Neitherland

Neitherland
46: Menjadi Pemburu



"Lewat koridor sebelah kanan. Jika tetap lurus kau akan berhadapan langsung dengan tiga prajurit." Aera bersegera melangkah ke lorong yang dimaksud. Dia tahu, baginya lebih mudah menyerang dari belakang dibanding lansung dari depan.


Benar kata Keri ada tiga prajurit yang berjaga, mereka siaga menelusuri koridor istana. Satu orang tampak tertinggal dari yang lain, Kepalanya sedikit menekuk. Ah, dia pasti sedang berselancar. Momen yang tepat untuk menyerang. Aera mengamati seragam sang Prajurit. Hanya Seragam hitam biasa. Lalu dia menarik keluar kacamata--yang diambil dari kurungan mewahnya.


Fungsi kacamata segera aktif dengan menampilkan sebuah layar hologram. Muncul sebuah pilihan.


Tetap menggunakan kacamata secara menual atau memindai lensa optik lewat kode genetik.


Aera menyeringai, ternyata kacamata ini menggunakan teknologi paling mutakhir. Di pilihnya pemindaian lensa, AI berupa kacamata itu pun segera membuka big data dan menyamakan kode genetik Aera. Sedikit sulit karena Aera telah menyembunyikan datanya. Dengan terburu Aera membuka blokir cloud data sebelum kembali menguncinya. Kini kacamata itu bisa dilepas, sedang fungsi AI nya berpindah pada lensa optiknya. Luar biasa.


"Kenapa kau sangat lambat, mereka nyaris meninggalkan koridor dan berbelok arah," protes Keri terdengar ketika Aera sibuk mengalih fungsikan AI kacamata jarahannya ke matanya sendiri.


Aera mendengus, "Udah pesek cerewet pula! Sabar bentar!" Kini dia menyeret layar hologram yang muncul di hadapannya tanpa bantuan kacamata. Sempurna! Dia menyeringai puas, lalu mengatur beberapa fungsi di antaranya sinar X-ray. Kepalanya menyembul dari balik dinding. Kembali mengintai pergerakan mereka. Belakang seorang prajurit yang masih tertinggal berapa meter dari temannya terlihat tembus pandang.


Ternyata dia menggunakan dalaman berserat pohon army berpadu dengan teknologi nano anti peluru. Baju yang cukup melindungi organ vitalnya dari tembakan. Aera mengumpat ternyata menyerang mereka tidak mudah. Mungkin ini sejenis karma karena tadi dia meremehkan Gian yang hanya disuru menjaga dirinya, dan dituntun ke tempat yang aman.


Pandangannya tertuju pada leher yang tidak terlindung. Aera segera menyusun strategi, menarik napas dan menghembuskan perlahan.


Zeal! Aera berlari cepat. Sepatunya telah dilapisi karet yang mampu meredam suara ketukan antar lantai dan bisa membuatnya melayang di dinding. Dalam hitungan ke tiga dia menaiki dinding tepat di samping sang prajurit yang berniat menengok ke samping. Aera merangkul lehernya dengan kedua kaki untuk bisa menjatuhkan tubuh si Prajurit yang jauh lebih tinggi dan kekar di banding tubuhnya.


Bruukk!


Mereka terjatuh dengan posisi sang prajurit tengkurap; mencium lantai. Sedang Aera duduk tegap di atas pundaknya--ke dua tangannya telah bertengger di kepala. Sebelum si Prajurit menyadari apa yang terjadi, dengan sekuat tenaga Aera memutar kepalanya.


Kraaakkk!


Satu prajurit telah gugur di tangan Aera. Dia mengembus nafas gusar bercampur marah. Marah karena harus membunuh nyawa tak bersalah. Namun, dengan keberpihakannya kepada Roschiil bukankah cukup menjadikannya daftar orang layak mati? Aera mencoba menghibur dirinya yang seketika diliputi rasa bersalah.


"Apa yang kau lakukan, bodoh! mereka akan menemukanmu mematung di situ!" Keri menyadarkan Aera yang segera menatap ujung koridor. lewat fungsi X-ray dia bisa melihat ke dua orang yang tadinya berjalan ke arah timur kini berbalik dan memutar arah. Mungkin bunyi jatuhnya tadi terdengar oleh mereka.


Aera mengabaikan umpatan Keri. Menarik pistol yang telah dipasangi peredam suara, lalu mengacungkannya ke udara. Dia bisa melihat jarak ke duanya sangat dekat. kurang dari tiga langkah mereka akan sampai di simpang koridor. Salah seorang di antaranya menggunakan topi, sedang yang berada di sebelah kiri membiarkan kepalanya tanpa menutup apapun.


slaap ...,


slaap ....


Ke duanya terkapar dengan luka tembak di pelipis kanan dan jidadnya.


Aera berjalan menuju korbannya. Menutup matanya dan memberi hormat. Jika saja dia memiliki kemampuan hebat seperti Aiwan, dia pasti memilih melumpuhkan mereka tanpa melenyapkan nyawanya. Namun, dia tahu sebatas apa kapasitasnya, jika tidak membunuh maka dialah yang akan dibunuh.


Dengan bimbingan Keri, Aera berhasil melumpuhkan nyaris tiga puluh prajurit. Kini tenaganya nyaris hilang tak bersisa. Jika hitungan Keri tepat. Masih ada 54 prajurit yang tersisa terbagi kurang lebih 23 kelompok atau mungkin lebih sedikit dari itu. Satu hal yang pasti adalah fakta, dia masih harus bertarung lebih dari sepuluh kali dan itu cukup untuk membunuhnya.


"Lima puluh kilometer dari sini ada empat orang yang sedang santai di ujung koridor sebelah kiri," jelas Keri ketika Aera sedang sibuk menarik napas berharap oksigen yang masuk berubah menjadi sesendok daging domba yang lezat.


"Cari yang terdekat dengan jumlah yang lebih sedikit." suara Aera terdengar lemah. Dia sungguh lelah. Segelas elektrolit dan sepotong steak mungkin bisa menjadi bahan bakar yang memicu kembalinya semangat dan energinya yang kini kandas dan digadang tak lama lagi karam.


"Ada apa denganmu? Kau tidak terluka 'kan? Aku melihat banyak darah di pakaianmu, apa kau benar terluka?"


Dasar AI Aera meringis mencari kamera. Dilihat dari konteksnya harusnya Keri sedang khawatir dan bersikap perhatian padanya. Namun, dari suaranya--alih-alih khawatir Keri lebih terdengar dingin dan acuh. Kalimatnya tetap teratur; dia tetap sejenis mesin tanpa perasaan. Ternyata Keri yang dibagi seperti ini tidak memiliki emosi layaknya Keri si Pesek yang pandai mencela.


"Lambungku yang terluka. Kini ototku nyaris mati. Kau bisa memberiku makanan?" Aera mencoba bercanda, tetapi jika benar Keri bisa memberikan permintaannya itu lebih baik.


"Apa sekarang kau menyamakanku dengan jin yang keluar dari dalam cerek? atau dengan seorang malaikat berjanggut putih? Baiklah, Bantuanmu akan segera datang."


Aera ingin tertawa, mendengar ucapan Keri. Dia seperti membaca dialog tanpa intonasi yang tepat. Semua terasa flat. Setelah dua menit berlalu bersandar dengan kaki terjulur pasrah. Aera kembali bangkit. Dia menanti informasi lokasi prajurit dengan jumlah yang lebih sedikit. Namun, sejak tadi Keri memilih bisu walau dipanggil berkali-kali.


Ya, sudah. Tidak ada salahnya mencoba menaklukkan jumlah prajurit yang hanya bertambah satu. Pikirnya pada akhirnya. Sedangkan di atas sana rembulan telah merangkak jauh ke atas. Sebentar lagi purnama berada di titik *******. Aera, melakukan gerakan stretching. Menjarah pistol para prajurit yang telah menggantikannya menjadi Entruscana. Berlari menuju lokasi yang Keri sebutkan.


Sebelum Aera tiba di ujung koridor dan berniat mengintai kondisi di sana. Tiba-tiba sebuah ujung senapan menempel tepat di belakang kepalanya.


"Lapaskan senjatamu!" Suara berat itu menghardik.