Neitherland

Neitherland
27 : Profesi Ganda



"Jangan takut, dia adalah teman kami. Bentuknya memang agak aneh tapi baik hati dan tidak berbahaya," jelas Gian saat melihat keraguan Rofiq memegang tangan Keri.


"Ayolah kawan, bentukku ini justru menawan." Keri mendengus. Dia sungguh kesal mendengar ucapan Gian yang menyebutnya aneh.


Setelah Rofiq menggenggam tangan Keri yang berbulu, dalam sekejap mereka berada di pusat pemukiman. Daerah tengah, berada di dekat pohon mangga. Diameternya lebih dari dua meter. Lengan-lengan pohon yang panjang dan lebat menjadi kanopi alami di sekitar pohon. Melindungi dari panas dan hujan. Sebab itu pula daerah ini menjadi tempat berkumpulnya warga Pare di waktu makan.


Melihat ke lima pemuda Pare berhasil kembali bersama Gian, warga berkumpul mengucap syukur. Dua pemuda yang terluka mendapat perawatan langsung dari Keri. Seketika dia berubah menjadi dokter ahli bedah terhebat sepanjang sejarah.


"Jangan melamun, sebaiknya kau awasi ke dua bocah itu. Sebentar lagi mereka siuman, jaga orang tua mereka agar tidak memberikan apapun sebelum anginnya berhasil keluar."


Gian mengembuskan nafas--pelan--panjang, tetapi mengangguk lesu sembari berdiri.


"Ada apa denganmu? ekspresimu seolah menunjukkan sebentar lagi para alien itu akan berhasil tiba di sini dan menginvasi warga dengan satu tembakan lasernya."


Gian tersenyum kecut, lalu menggeleng. "Kau harus tahu, ucapan itu adalah doa ...," ucapannya dijeda dengan alis mengerut sempurna. "Aku hanya merasa ... terlalu tidak berguna. Aera yang seorang wanita saja bisa bertempur. Padahal seumur hidupnya terkurung di dalam LAB. Dengan tubuh yang lembut dan lemah, dia bisa menggunakan senjata, bahkan seni bela dirinya jauh di atasku."


Saat pertama di Pare dan memulai rencana melawan Roschiil, Gian merasa berada di level yang sama dengan Aera. Mereka sama-sama berasal dari Neitherland yang memanjakan hidup dengan semua teknologinya. Sama-sama memiliki fisik yang lemah karena terkurung di satu tempat dan tidak menyukai olah raga. Karena semua kesamaan itu mereka selalu berkompetisi dalam latihan fisik selama tiga Minggu di Pare.


Pagi mereka berlari di tepi pantai, melatih otot kaki dan pernapasan yang pendeknya tidak melebihi tingginya Keri. Saat pulang mereka bolak-balik naik-turun gunung. Bahkan saat hendak beristirahat di rumah pohon, mereka tidak menggunakan tangga yang terjulur hingga ke tanah. Namun, menggunakan sehelai tali gunung untuk melatih otot tangan.


Hasilnya, Aera maju sepesat kilat. Sedangkan dia tertinggal jauh di belakang. Gian merasa tidak ada bedanya dengan dia yang berstatus pangeran Neitherland. Pangeran yang hanya bisa bersenang-senang di antara istana dan klub malam, demi melengahkan pengawasan Roschiil. Kehidupan yang memuakkan di tengah desakan harapan ribuan rakyat yang tertindas.


"Apa sekarang kau merasa seperti pecundang?"


Gian membeliak, lalu tergagap. Dia terlalu bingung harus bereaksi seperti apa. Di waktu yang sama dia merasa harga dirinya hancur sebagai calon putra mahkota. Heh, pecundang.


Ucapan Keri memang vulgar, sialnya Gian tahu benar itu bukan omong kosong belaka.


"Jangan khawatir, Aiwan dan Aera juga pernah merasa seperti itu. Kau yang sekarang itu sangat manusiawi. Aku tahu semua anggota keluarga kerajaan diharamkan menggunakan teknologi CRISPR-CAS 10 dan kau harus ingat, Aera berasal dari tabung teknologi yang hanya butuh polesan kecil dapat berubah menjadi mutan hebat.


Aku bahkan yakin jika tubuhnya dipermak sedikit saja, telapaknya telah mampu mengeluarkan listrik. Kau akan memiliki banyak waktu dan banyak hal untuk diselesaikan di kemudian hari. Memang tidak sekarang. Tapi peranmu akan sangat penting di masa depan."


Rupanya si Pesek bermulut pedas ini tahu caranya menghibur. Gian membatin.


"Daripada pikiranmu dihantui hal negatif, sebaiknya kau segera keluar. Setidaknya kau harus menjamin tidak ada komplikasi yang terjadi pasca operasi."


"Ya, ya, yaa ... baytheway Keri, terima kasih. Ucapanmu menghibur." Gian keluar dari mantel.


Kurang dari lima menit dia kembali masuk, "Mereka mengerti dan bilang akan berteriak jika mereka sudah buang angin," lapor Gian tanpa ditanyai. Lalu membuat duduknya nyaman di dekat Keri.


Gian menatap AI pesek yang tampak mengabaikannya. Keri begitu fokus menghadapi sejumlah layar hologram yang ada di sekitarnya. Beberapa menit yang lalu dia menjelma dokter bedah terbaik. Kini dia kembali menjadi programmer jenius. Gian memperhatikan pekerjaan Keri dengan seksama seolah dia bisa melakukannya jika nanti Keri lelah.


Sebuah layar ditarik lebih dekat. Keri melebarkan layarnya menjadi seluas ruangan. Jari-jarinya panjang nan kurusnya kembali menari. Perlahan, sebuah kubah tipis tampak serupa sihir.


"Luar biasa! Apa ini gambar Pare? dan inilah Kubar pelindung yang Aiwan pasang?" Gian tampak antusias.


"Ya, kubah ini tidak hanya menyembunyikan keberadaan para penduduk beserta rumahnya. Tapi semua yang berada di balik kubah, di saat yang sama melindungi mereka dari serangan luar seperti rudal bahkan meteor jika saja bumi kembali mengalami masalah atmosfer parah."


"Keren ...," gumam Gian. Matanya berbinar. "Kau bahkan bisa melakukan semua ini tanpa satelit?"


"Kau hanya tidak tahu, puluhan tahun yang lalu ribuan satelit telah menjadi sampah di luar sana. Aku hanya memanfaatkan mereka Dangan mendaur ulang sistemnya. Ini hal yang mudah kau tidak perlu terkagum dan membuatku merasa terlalu cerdas."


Seolah bermain games, Keri mengunci kubah pelindung dan menarik semua ujungnya hingga menyentuh tanah. Ketika semua sisi kubah pelindung merekat di dasar tanah garis tipis serupa benang sutra berubah menjadi hijau melon. Kini kubah pelindung di langit pare persis seperti setengah lingkaran. Keri mengunci dan menjadikannya satu objek.


"Apa yang kau lakukan?" Saat melihat Keri menarik satu layar hologram yang sedang menunjukan proses hosting.


"Kau tentu tahu, di sini tidak lagi aman. Aiwan menyuruhku mencari lokasi yang aman untuk mereka tinggali."


Gian bisa mengerti jika Aiwan dan Keri bisa saling berkomunikasi lewat telepati. Ya, mereka terlihat seperti satu server. Apapun itu mereka bisa saling bertukar pesan tanpa seorangpun yang tahu. Namun, memindahkan satu masyarakat ke tempat lain bukan dengan pesawat atau kapal ketapi dengan teknologi komputer seolah dunia nyata telah diserap ke dalam dunia digital. Dan perpindahan hanya masalah perubahan algoritma dan sistem yang dikendalikan lewat teknologi komputer dan satelit. Apa itu mungkin?


"Tapi kau benar ini semudah bermain games," Keri menimpali dan membuat Gian terlonjak.


"Kau membaca pikiranku?"


"Ayolah pikiranmu yang terlalu ribut. Lain kali berpikir menggunakan hati, jika perdebatan terjadi di kepalamu, gelombangnya masuk ke dalam sinyal pesanku."


Gian mencibir. "Hati digunakan untuk merasakan bukan berpikir. Apa kau pikir aku bodoh?"


"Heh, sayangnya kau memang bodoh. Kenapa ada istilah suara hati, jika dia tidak bisa berpikir?"


Gian terdiam. Dia sedang berpikir, juga menahan emosi karena merasa dibodohi tetapi tidak bisa menimpali. Terlebih fakta mengenai, bertambah satu lagi makhluk yang memanggilnya bodoh selain Aera. Itu sungguh menyebalkan, meski dia tidak bersungguh-sungguh merasa kesal. Entahlah!


Keri kembali menarik layar hosting, lalu mengangguk. "Tidak diragukan lagi, aku memang makhluk tercerdas. Whahahaa ...." tawanya terpatah-patah seperti pemeran antagonis dalam serial "Pembunuh Berdarah Dingin."


"Hiram pernah bercerita padaku tentang teknologi kuno yang mengalahkan teknologi moderen Sekitar 3000 tahun lalu. Itu masa King Solomon. Sebuah istana istrinya yang letaknya beribu kilometer dipindahkan dalam hitungan detik. Pertanyaannya, apa kau akan melakukan hal yang sama?"


Tanpa memalingkan wajahnya dari layar, Keri mengangguk kemudian menggeleng. "Maksudku prinsip kerjanya memang sama. Tapi kau bisa katakan teknologiku jauh lebih maju dibanding pelayan King Solomon. Mereka hanya memindahkan istana dan seisinya. Tetapi aku memindahkan satu kota."


"Hhhmm, sepertinya desa," Gian mengoreksi.


Keri mengibaskan tangannya, sebelum kembali mendarat di beberapa titik layar hologram. "Ya, yang jelas sebuah peradaban. Dan juga, pelayan King Solomon memindahkan objek hanya antara kota. Tapi aku antar dimensi. Bukan salah satu planet di luar sana. Tapi dibelahan bumi dari dimensi lain yang titik frekuensinya bersinggungan dengan frekuensi waktu saat ini, ya, tentunya dengan berbagai kemungkinan perbedaan variabel. Jika bukan aku pasti akan gagal."


Gian tidak bisa menahan kekagumannya, tanpa sengaja dia bergumam, "Wow!"


"Ya, aku tahu. Aku memang hebat. Kau tidak perlu mengatakannya."


Gian mencebik, kesombongan Keri terasa menyebalkan, "Kau menggunakan belitan kuantum? setahuku itu hanya bisa mengirim suara atau potret seseorang dalam bentuk digital."


"Ayolah, kau terlalu kuno. Ini tahun berapa? awal ditemukan belitan kuantum memang hanya bisa memindahkan gelombang suara. Namun, sekitar 53 atau 54 tahun lalu ilmuan Fermilab di Batavia, Amerika Serikat telah berhasil mengembangkan teleportasi belitan kuantum pada mikroorganisme. Mereka mengirimkan satu virus mematikan dari satu kota ke kota lain. Dari satu negara ke negara lain, dengan cara teleportasi. Dan, bam! terjadilah pandemi selama hampir empat tahun.


Sepertinya sekarang teknologi itu masih disimpan oleh Roschiil. Kau bisa mengatakan belitan kuantumku sebagai kemajuan teknologi generasi ke tiga."


Giang mengangguk, "Berarti kau bisa kembali ke masa lalu?"


"Tentu saja!"


"Kalau begitu kenapa kau tidak mengajak Aiwan kembali ke masa di mana Roschiil masih bayi dan membunuhnya. Tanpanya mungkin dunia akan lebih baik."


"Itu ide yang tidak buruk. Akan aku pikirkan ketika Aiwan dan Aera bisa selamat dari serangan musuh."


"Apa? maksudmu mereka mungkin akan kalah?" atau mati!