresi kekecewaan mereka, mari kita berpetualang. Ke dua telapaknya diletakkan; menyelimuti kepala Aera, ujung jari-jarinya menekan setiap ujung saraf neuron yang ada di kepalanya. Jika dilihat posisi tangannya tampak mengikuti teknologi EEG, yang berperan sebagai helm elektroda untuk merekam aktifitas yang dikirimkan lewat gelombang otak.
Keri memejam, dia mulai merangkai transmisi sinaptik menjadi gelombang listrik yang bisa disalurkan lewat belitan kuantum. Kurang dari satu menit.
Kini, aktifitas otak Aera tengah berpetualang di alam kuantum yang maha besar nan luas. Aera bahkan bisa melihat alam kuantum yang tampak seperti langit malam. Menanti di terminal kuantum ketika sulur-sulur elektronik di alam kosmik tampak simpang siur dan nyaris bertabrakan. Sebelum akhirnya belitan kuantum yang dia kendarai menemukan jalur yang tepat dan membawanya melaju menuju dimensi lain.
Saat berangkat mengantarkan masyarakat Pare, tanpa sengaja Keri melihat sebuah dimensi dengan waktu yang jauh lebih cepat dibanding mereka. Memanfaatkan kondisi Aera tidak ada salahnya membawanya ke sana, mengintip sesuatu yang mungkin bisa dirubah agar menjadi lebih baik.
Aera menikmati perjalanan antar dimensi untuk kali pertamanya. Dahulu, ketika usianya menginjak enam tahun, dia memang pernah mencoba quantum tunnel-nya. Namun, dengan teknik BTP (Back to Port) berbeda dengan surat-suratnya yang langsung hanya menggunakan satu jalur. Saat itu Aera yang tidak yakin, buah karyanya benar berhasil, memilih cara aman.
Ketika itu tubuhnya benar dapat berpindah tempat ke sebuah masa, di mana kereta kuda menjadi kendaraan darat paling mewah. Namun hanya beberapa detik sebelum akhirnya dia kembali ke tempatnya semula. Sambil tersenyum Aera memperhatikan alam kuantum, beberapa titik yang tampak berpijar dengan warnah indah serupa bintang yang menyapanya dengan salam hangat.
Seketika sebuah ide menyambar otaknya. Aera teringat fenomena jalan tol ruang angkasa yang ramai diperbincangkan sejak abad ke 19. Namun, hingga kini tidak menemui titik terang benar tidaknya keberadaannya. Sebab tidak satupun astronaut yang pernah menemukan. Aera menyimpulkan ruang kuantum itulah jalan tolnya dengan quantum tunnel sebagai kendaraan, dan belitan kuantum sebagai alternatif lainnya.
***
Roschiil langsung kembali menekan steker, ketika waktu telah bergulir lebih dari lima menit, tetapi tidak tampak usaha apapun untuk bisa menyalakan listrik. Untuk kali pertama pula Joy tampak khawatir, wajahnya pucat pasi. Dia mungkin tidak menyangka, di antara hipotesisnya tidak satupun yang sesuai fakta. Bahkan anehnya denyut jantung Aera terlihat normal.
Belum sempat Roschiil menuangkan kekesalannya, karena semua programnya harus kembali di instal bahkan beberapa direset ulang. Tiba-tiba monitor yang berada di ruang operasi menunjukkan garis lurus. Semua pandangan kembali terfokus, Jeremy beranjak dari tempatnya dan mengatur layar agar lebih besar. Tiga dokter yang membantu terbaring di lantai, entah hidup atau mati. AI Ketty yang cerdas hanya tinggal potongan besi berparas cantik.
"Kita harus segera pergi," tutur Roschiil ketika melihat Aiwan mulai menghancurkan seisi ruangan.