
Aera meremas laporan penyidikan kasus pembunuhan Leah. Sekalipun tidak pernah mengenyam pendidikan hukum, dia tahu ada yang salah dengan proses penyidikannya.
"Pada akhirnya mereka kembali mengorbankan orang yang tidak bersalah," keluh Agni dokter pribadi Ibrael yang selama ini memantau kesehatan sang Raja di Istana.
"Karena itu kita di sini. Mereka benar bertekad mengakhiri masa kekaisaran dan menggantinya secara menyeluruh dengan sistem komunis. Mungkin itu tidak buruk tetapi melihat kondisi saat ini jelas mereka hanya ingin kembali memperbudak banyak orang dan kita tidak bisa membiarkan itu. Ke dua sudah berapa banyak orang yang tidak tahu-menahu dijadikan tumbal sedangkan pelaku sebenarnya terus beraksi dan menikmati hasil? bukankah mereka terlalu brengsek untuk mengambil alih kepemimpinan? Mari kita hancurkan para penjilat yang hanya bisa menyuruh orang lain membersihkan kotorannya sendiri. Tunjukkan pada mereka arti pemimpin yang sesungguhnya."
Sesaat Aera terpukau. Sosok pangeran Gila menyebalkan semalam menghilang berganti dengan seorang pangeran yang menawan. Mungkinkah dia memiliki kepribadian ganda?
"Ya, kali ini mereka sangat keterlaluan. Raja NU juga seharusnya ada di sini, sayangnya kita belum tahu siapa saja musuh yang ditempatkan didekatnya." Seorang pemimpin penjaga keamanan istana menggerutu. Topinya dibuka dan disimpan di atas meja. "Maaf aku terlambat, melapor ke kantor pusat sungguh menguras energi." Lanjutnya, dia baru bisa mergabung ketika rapat telah berjalan lima belas menit yang lalu. Rutinitas sebagai pemimpin adalah penyebabnya.
Ibrael tersenyum melihat pimpinan pasukan kerajaannya telah tiba, " Karena semua sudah hadir, aku akan memaparkan rencana yang telah lama aku susun."
Ibrael?
"Kalian tentu tahu sejarah terbentuknya kekaisaran Neitherland. Banyak tipu muslihat yang dibungkus rapi dalam kedok kemanusiaan. Dan sekarang niat mereka semakin jelas. Memang kekaisaran tidak ada dalam agenda mereka, tapi kalian harus ingat pemilik tanah yang sesungguhnya adalah kita. Mereka hanyalah penumpang yang tidak tahu diri. Jadi mari kita tunjukkan kekuatan pemilik tanah yang sesungguhnya." Ibrael tersenyum. Pidato singkatnya disambut dengan tepuk meriah dari empat orang peserta termasuk Aera.
Terlalu sedikit? tidak. Mereka masih memiliki anggota lain yang tugasnya berjaga di tempat dan hanya menerima perintah dari sang Raja. "Pertama, kita rubah sistem yang mereka ciptakan untuk kekaisaran. Jika awalnya kerajaan hanya sebagai hiasan yang tidak memiliki otoritas dalam pemerintahan. Mari kita balik menjadi pemilik kekuasaan tertinggi di atas para Mentri. Pernikahan Epraim dan Aera adalah salah satu langkah politik yang mengubah kondisi keluarga kerajaan yang dipandang memiliki ilmu terbatas menjadi lebih cerdas."
Salah satu hal tidak masuk akal yang mengganggu Aera adalah fakta bahwa keluarga kerajaan di larang keras menjadi ilmuan dan tidak diperbolehkan memasuki universitas Neitherland. Sebagaimana para ilmuan tidak diperbolehkan berpolitik, maka para keluarga kerajaan tidak diperbolehkan mengenyam pendidikan lain selain kepemimpinan. Sayangnya semua itu hanya sekedar formalitas di atas kertas, pada kenyataannya, para Pangeran dan Putri tidak diajarkan apapun selain sejarah yang telah mereka modifikasi sesuai kebutuhan. Lalu siapa mereka? Yang membaut peraturan konyol dan membuat seolah keluarga kerajaan hanyalah pecundang yang memeras rakyat lewat pajak tanpa bisa melakukan apa-apa?
"Pernikahan ini tidak akan semudah semestinya, kita harus mempersiapkan diri menangkal serangan, mereka jelas akan menentang pernikahan ini. Kembali bersatu dengan NU adalah solusi yang tepat. Namun, sebelumnya kita harus menemukan siapa mereka."
"Itu mudah, serahkan padaku." Tiba-tiba Aera memotong ucapan Ibrael. Karena ulahnya dia dihadiahi tatapan dari semua orang termasuk Epraim. "Hee... maaf aku terlalu bersemangat. Juga terbiasa saling menyalib argumen saat di Kuantum Fox, tapi aku yakin bisa menebak siapa yang harus kita hadapi. Kalau begitu silahkan lanjutkan," ucapnya merasa tidak enak.
"Ppfff ...," Epraim menahan untuk tidak meringis.
Aera meliriknya, dia menertawaiku? Belum hilang rasa kesalnya ketika suara tawa Ibrael justru bergema di dalam ruangan.
"Aku suka semangatmu! bukankah kau membutuhkan sesuatu untuk bisa mengidentifikasi masalahnya?" Pertanyaan sepupunya membuat mood Aera kembali normal.
Dia mengangguk, "Dan aku sudah menemukannya," ucapnya sambil menunjuk beberapa berkas di depan mejanya. "Kalian ingin mendengar pendapatku?" lanjutnya santai dan itu membuat semua yang hadir tersenyum lalu serempak mengangguk.
"Silahkan, aku menantikannya."
"Setelah membaca semua ini, aku pikir sekutu paling kuat yang harus kita rangkul saat ini adalah Roschiil." Keheningan seketika mengungkung mereka.
"Gian memimpin NU bukan karena keinginannya. Itu pula alasan kuat mengapa mereka memecah Neitherland. Sikap acuh Gian yang tidak peduli urusan negara dan ingin hidup bebas membuat mereka merdeka. Menarik Gian ke sini hanya akan membahayakan dirinya tetapi tidak memberi solusi bagi kita. Intinya sekarang abaikan NU dibanding menjadi sekutu mereka justru lebih memungkinkan menjadi musuh."
"Bukankah musuh dari musuh kita adalah teman? Kalian tentu tahu masalah internal NU saat ini. Perseteruan antara kaum budak dan bangsawan dan perang senjata diantara dua kubu. Menurut kalian semua itu didalangi siapa? Diam-diam Roschiil membantu pemerintahan Gian yang melemah karena sadar, propaganda penghapusan budak langkah musuh menghancurkan NU dari dalam."
"Jika kalian bertanya mengapa Roschiil repot-repot melakukan hal itu, tentu kalian sendiri tahu tidak ada yang lebih menginginkan kelanggengan kekaisaran Neitherland selain Roschiil. Semua ini berhubung dengan perjanjian rahasia dengan Raja pertama Neitherland. Sayangnya aku tidak tahu isi perjanjian itu."
"Jadi Roschiil dan para menterinya sedang berselisih?"
"Mereka saling serang dibalik kedok kekaisaran?" Dokter Agni tampak ragu.
Aera mengangguk pasti. "Sebenarnya lebih tepat jika disebut oknum. Roschiil tahu itu tetapi dia belum yakin siapa dalang dibalik semuanya. Jadi, kita harus menemukan si Parasit ini lebih dulu agar memiliki nilai tawar yang membuatnya mau berpihak pada kita secara terang-terangan. Bagaimanapun menjadikan Roschiil sebagai aliansi politik akan mempersempit ruang gerak musuh."
Aera menjeda ucapannya saat merasa semua tatapan penghuni ruangan mengarah padanya. Apa-apaan mereka?
"Kau, siapa kau sebenarnya?" dengan wajah sedatar papan cuci Erdogan bertanya. Aera mengerutkan keningnya.
"Kau tidak bertanya tentang namaku 'kan?"
"Sejak kapan kau belajar tentang politik?" kali ini Ibrael yang bersuara.
"Sejak tadi," jawab Aera santai. Pandangannya menyorot tumpukan berkas yang ada dihadapannya. Jangan lupakan berlembar-lembar layar hologram yang masih aktif dan berada di hadapannya. Seakan baru menyadari maksud pertanyaan Erdogan, Aera menatapnya. "Aku terlahir dengan proses CRISPR-CAS 10 ... jika kau lupa."
"Hmmm, sejujurnya kata ibuku, aku juga menggunakan teknologi itu tapi entah mengapa aku merasa kemampuanmu jauh mengungguliku," ucap Dokter Agni sembari mengindik.
"Itu hal yang wajar. Dia unggul bukan hanya karena teknologinya tapi juga karena gen yang diturunkan dari ilmuan legendaris." Erdogan meringis menanggapi ucapannya yang bahkan tidak lucu ataupun menghibur bagi Agni.
"Ya aku mengakui itu. Sebelumnya aku menduga Roschiil adalah pelaku utama dibalik semua kekacauan ini. Namun, sekarang dia mengatakan kita harus bersekutu dengannya untuk. Sepertinya aku memang tidak cocok bermain detektif. Tapi aku berhasil menemukan sesuatu yang tidak kalah menarik mengenai kesehatan yang mulia." Mendengar kesehatan sang Raja dibahas, atensi beralih ke Dokter Agni.
"Mengenai penyusup dirumah sakit, sepertinya dia bukan musuh. Suntikannya bukankah seharusnya ada dua?" tanyanya pada Aera "Kau mengatakan melihat suntik berisi virus. Apa kau melihat ada suntik lain yang kosong?"
Aera teringat benda di balik saku sang Penyusup yang memang telah kosong, Ragu-ragu dia mengangguk. Agni tersenyum, merasa hipotesisnya benar. "Saat kau melihatnya berada dibalik kursi, dia telah menyuntikkan satu dosis dan menunggu sekitar lima belas atau dua puluh menit lagi sebelum suntikan ke dua. Sayangnya dia tidak bisa mennyelesaikan tugasnya."
"Maksudmu Yang Mulia telah diracuni?" ini kali pertama Epraim kembali bersuara sejak tadi memilih bungkam.
"Tidak, itu buakn racun tapi virus. Dan tidak perlu khawatir, karena virus itu justru berfungsi sebagai vaksin. Yang tidak aku mengerti mengapa doa harus bersembunyi? padahal jelas dia ingin menolong yang mulia."