Neitherland

Neitherland
32: Lalat Hijau



"Pasti kabar penyerangan militer Neitherland di pulau Pare telah terdengar oleh Roschiil. Kita harus waspada, selama aku di LAB, perhatikan anti drone. Mereka bisa saja mengirim kamera atau bom ke sini dan memporak-porandakan mansion ini," pesan Ries. Di akhir kalimatnya dia memajang cengiran khasnya.


Moana mengangguk patuh.


"Kalian bisa melakukan apapun di sini, tidak perlu sungkan anggap saja rumah sendiri. Oh, ya, karena alasan keamanan aku tidak mempekerjakan pelayan. Jika kalian lapar, di kulkas banyak bahan mentah, di lemari juga banyak makanan kaleng, bisa langsung di panasi dan disantap. Bay the way, siapa yang akan mengantarku ke LAB?"


Aera mengangkat tangan


"Wah, luar biasa! sangat menyenangkan kalau begitu!" seru Ries hendak mendekati Aera.


"Eiits, aku mengangkat tangan karena ingin bertanya, yang mengantarmu dia." Aera menunjuk Aiwan dengan dagunya. "Di mana aku bisa berendam dan melakukan perawatan kulit?"


Ries menyengir lebar, "Nona bisa langsung ke lantai dua. Masuk saja ke dalam ruangan spa, semua yang Nona butuhkan ada di sana," ungkapnya sambil mengedip.


Aera membalas kedipan Ries, dan langsung berlari ke lantai dua.


**


Dalam diam Moana mengamati anti drone, beberapa titik merah berkedip tampak mendekat. Namun, jaraknya masih jauh untuk bisa dilumpuhkan. Sedang layar di sebelahnya menampilkan ribuan drone. Dia telah berhasil menandai drone pemerintah yang setiap harinya memang bertugas sebagai penjaga keamanan Neitherland.


Moana melirik ke arah dapur, suara musik yang entah berasal dari mana mengganggu konsentrasinya. Dia memutuskan bangkit, berjalan keluar ruangan.


"Mau ke mana kau?" tanya sebuah suara yang Moana tidak yakin milik seseorang bernama Aiwan atau Gian yang juga sang Pangeran buron kerajaan Neitherland.


Moana mengangkat IPAD-nya seolah tamu Ries mengerti, hanya dengan menunjukkan gambar anti drone yang tengah bekerja, membuat mereka memahami tujuannya keluar: untuk mengecek objek yang sinyalnya terasa kuat tetapi wujudnya tidak terlihat jelas. Merasa tidak ada tanggapan, dan melihat ke dua pria itu justru sibuk dengan urusannya masing-masing, Moana memilih melanjutkan langkahnya; keluar ruangan.


Dia mengunci semua gelombang sinyal yang ternyata berasal dari sebelas unit berbeda. Moana bingung harus takut atau merasa lega. Satu yang pasti, dia harus mengirimkan laporan ini kepada Ries untuk bisa diperiksa detilnya. Namun, sebelum dia melaporkannya, satu unit drone yang tidak tampak itu coba dia lumpuhkan.


Titik merah di layar berhenti berkedip. Perlahan gelombang sinyalnya mulai memudar. Lalu hilang dari layar, titik koordinatnya menunjukkan letak sang objek yang kini berubah menjadi sampah terjatuh di halaman selatan mansion. Sambil berjalan menuju lokasi, Moana kembali melumpuhkan dua unit sekaligus.


Tepat saat langkahnya berada di dekat sebuah serangga kecil serupa lalat. Status konfigurasi peretasan sistem drone yang kurang dari 10 persen terhenti.


Bommm!


Boommmm!


Bunyi ledakan yang menggetarkan dinding kaca mansion tuannya pun terdengar.


Sialan! Moana mengumpat dirinya sendiri yang terlalu lama menyadari bahaya. Setelah berhasil mengantongi drone kecil berbentuk lalat hijau; nyaris tidak ada bedanya. Jika titik koordinatnya tidak menunjukkan letak akurat, Moana pasti telah tertipu dan berpikir itu hanyalah lalat kotoran yang tersesat karena lupa buka GPS.


Prajurit yang sampai detik ini belum pernah membuka suaranya barang sekali, di antara tamu Ries itu segera berlari menuju arah ledakan. Dari halaman samping dia bisa melihat serpihan kaca yang kini bertebaran di segala arah. Namun, langkahnya seketika terhenti ketika ia melihat beberapa percikan api di sekitar halaman tanpa ledakan.


Awalnya kumpulan gas biru itu berkumpul serupa nebula, berotasi hingga pijar kembang api memercik tanpa bunyi ledakan. Lalu semua perlahan menghilang seolah ditelah udara tanpa warna.


Apa itu .... Moana membatin. Dia mendekati sumber serpihan kaca, dan mengembuskan napas frustasi ketika melihat sebagian dinding mansion, kini tampak lenggang tanpa batasan apapun. Pandangannya menyisir ke dalam ruangan, meja dan kemari hias kini tersisa puing-puingnya saja.


Tepat di depan meja makan dia melihat sang mutan yang sebelumnya pernah diceritakan oleh Ries. Ke dua tangannya mengambang di udara, dan kini perlahan turun seiring menghilangnya fenomena nebula di sekitar taman.


**


Aera merangkak dari bawah meja makan. Wajahnya kesal bukan kepalang melihat sejumlah goresan kaca yang menghiasi kaki dan pundaknya.


"Heh, yang benar saja! aku baru melakukan perawatan dan sekarang terluka lagi!" gumam Aera dengan wajah geram.


"Dari mana saja kau?"


Atensi Aera teralihkan ketika mendengar Gian bertanya dengan suara dingin.


"Bukankah sejak tadi kau keluar, dan sekarang, setelah semua bom itu dimusnahkan kau datang. Apa Ries yang menyuruhmu melakukan itu?"


Aera berbalik menatap arah pandang Gian. Dia melihat tatapan Moana yang tampak kesal dan tajam, seolah lewat matanya yang sipit dia bisa mengebiri Gian yang telah melayangkan tuduhan tak berdasar. Aera menghela napas panjang. Dia belum tahu ini ulah siapa. Namun, dia sangat yakin bukan Ries atau Moana.


Tanpa mengalihkan pandangannya dari Gian, Moana mengangkat smartwatch-nya. Layar hologram yang menampilkan sosok Ries tanpa basa-basi mengeluarkan ultimatum.


"Segera tinggalkan mansion itu, menuju titik koordinat yang aku berikan pada Moana. Saat tiba di sana akan aku jelaskan pada kalian. Sekarang juga dan jangan meninggalkan jejak."


Layar mati, Ries menghilang. Aera mengangguk pada Aiwan. "Di mana titik koordinatnya?" tanyanya pada Moana.


Aera menatap Moana, prajurit berparas cantik itu bergeming. "Maafkan teman kami yang tidak tahu terima kasih. Dia kurang cerdas jadi bisa mengatakan hal omong kosong yang menyebalkan. Jika kau tidak berniat mencelakai kami, maka berikan titik koordinatnya sekarang juga."


**


Aera menatap keseliling ruangan. Dia teringat apartemennya yang kabarnya entah bagaimana. Di hadapannya Ries dan Moana duduk menatap mereka, silih berganti.


Ries berdehem panjang. "Kalian tahu, Neitherland sangat kacau. Perang saudara meletus diberbagai daerah. Kebanyakan para budak yang menjadi korbannya. Kabar raja dan ratu juga tidak seorang pun yang tahu, ya, tentunya selain Roschiil. Beberapa Mentri di tahan dan kekayaannya dilucuti. Para buruh yang kemaren beraksi kini sadar mereka hanya diperbudak untuk melakukan hal keji.


Tapi aku pikir kalian bisa mencari tahu semua itu sendiri. Yang ingin aku katakan pangeran Epraim dalang dibalik serangan di mansion Charlie. Maaf, sebenarnya aku telah memperkirakan hal ini. Tapi aku tidak yakin hingga berani mengambil resiko, dengan sengaja menempatkan kalian di sana."


"Sialan! Jadi kau sengaja menjadikan kami sebagai umpan?" Gian kembali tersulut.


Ries tersentak, dia menyengir aneh. Tangannya terangkat mencoba menenangkan emosi Gian. "Maaf, aku terlalu percaya diri pada anti drone yang aku ciptakan, tapi lupa Moana adalah prajurit militer di bidang tempur bukan di bidang IT. Karena kesalahanku kalian dalam bahaya, aku sungguh menyesal."


"Tidak masalah," celetuk Aera yang membuat Aiwan dan Gian serempak menatapnya. Aera mengangkat wajahnya yang sejak tadi ditekuk. "Tapi, apa kau tahu acaran Pangeran Epraim melakukannya? Tidak mungkin karena dia tahu kami di sana bukan?"


"Ya, anda benar Nona. Dia melakukan itu karena berpikir Charlie bersembunyi di sana."


"Charlie? siapa dia?" tanya Aiwan.


"Kalian ingat wajahku saat di Pare? topeng itu aku desain mengikuti wajah Charlie, salah satu jendral tertinggi AU Neitherland. Dia Senior sekaligus tuan Moana."


Tidak ada ekspresi aneh dan cengiran konyol yang biasa Ries pertontonkan. Wajah Moana pun tampak lebih dingin dari sebelumnya. Aera berpikir, sosok Charlie pasti sangat luar biasa menyebalkan.