Neitherland

Neitherland
28 : Penakluk Coding



"Haih, kau sungguh cerewet. Ya, itu bisa saja terjadi. Tapi percaya saja pada Aiwan dia tahu bagaimana cara menyelamatkan dirinya."


Gian gelisah, dia tidak percaya omongan Keri. Bukankah dulu Aiwan tergeletak tidak sadarkan diri nyaris sebulan, karena menolong dia yang ingin dicelakai oleh sepupunya--Epraim. Namun, Gian pun tahu, Aiwan juga pernah selamat tanpa luka sedikit pun saat disergap di apartemen Aera.


"Berhasil!" Keri memekik bahagia, saat satu layar hologram menunjukkan selesainya program dengan sukses. "Sebenarnya, sampai beberapa saat yang lalu aku hanya bisa melakukan teleportasi dalam satu wilayah bumi. Jangankan antar dimensi keluar angkasa, bahkan ke bulan pun aku tidak bisa. Cahaya optikku hanya bisa membaca proton dalam bumi.


Ketika Aiwan menyuruh memindahkan mereka ke tempat yang aman dari buruan anjing Neitherland, barulah aku berhasil menemukan solusinya."


Keri bercerita terlalu santai seolah tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Sedangkan fokus Gian terpecah dalam kebingungan dan kekhawatiran.


"Kau tidak ingin tahu?" tanya Keri kemudian setelah merasa, Gian sibuk dengan pikirannya sendiri.


Gian terkejut, lalu mengangguk, "Solusi apa yang kau temukan untuk bisa meng-upgrade dirimu sendiri?" Jelas sekali Gian bertanya tanpa minat. Dia ingin mencela sikap Keri yang seolah tidak peduli, tetapi khawatir bisa menyakiti perasaan sang AI dan mengganggu konsentrasinya.


"Memanfaatkan quantum tunnel Aera." Keri menyeringai, "Quantum tunnel-nya adalah penemuan paling revolusioner."


Ke dua alis Gian berkerut--tidak mengerti. Tanpa dia sadari, atensinya kembali beralih pada Keri. Sepengetahuannya quantum tunnel itu berada di Antartika. Mungkinkah Keri berhasil masuk ke proxy server Aera yang bahkan proggramer Neitherland pun tidak bisa melakukannya.


Keri tampak mencari sesuatu, "Ini dia," ucapnya sembari menarik sebuah kantong. mengeluarkan selembar kain atau mungkin tisu. Menarik sebuah layar, dan menggunakan sinar optik untuk membentuk sebuah siluet. Semua proses itu tampak menakjubkan di mata Gian.


Keri perlahan mundur, memberi tempat pada kumpulan material alam yang perlahan membentuk sebuah gambar. Sejurus kemudian, kumpulan materi itu membentuk wajah Aera. Layar hologram berhasil memverifikasi. Rute control quantum tunnel Aera berada di layar hologram Keri.


"Berhasil," Seru Keri. "Sekarang kita hanya perlu mencari lokasi yang tepat lalu menyelamatkan Aiwan dan Aera."


"Kalau kita terlambat?"


"Itu bukan masalah. Bahkan jika mereka telah ditembak mati. Kita bisa menjelajah waktu dan menyelamatkan mereka tanpa terluka sedikitpun." Keri menanggapi dengan santai. Matanya awas menatap layar. Kini Gian bimbang, haruskah merasa lega atau terus gelisah.


Titik-titik merah itu berpendar di sebuah ruang hitam dan gelap, kurang dari lima detik titik itu seketika memaku--berubah menjadi biru. Keri mengetik beberapa angka lalu memasukkan beberapa coding, tanda loading muncul dan dengan cepat menghilang sebelum akhirnya menampakkan sebuah wilayah.


"Ini potret alam jauh sebelum Masehi mencium bumi," tutur Keri. "Ternyata mereka nantinya yang akan menjadi nenek moyang suku Bugis."


Gian berdiri, wajahnya mendekati layar, "Di mana ini?"


"Luwu. Jika kau pernah membaca sebuah epos yang panjang berusia kurang lebih 4000 tahun yang lalu, dengan judul La Galigo kau akan tahu maksudku."


"Masa dinasti Xia?"


"Binggo! dan sekarang kita berada di dimensi lain di masa itu," tutur Keri menyeringai.


***


Aera mulai lelah. Secepat apapun gerakannya sang robot bisa dengan mudah menangkis bahkan mengikutinya untuk kembali menyerang dengan cara yang sama.


"Tembak tepat di bagian matanya!" teriak Aiwan yang telah berhasil menghancurkan satu robot militer dengan sinar gamma yang memancar dari tangannya.


Aera terhuyung bahkan nyaris jatuh jika Aiwan tidak segera berteleportasi dan menangkap tubuhnya. Kepalan tangan sang Robot mendarat tepat di bahu kiri Aera. Serangan yang membuat ke dua tangannya kehilangan tenaga karena nyaris patah.


"Kau bisa bertahan?" Tanya Aiwan yang entah kapan telah berubah wujud menjadi manusia biasa. Kaca yang melindungi mata, dan lengan robotnya kembali normal.


"Apa yang terjadi? mereka baru berkurang satu kenapa kau telah berubah?"


"Tidak masalah, kita bisa berteleportasi."


"Apa maksudmu! kita harus melindungi masyarakat Pare!"


Kekesalan Aera tidak dihiraukan oleh Aiwan, saat itu juga mereka kembali berteleportasi jauh ke dalam lembah.


"Energiku berkurang drastis. kita bahkan tidak bisa kembali ke Antartika." Aiwan meremas kepalanya. Aera bisa merasakan kekhawatiran sang mutan tapi dia lebih mengkhawatirkan masyarakat Pare.


"Apa kita akan tertangkap, dan penduduk Pare dibiarkan menjadi budak?" gumam Aera datar. Sebenarnya dia merasa putus asa dengan kondisinya saat ini. Ke dua tangannya cidera. Senjatanya hanya tersisa dua, dan Aiwan. Mutan itu, jauh lebih mengkhawatirkan.


"Keri telah membawa mereka jauh dari masa saat ini. Mereka kembali ke masa ribuan tahun sebelum Masehi menggunakan quantum tunnel milikmu."


Aera membeliak, "Benarkah?"


Aiwan mengangguk. Gadis itu tersenyum manis, dia merasa lega di saat yang sama tidak percaya. Si Pesek itu bisa mengakses quantum tunnel-ku!


"Heh, dia bajingan kecil yang mengagumkan," gumam Aera.


Dia lantas tersadar pada satu hal. Matanya mengamati Aiwan. Dia teringat ke dua pemuda sebelumnya terluka. Padahal Aiwan memiliki medan palindung yang ampuh sekalipun untuk rudal. Lalu dia mengangguk seolah memahami situasi yang mereka hadapi saat ini bisa jadi sangat berbahaya. Tanpa Keri, kemampuan mengagumkan Aiwan tidak akan bisa digunakan. Sedangkan jumlah robot mileter tidak kurang dari dua puluh buah.


"Tidak bisa! Aera menjerit panik. Aku terluka. Dan kau tidak bisa menghadapi mereka dengan tangan kosong. Gunakan eagle dissertku. Masih ada delapan belas peluru di sana. Kau harus bisa menarik pelatuk saat ujungnya mendarat di depan matanya. Aku berharap delapan belas dari mereka berkurang."


Aiwan mengangguk, "Tapi aku harus memastikan mereka tidak akan bisa menemukanmu," tutur Aiwan sembari mengeluarkan mantelnya dan memberikan pada Aera.


"Karena sudah begini. Apa aku bisa tetap di dekatmu?"


Aiwan menggeleng, "Itu terlalu berbahaya."


"Bukannya jauh lebih bahaya meninggalkan aku di sini sendiri? Jika beberapa di antara mereka menerobos ke sini untuk mencariku di saat kau sibuk berkutat dengan robot sialan lainnya, itu akan menjadi hal menyebalkan."


Aiwan berpikir, "Sebenarnya melakukan teleportasi sudah cukup menguras energiku."


Kali ini Aera yang tampak berpikir. Dia jelas tidak ingin menunggu sendiri di tengah lembah kosong ini. Akan jauh lebih baik melihat Aiwan bertarung dan kalah daripada menunggunya sendiri tanpa tahu apa-apa.


"Aku sangat yakin, bukan hanya Keri yang bisa menambah daya energimu ...," sengaja ucapannya dijeda. Panjang.


Aiwan yang penasaran menatap Aera, dan saat itulah Aera mendekapnya lalu mendaratkan ke dua bibirnya yang mulai dingin tepat di bibir Aiwan. Mereka berteleportasi ke tempat semula. Tepat di hutan kelapa, yang permukaan tanahnya diselimuti kawanan ilalang. Dua puluh empat robot militer mengitari kawasan tersebut berjalan bingung mencari sosok mereka.