
Di Neitherland, hanya ada dua golongan yang bisa memiliki kendaraan pribadi. Keluarga kerajaan dan para mentri yang menjabat. Hanya yang menjabat. Istri dan anaknya tidak terhitung. Angkutan umum seperti kereta terbang, kereta listrik ataupun bus AI yang beroperasi tanpa sopir adalah fasilitas umum yang wajib menjadi pilihan. Jika ada yang mengendarai mobil pribadi bukan ke dua golongan tersebut dan tidak ditangkap oleh petugas keamanan. Bisa dipastikan, dia adalah orang suruhan Roschiil. Penguasa sejati Neitherland.
Sebuah mobil limousine berhenti di depan mansion mewah, yang dibangun dengan gaya arsitektur Inggris. Di depannya sebuah kolam ikan hias dengan miniatur Radcliffe Camera desain James Gibb menjadi daya tarik sekaligus identitas sang pemilik mansion. Limousine hitam memasuki halaman rumah dan berhenti tepat di depan pintu.
Ini kali pertama Morat mendatangi mansion mewah Mentri industri dan pangan Edward Strunt. Morat melangkah keluar mobil dan berjalan memasuki mansion.
“Di mana Edward?” tanyanya pada salah satu pelayan yang menggunakan seragam istana khas Inggris.
Wajah Peter, kepala sekertaris mansion menampakkan raut tak suka. Mendengar nama tuannya dipanggil tanpa embel-embel Mentri atau yang mulia.
“Ikuti saya,” ucapnya tanpa senyum.
Mereka berjalan melewati ruang utama, di mana potret Ratu Elizabeth II menghiasi permukaan dinding marmer biru tua, berdampingan dengan suaminya, Pangeran Philip. Lalu menaiki tangga berukir yang mengingatkan Morat pada istana Kensington, dalam film dokumenter sejarah keluarga kerajaan bangsa Inggris.
Edward berdiri dari kursinya untuk menjamunya ketika pintu ruangan dibuka. Thimotty sekertaris pribadinya mengekori tuanya, lalu berdiri tepat di samping kirinya. Tanpa sepata kata, Edmund, bodyguard yang dikirimkan Roschiil maju. Memberi hadiah berupa bogeman telak di perut Thimotty.
“Hei!” Kalimat selanjutnya tercekat di kerongkongan Edward saat melihat simbol yang terukir di bros kanan jas Edmund.
Simbol yang hanya dimiliki oleh penguasa Neitherland. Simbol yang juga menghiasi mata uang dolar yang dulunya menjadi primadona sebelum terganti dengan bitegolden.
“Itu adalah hadiah karena melakukan hal diluar izin tuan rumah,” tutur Morat dengan suara rendah.
“Aku mengejar pangeran sialan itu!”
Morat mengangkat tangannya, “Dalam buku hitam pasal satu ayat tiga, kepentingan tuan berada di atas kepentingan siapapun. Pasal lima ayat satu, tentang kepemilikan, semua ilmuan adalah milik tuan, tidak seorangpun yang dapat menyentuh tanpa restu sang pemilik.”
Sadarlah Edward ini tentang Aera.
Edmund kembali melayangkan bogemnya. Kali ini ke arah wajah. Seketika Thimotty terhuyung ke belakang, menabrak meja kecil sebelum akhirnya terkapar di lantai. Melengserkan lampu hias yang berdiri manis di atasnya. Edward terperangah menahan amarah.
“Dan itu peringatan. Sebaiknya kaumulai mencari Aera dan memastikan dia baik-baik saja, kalau tidak ....” Morat menjeda ucapannya, dia maju mendekati Edward dan berbisik.
“Bukankah sebagai penerus tahta kau harus berada di istana Kensington? Hal itu bisa terjadi lebih cepat.” Ekspresi Edward seketika berubah tegang.
“Jika sebagai tamu yang diberi kekuasaan, kau bukannya bersyukur tapi malah tak tahu diuntung. Tuan sendiri yang akan memberimu pelajaran.”
Edward memucat.
Thimotty merintih, ternyata kesadarannya belum hilang. Morat hanya menatap Edward dan sekretarisnya yang malang dengar raut datar. Dia berbalik meninggalkan ruangan.
“Di mana para prajurit yang melakukan operasi ilegal kemarin?” tanyanya pada Edmund. Ketika berjalan meninggalkan Mansion Edward.
“Di rumah sakit Neitherland.”
“Telepon Anne minta dia menyiapkan hadiah. Kita harus membesuk mereka.”
**
Gian merasa menjadi orang yang paling tidak berguna. Untuk kali pertama dia membenci dirinya sendiri. Dadanya bergemuruh, jiwanya memberontak hingga batas kulminasi yang membuatnya lelah luar biasa.
“Bangs*t kau! Hentikan, kubilang hentikan sialan!” Suaranya bervibrasi di antara pepohonan raksasa yang menjulang di sekitar mereka.
Ke dua manusia yang lebih mirip hewan buas itu saling berinteraksi. Gian yang masih tengkurap di atas rumput karena diinjak si rambut panjang hanya bisa mengeram, ketika melihat Aera dijatuhkan ke tanah persis seperti hasil buruan. Si botak berjongkok. Tubuh Aera dibalik menghadap langit. Si botak menyengir buas, Gian menjadi was-was.
Kedua tangannya turun tepat di kerah baju Aera, Gian semakin memanas. Dicengkramnya kerah tersebut dan langsung ditarik paksa. Kancing-kancingnya pun beterbangan dan salah satunya mengenai Gian.
“Tidaaakkkk! Jangan menyentuhnya bangs****ttttt!!!” Burung-burung seolah mengejek Gian. Mereka bercuit dan beterbangan ke dahan yang lebih tinggi.
Air mata Gian mengalir saat melihat Aera yang entah sekedar pingsan atau telah mati, kini hanya menggunakan baju dalam. Dalam hati dia sungguh berharap Tuhan yang selama ini dia ingkari benar-benar ada dan menolongnya membunuh makhluk biadab yang ada di hadapannya.
“Kumohon lepaskan dia,” rintihnya seperti angin lalu.
Si Botak akhirnya menatapnya, lalu kembali berinteraksi dengan temannya. Tiba-tiba Gian merasa kaki yang menginjaknya menghilang entah ke mana. Tanpa berpikir panjang, dia merangkak mendekati Aera dan kembali menutupi leher hingga dada Aera dengan lembaran bajunya yang telah sobek. Di belakangnya suara tawa yang lebih mirip eraman srigala terdengar menyalak-nyalak.
**
“Di mana mereka?” tanya Aiwan saat tiba di tempat biasanya Aera mengirim surat. Gua itu terlalu hening untuk menampung dua orang yang jelas tidak saling akur.
“Sudah aku katakan, mereka pasti tersesat, waktunya terlalu lama. Tapi agak aneh jika mereka masih belum tiba setelah kau berhasil mengumpulkan semua foto neneknya.”
Aiwan ingin sekali menendang bokong Keri jika telah nyinyir seumpama akun gosip kerajaan.
“Buka saja layarnya. Lihat mereka di mana, peseeeekkk.” Sengaja Aiwan memanjangkan panggilannya. Selain karena gemas juga berharap bisa menyalurkan kekesalannya.
“Gawat, sepertinya Aera dalam bahaya. Layarnya tampak gelap hanya ketika dia memejam. Tidak mungkin mereka tidur, pasti hal buruk telah terjadi. Oh, Aeraku yang malang,” ucap Keri sambil berputar-putar membuat Aiwan bertambah pusing.
“Nyalakan GPS nya, pesek!”
“Harusnya profesor juga memodifikasi otakmu.” Kalimat sarkas Keri kembali terlontar. Aiwan yang mengerti dia sedang dikatakan bodoh hanya bisa bersabar dengan membuang napas secara berkala. “Sistem aktif jika Aera membuka mata. Jika tidak maka semua mati.”
“Kalau begitu aku akan mencari mereka.”
“OMG, Aiwan zeyank, sebelum kau menemukan mereka, monster Antartika lebih dulu menghabiskan mereka hingga lenyap tanpa sisa. Duduk aja, sambil berdoa, aku udah kirim beberapa kamera dan sinyal radio.” Keri mengotak-atik udara, membuat Aiwan gemas ingin menendangnya hingga ke awan. “Nah, ketemu!” serunya riang, dan Aiwan mengembus tenang.
**
Morat mengamati rekaman kamera pengawas yang ada di koridor apartemen Aera. Dia baru saja berbincang dengan para tentara yang dirawat setelah melawan sesosok makhluk, yang sebagian mengatakan sebagai robot perang tercanggih. Sebagian lagi mengatakan sebagai Aera, yang tengah menggunakan robot ciptaannya sendiri.
“Sebelumnya kami sudah memastikan, hanya pangeran Gian yang datang dan masuk ke sana tanpa keluar lagi hingga kami tiba,” ucap Ken saat Morat berkunjung ke rumah sakit. “Jadi aku sangat yakin, dia bukan manusia.”
Sekalipun meyakinkan, Morat tetap sangsi terhadap pengakuan yang menurutnya tidak mungkin. Aera bukan tipe orang yang menyukai perang atau hal-hal yang berbau kekerasan. Alih-alih membuat robot perang tercanggih dia pasti lebih tertarik menyempurnakan mesin waktunya yang masih belum stabil. Atau mungkin menemukan jalan tol menuju galaksi lain, untuk sekedar meminjam lapisan ozonnya agar meringankan beban kerja kubah langit, ketika badai matahari kembali menghampiri.
Ya, bagi Aera hal itu jauh lebih baik daripada membuat perisai yang bisa memantulkan energi dengan gaya seribu kali lebih besar, dan pasti menimbulkan cidera. Morat memijat pelipisnya ketika hasil rekaman yang disadurnya seperti apa yang Ken katakan. Dia yakin betul, Gian dan Aera tidak saling kenal. Pertemuan pertama mereka sebelum Gian menghadiri rapat, sialnya penyadap yang dipasang di mobil Gian justru rusak saat itu.
Morat memejam. Bayang Aera saat tersenyum padanya mengganggu ingatannya. Sekonyong-konyong, memori saat Aera tiba-tiba merengut mengetahui dia pamit dan tak bisa bermain lebih lama dengan mereka karena harus ke istana, membuatnya tergelitik.
“Jika ini bukan Neitherland, aku pasti akan memasukkanmu ke dalam daftar kandidat seleksi calon ayah dari anak-anakku,” ucapnya sarkas dengan gaya santai tetapi cukup membuat adrenalin Morat berpacu lebih sengit. Cyma yang saat itu sedang menyusun lego terlonjak dan meruntuhkan istana yang susah payah dia bangun.
Morat terperanjat, kenangannya lima tahun lalu sirna, saat pintu kamarnya di ketuk kasar. “Kak, boleh aku masuk?”
Morat menghela napas—berat, “Ya,” jawabnya singkat saat tahu itu pasti Cyma.