
Sejak dia mengeluarkan semua isi perutnya di tepi sungai, aku tahu ada yang tidak beres. Seharusnya aku tidak perlu mendengar penolakannya. Ah, memang benar penyesalan selalu datang terlambat.
Dua Minggu tidak bertemu karena banyaknya acara dan ritual yang harus diselesaikan membuatku menyesal mengapa tidak memperhatikan kesehatannya. Jika Monect tidak menerima pesan dari pelayan yang bertugas menjaganya, mungkin hingga detik ini aku masih akan terus berada di Spilia dan langsung menuju Thebes.
"Hati-hati, Yang Mulia, kau bisa tersandung sesuatu." Aku tidak peduli lagi pada peringatan Monect. Swaillyn jatuh tidak sadarkan diri ketika matahari tepat di atas kepala. Lagi pula apa yang dia lakukan di bawah terik yang menyengat ketika musim benar-benar panas?Huh, kepalaku rasanya ingin meledak karena kombinasi marah dan khawatir.
Aku tahu, para pendukung ratu tidak satu pun yang menyukainya, tetapi mereka tidak bisa berbuat apapun setelah tahu kisah tentang penyerangan hiparus. Sekalipun benci, mereka tetap saja percaya, raja terkuat akan lahir dari rahim Swaillyn yang namanya aku ganti dengan Aera. Ah, Aera dia kembali menyelinap di antara rasa khawatir, takut, dan rindu yang kian membara. Jadi, kasus tidak sadarkan dirinya mungkinkah murni karena keteledorannya sendiri? ternyata walau wajah mereka mirip, kecerdasan dan kekuatannya jauh berbeda.
Pintu kamar Swaillyn tepat di depan. Penjaga yang aku tempatkan di sana segera mengabari kehadiranku dan membuka pintunya. Aku berharap dia baik-baik saja.
Ketika aku masuk, suara Drepta, budak yang aku berikan sebagai hadiah untuk Swaillyn menyambut. "Nona baru saja tertidur usai meminum air khwarkhachd," terangnya sembari menunduk.
Rahab mendekat dan duduk di sampingnya, aku menangkap sebuah gelas kristal yang masih menyisakan cairan berwarna magenta khas khwarkhachd.
Ternyata dia juga menyukainya. Tanpa kusadari senyumanku mengembang. Dari sekian banyak minuman yang sering disajikan di istana, aku juga lebih menyukai khwarkhachd. Minuman yang terbuat dari sari bunga Hibiskus. Kelopaknya dimasak dan diberi sedikit gula yang menghasilkan cita rasa, asem, manis bercampur segar. Minuman yang paling pas untuk musim panas saat ini.
Rahab mulai memeriksa Swaillyn. Dengan lembut dia menarik satu tangannya dan memeriksa nadinya. Keheningan yang sekejap itu aku gunakan untuk memandangi keindahan wajahnya.
Ah, sungguh aku merindukannya.
Jika saja kelopak itu terbuka mungkin aku kembali mendapatkan senyuman indah yang tak pernah ada duanya. Ekor mataku menangkap pergerakan kepala Rahab. Tak ingin tertangkap basah menatap Swaillyn sembari tersenyum aneh, segera aku seret pandanganku pada pria paruh baya itu.
Ada apa dengan tatapan anehnya? Sungguh, wajahnya yang standar menjadi sangat aneh. Aku putuskan untuk menunggu. Namun, hingga waktu merangkak terlalu lama dia masih enggan berbicara maka aku putuskan bertanya lebih dulu.
"Bukankah kau harus melaporkan kondisinya?" tanyaku dengan suara yang sengaja aku buat tenang.
Sesungguhnya aku sudah sangat khawatir ada hal buruk yang akhirnya menahan Rahab untuk bersuara. Demi dewa--ya---walaupun setelah kembali dari Neitherland kini membuatku ragu mereka benar ada atau tidak, tapi bersumpah dengan nama mereka di zaman ini jauh lebih relevan 'kan? terserahlah, aku hanya ingin bilang jika hal buruk terjadi aku tidak akan membiarkan Mareskan berada di atas tahta jauh lebih lama.
Huh, setelah aku pikirkan lagi, aku benar-benar dibuat kesal. Sejak kapan ada aturan calon istri raja harus menjalani ritual Amunitas. Menghadap matahari tiap harinya, sebagai perkenalan sekaligus penghormatan pada sang dewa. Ya, maksudku ritual itu memang ada, tapi tidak tiap hari terlebih ketika musim panas yang teraman panas.
Sialnya aku mengetahui hal ini ketika mendengar bisik-bisik para pelayan yang berjejer di belakang, sesaat memasuki kamar Swaillyn.
"Aku merasa semua pelayan dan budak di dalam kamar ini harus keluar," ucapan Rahab setelah terdiam cukup lama.
"Sepertinya Nona Aera ha-mil Yang Mulia," tuturnya ragu ketika semua yang ada dalam kamar keluar seperti permintaannya, hingga yang tersisa hanya aku, Monect, Rahab dan Swaillyn yang terlelap.
Aku tersenyum simpul lalu mengangguk. Eh, tunggu. Tadi apa dia bilang? ha-mil!
***
Karena selama perjalanan kalian tidak pernah menghabiskan malam bersama, bukankah sudah jelas itu anak siapa? Sebagai pendukung kekaisaran Cheops, aku menyarankan gugurkan saja kandungannya.
Jika dalam keadaan normal, aku pasti akan marah mendengar saran yang tidak berprikemanusiaan dari seseorang yang bertugas menjaga umat manusia dari segala rasa sakit bahkan kematian. Namun, sebagai raja aku bisa mengerti kekhawatiran Rahab.
Bohong jika aku tidak memikirkan yang sama. Jadi alih-alih marah aku memilih diam dan memintanya untuk merahasiakan semua ini dari siapapun termasuk Swaillyn.
Aku bisa membuat ramuan yang bisa membersihkan rahimnya. Setelah itu merawatnya agar kondisinya kembali sehat dan subur. Jadi anda tidak perlu khawatir untuk kehamilan selanjutnya. Yang pasti anak saat ini tidak seharusnya ada.
Aku menarik napas dalam dan mengeluarkan dengan cepat. Rahab, pria paruh baya itu benar-benar dingin jika menyangkut masalah kekaisaran. Sekalipun aku tahu niat baiknya, tetapi tidakkah dia bersikap sedikit lunak mengingat statusnya sebagai seorang tabib? bagaimana mungkin dia merencanakan pembunuhan seorang calon manusia lemah yang bahkan tidak bisa melakukan apapun dengan tenang, seolah berbicara mengenai rencana memancing pada para bangsawan.
Aku menengadah, rupanya bulan telah berlari jauh di kaki langit. Mungkin beberapa saat lagi dasar Nil akan menelannya, hingga mentari mulai merambat naik. Memikirkan percakapan aneh bersama Rahab dan Monect membuatku terjaga sepanjang malam.
Bagaimanapun rumor hiparus telah mendarah daging di tengah masyarakat Cheops. Dalam arti, jika berita ke-ha-mi-lan Swaillyn mengudara, dipastikan janin dalam kandungannya akan dirawat dan dibesarkan layaknya calon raja selanjutnya. Tidak mengapa jika itu darah dagingku. Yang jadi masalah dia jelas keturunan Arkham bi-a-dab. Tunggu, bukankah kondisi janin Swaillyn saat ini sangat mirip denganku?
Heh, apa-apaan ini.
Sedikit perbedaannya terletak pada kondisinya yang mungkin untukku takdir terlalu baik. Sedangkan janin Swaillyn harus merasakan kekejaman, mungkin pula karma dari ke-bi-a-dab-an ayahnya.
Karena telah memikirkan hal ini, aku jadi teringat ayah. Tidak, bukan ayah biologisku yang entah siapa. Tetapi ayah tiri yang mengaku sebagai ayahku karena cintanya yang teramat besar untuk ibuku. Ayah yang justru dengan rela memberikan tahtanya padaku dibanding pada anak-anak dari istrinya yang lain, darah dagingnya sendiri.
Jika Rahab dan Monect tidak tahu kondisi Swaillyn, mungkinkah aku pun akan melakukan hal yang sama? menerima Swaillyn dan calon anaknya yang kemudian memberikan Cheops untuknya? tunggu, semua yang ayah lakukan karena cintanya pada ibu. Sedangkan aku? bukankah aku mencintai Aera?
Aku kembali menarik napas. Huhf, kenapa memahami perasaan sendiri begitu sulit? Swaillyn, sebenarnya seperti apa posisinya di hatiku? tapi apa pentingnya itu saat ini? faktanya, beberapa orang setia kekaisaran telah tahu kondisi yang sebenarnya. Maka, tidak ada jalan selain membuatnya kehilangan janinnya. Dan entah mengapa dadaku terasa sesak.
Baiklah! sudah aku putuskan. Anak itu memang tidak seharusnya ada, tetapi aku tidak akan membiarkan Swaillyn kehilangan anaknya tanpa tahu apapun, setidaknya aku harus mengatakan yang sesungguhnya dan membuatnya menggugurkannya ... setelah mengucap kalimat perpisahan, mungkin?