Neitherland

Neitherland
14 : Pare Island, Splash Splash Love



Tepat di puncak bukit Aera dan Gian berdiri menatap takjub. Kumpulan warga desa berkumpul bahu-membahu memanen padi. Sebagian mengumpulkan hasil kebun berupa timun, tomat, ubi dan jagung. Tidak sedikit pula yang ikut ke laut menjaring ikan tepat di muara sungai. Mereka sedang merayakan keberhasilan Aiwan membantu mereka membangun pembangkit listrik tenaga Air.


“Aku jadi merasa bodoh—percaya propaganda, hanya Neitherland yang memiliki kehidupan karena ditunjang teknologi maju,” tutur Gian. Dia membalas lambaian seorang anak yang tengah menumpuk batang-batang padi yang telah bersih menjadi istana tempatnya bermain. Tangan kanannya merangkul bakul berisi camilan yang dibuat dengan bahan dasar pisang.


“Sejak pertama bertemu aku tahu kau bodoh,” celetuk Aera yang membuat Gian merengut bodoh.


“Bagaimana denganmu?” tantang Gian tidak terima dikatai bodoh sendiri.


“Tentu saja aku tidak percaya. Menurutmu kenapa aku sampai harus membuat quantum tunnel dengan uangku sendiri?” Gian mengangguk.


“Baiklah tidak diragukan lagi, kau adalah generasi ke tiga dari ilmuan tercerdas,” ungkap Gian sambil memutar bola matanya.


Aera mengangguk, “Ya, aku bahkan curiga jika nasabnya terus disambung akan sampai ke WJS,” celutuk Aera mengacuhkan ekspresi ganjil Gian.


“W-J-S,” Gian mengeja


“William James Sidis,” jelas Aera yang membuat Gian menatapnya horor.


“Kau tentu tahu dia seorang lajang.”


“Lajang bukan berarti perjaka,” balas Aera tak mau kalah. “Bisa saja dalam masa pengasingannya dia bertemu dengan nenek buyut dari neneknya nenekku, mereka terjebak dalam satu atap di musim salju, dan terpaksa saling berbagi selimut hingga musim baru tiba.”


“Bagaimana jika kau mulai beralih profesi menjadi penulis novel?”


“Akan aku pertimbangkan.”


Tidak kuasa menahan gemas Gian mengacau tatanan rambut Aera. Sambil berteriak Aera membalas serangan Gian. Sayangnya karena postur yang lebih tinggi, rambut Gian sulit dijangkau. Aera semakin mendekat, tangan mereka saling beradu. Ketika Aera mencoba melompat ingin menampik kepala Gian, kakinya tersandung akar pohon. Dengan sigap Gian menolong, tetapi naas mereka terjatuh. Berguling hingga ke kaki bukit dengan posisi saling berpelukan. Sedang bakulnya menggelinding hingga ke sawah.


**


“Kenapa tidur di tanah kak?” tanya Roy polos, bakul berisi camilan telah berada dalam pangkuannya. Mulutnya dengan sigap melahap kue bulat berwarna keemasan.


Aera dan Gian menatap bocah berusia kurang dari enam tahun. Usia Aera ataupun Gian tentu jauh di atas orang tua Roy—ayahnya berusia dua puluh lima tahun, ibunya dua puluh dua tahun. Namun, dari wajahnya Aera dan Gian jauh lebih muda.


Kerasnya kehidupan yang masyarakat Pare pikul—berada di tengah hutan, di kelilingi pegunungan, dan terasing dari pulau besar yang ada di sekitarnya. Jika di Neitherland pekerjaan terberat Aera—hanya melibatkan otak. Di Pare mereka dituntut untuk bisa segalanya. Tidak hanya otak yang harus bisa lebih kreatif, tetapi otot pun harus kuat untuk bisa merakit dan merealisasikan apa yang mereka pikirkan.


Jika di Neitherland, masyarakat dimanjakan oleh tekhnologi yang ada. Di Pare semua orang harus saling membantu—bekerja beras. Mulai dari hal kecil hingga besar. Di awal mereka menemukan hutan untuk bermukim, tanaman parelah yang mendominasi hutan ini, dan pare pula yang menjadi penolong mereka dari rasa lapar sejak berminggu-minggu dalam pelarian dari kejaran orang-orang asing berseragam alien. Seragam yang diduga dirancang untuk melindungi penggunanya dari radiasi dan udara yang buruk. Karena itu desa kecil ini diberi nama Pare.


“Kami terjatuh, Roy,” sanggah Aera sembari bangkit dari atas tubuh Gian. Wajahnya memerah. Dia mengingat adegan yang pernah dimainkan oleh Cyma.


Film r**omance aksi terbaik dengan rating tertinggi di tahun 2074. Adegan saat tokoh utama wanita yang diperankan oleh Cyma terjatuh dari atap gedung lantai 105, setelah saling kejar dan beradu tinju dengan penjahat yang hendak kabur. Sang Penolong sekaligus tokoh utama pria yang berprofesi sebagai detektif pun menyelamatkannya dengan bantuan sepatu terbangnya.


Tokoh utama pria yang diperankan oleh artis tampan James Walkie menangkap Cyma yang melayang di udara. Menggendongnya seperti pengantin wanita, dan membawanya masuk ke gedung lewat jendela. Namun, karena asyik saling tatap, si Pria tidak peduli ukuran jendela yang ternyata lebih kecil dibanding mereka berdua. Singkat cerita mereka berhasil masuk ke dalam ruangan dengan posisi saling menindih dan berakhir dengan saling memagut. Panas.


Sialnya adegan panas itu terus berulang di benak Aera. “Otakku pasti mengalami cidera, sialan.”


“Kak ini buatku saja, ya, rasanya enak.” Roy mengangkat bakul. Senyumnya tersungging lebar. Aera bingung ingin mengutuk kebodohan Gian atau kepolosan Roy yang membuatnya merasa aneh sendiri.


“Memang itu untukmu bocah. Jangan lupa berbagi dengan yang lain. Katakan kami harus pulang ke Bola karena dia cidera,” tutur Gian lembut. Telunjuknya mengarah pada Aera. Roy mengangguk dan mengacungkan jempol.


Bola yang dia maksud adalah rumah kepala suku tempat mereka menginap. Dengan sigap Roy berdiri, menggendong bakul dan berlari kembali ke tengah sawah, sambil melambai pada Gian.


**


Di hadapan mereka duduk seorang tetua dan kepala yang sangat dihormati masyarakat Pare. Dia adalah penyelamat dan pendiri yang diangkat sebagai pemimpin mereka. Usianya menginjak tujuh puluh tiga tahun. Dia dikenal dengan nama Puang Hamid.


Aiwan menatap Puang Hamid dengan ekspresi yang tidak terbaca. Mungkin dia sedang mencari wujud dirinya yang akan serupa Puang Hamid jika tidak meneguk serum.


“Bukankah seharusnya para pelajar dan ilmuan berada dalam kamp perlindungan khusus?” tanya Keri. Pria berusia senja itu mengangguk matanya menerawang. Mereka berkumpul di rumah Puang Hamid setelah menyantap menu makan siang istimewa yang dimasak oleh warga Pare, sebagai rasa syukur mereka.


Setelah hampir sebulan berada di tengah-tengah masyarakat Pare. Mereka yang tadinya menentang keberadaan Aera dan kawan-kawannya, kini menjadi lebih ramah dan terbuka. Bukan tanpa sebab. Masyarakat Pare yang tidak lebih dari 200 jiwa terdiri dari tiga puluh delapan kepala rumah tangga, dan sebagian besar adalah anak-anak di bawah usia dua puluh tahun, adalah sebagian kecil masyarakat yang selamat dari pembantaian terkejam. Bahkan hingga kini mereka masih diliputi ketakutan karena perburuan yang belum terhenti hingga kini, akhirnya membawa mereka ke pulau Pare.


“Sertifikat dan kartuku telah ada, tapi sebulan sebelum masuk kamp, ayahku meninggal dunia. Dari Cambridge aku langsung pulang ke Indonesia, menuju kampung halamanku—Sulawesi Selatan,” kenangnya. Gian mengerutkan alisnya. Mencoba mengingat informasi yang pernah ia temukan saat masih berada di istana. Dia yakin pernah membaca kata Indonesia. Namun, dia tidak ingat letaknya berada di mana.


“Aku berencana pulang setelah empat puluh hari pemakaman ayahku. Sekalipun peringatan adanya perang dunia ke tiga selalu disiarkan lewat media. Tidak seorang pun warga yang merasa cemas karena jaminan keselamatan dari dewan keamanan dunia. Aku menyadari ada yang tidak beres saat mengantarkan saudara-saudaraku ke kamp pengungsian masyarakat awam.” Puang Hamid menghela nafas.


“Aku mungkin tidak mengerti tentang merek obat-obatan yang berdatangan sebagai bantuan meski sesungguhnya semua itu adalah racun, tapi aku tahu betul kamp itu bahkan tidak bisa melindungi masyarakat dari radiasi nuklir jadi bagaimana mungkin bisa dijadikan kamp pengungsian yang katanya aman.” Suara Puang Hamid bergetar.


“Materialnya jauh berbeda dengan kamp para pelajar apalagi ilmuan dan tenaga medis. Saat itu aku masih tidak menaruh curiga, sampai aku menemukan email dari seniorku yang dia dapatkan dari seorang ilmuan ternama.”


Untuk kali pertama ekspresi Aiwan berubah antusias, “Mungkinkah isinya tentang edaran perang?” tanya Aiwan hati-hati.


Lelaki paruh baya itu menggeleng, “Itu sebuah puisi yang aslinya berupa kode, bahwa, perang kali ini untuk mewujudkan tatanan dunia baru dengan memusnahkan sebagian ras umat manusia dari kalangan awam dan agamis.” Puang Hamid memejam. Beratnya kehidupan yang dia lalui terukir jelas lewat puluhan kerutan di wajah senjanya.


“Puisi ...,” gumam Aera nyaris tak terdengar. Namun, Aiwan yang memiliki pendengaran jauh lebih peka dibanding manusia normal menatapnya.


Aera merasakan tatapan Aiwan. Dia teringat cerita sang mutan tentang neneknya, yang merupakan warga negara Rusia. Sebuah negara merdeka yang besar lagi luas yang entah berada di mana.


“Mungkin bakat menulis puisimu turun dari nenekmu. Dia lahir dan besar di Rusia. Sekalipun ibunya adalah orang Kazakhstan, kewarganegaraannya adalah Rusia. Pecinta puisi dan kentang sejati,” ucap Aiwan kala itu. Aera coba kembali mengingat masa kecilnya. Ketika sang nenek masih hidup bersama dia dan ibunya.


Aera hanya tahu mereka rakyat Neitherland. Sebuah kota dengan peradaban maju di tengah bumi yang nyaris punah. Tidak sekalipun sang nenek bercerita tentang asal-usul mereka. Ah, mungkin pula itu salah satu garis merah yang tidak boleh terucap dalam program brainwash para globalis. Aera menyimpulkan dalam diam.


Jika apa yang pernah Aiwan ceritakan adalah benar sekalipun itu terlalu kejam, setidaknya kini Aera tahu, alasan mengapa ada seribu satu ragam manusia dan budaya di Neitherland.


“Bisa kakek ceritakan lebih detil lagi?” pinta Aera yang juga penasaran.


“Ada banyak luka dan perjuangan yang membuatku emosional, segala puji bagi Tuhan semesta alam, kini aku bisa lebih mengontrol agar kondisi jantungku tetap stabil. Jadi, kalian ingin mendengar bagian mana?” tanyanya dengan senyuman tenang.