Neitherland

Neitherland
44: Trap!



Seketika Aera terlonjak ketika Gian memasuki arena sebagai wasit beberapa menit setelah pertandingan berlanjut ke level lebih tinggi dan masing-masing mendapat senjata berupa panah dan tombak. Bukan karena keberadaan Gian yang menggunakan seragam wasit, tetapi karena kondisi arena yang seketika ditutupi dinding dan kubah yang siap melepaskan roket jika dalam waktu dua jam ke depan tidak ada di antara gladiator: Aiwan ataupun Morat--yang jatuh merenggang nyawa.


Aera menatap keselilingnya, dia seperti berada dalam ruang penjara yang mewah. Sesaat setelah aksi saling mengunci gerakan di pertandingan pertama dimulai, Aera kehilangan ketenaangan. Dengan gusar dia memecahkan ujung sedotan kaca dan menyandra Roschiil, dengan tebusan kebebasan Morat dan Aiwan. Karena pemberontakannya itu tiga prajurit yang mengikuti Roschiil seperti bayangan mengalami luka-luka setelah bertarung dengan Aera.


Seolah tidak cukup memenjarakan Aera agar tidak lagi berulah, titisan lucifer itu seolah sengaja meninggalkan layar hologram yang menampilkan pertandingan paling tidak manusiawi yang dia adakan selama empat malam tiga hari tanpa henti.


Sebelumnya, koloseum dijadikan sarana hiburan. Menang atau kalah, gladiator akan mendapat hadiah. Sialnya, acara kali ini seperti halnya acara lima tahun sebelumnya. Sebuah ritual pemakaman untuk mendapatkan seorang Etruscana; pengawal roh sang ratu. Ritual persembahan kali ini, mengurbankan Ratu Neitherland yang kehilangan sayap karena pewarisnya tidak naik tahta. Akhirnya Aera memahami kekhawatiran Gian selama ini.


Aera tertawa saat melihat begitu banyak senjata dan teknologi mutakhir dalam kamarnya. Namun, semua benda itu seolah membantu Roschiil untuk mengejeknya karena tidak mampu melakukan apapun. Aera menendang setiap sisi dinding yang serupa kaca dan menampilkan pantulan dirinya sendiri. Hingga terlihat konyol karena menendang dirinya sendiri. Namun, tiba-tiba sebuah ruang pemindaian terbuka. Aera terkejut. Namun, sejurus kemudian dia menyeringai.


Berbeda dengan ruangan lainnya yang tersusun dari material kaca. Ruang pemindaian tersebut seolah lahir dari dalam dinding kaca dengan hiasan keramik hitam, tiap sisinya dilengkapi robot deteksi. Sebuah pilihan tampak di kepala robot.


Keluar dengan sensor wajah atau kode akses?


Aera mengerutkan dahi, dia tahu Roschiil tidak mungkin sebodoh itu, mengurungnya dan memberikan kunci kurungan disaat yang sama. Maka telunjuknya segera memencet tombol kode akses.


...


Loading sistem


...


(Masukkan susunan namamu!)


Aera mengetik huruf A E R A


Silahkan masukkan akses kode anda!


Tiga buah kotak merah tampak di layar kepala sang robot. Aera mengetik tanda tanya yang berada tepat di bawah kotak.


Kode akses merupakaan huruf dari AERA pangkat 2075 diikuti huruf setelahnya.


Melihat batas waktu menjawab tidak lebih dari 10 detik dan kini hanya tersisa lima detik. Aera segera membuka kolom akses dan mengetik huruf


Bunyi kode akses sukses terdengar bagaikan seruan kemerdekaan bagi Aera. Sebelum dia memutar knop pintu, Aera kembali ke dalam mengambil sebuah kacamata dan sebuah senapan kecil. Keriuhan dan cahaya menyilaukan segera menyambut Aera ketika keluar dari ruangan terkutuk itu. Aera menatap keseliling lalu mengutuk sang penguasa tempat tersebut, kini dia berada tepat di tengah Koloseum.


***


"Salah satu di antara kita ingin dijadikan Entruscana," Morat berbisik setelah berhasil membanting tubuh Aiwan.


"Sejak hari ke dua pertandingan, fungsi tubuhnya kembali seperti semula. Namun, dia sengaja tidak berubah dan tetap tampil layaknya manusia biasa seperti halnya Morat. Fungsi AI yang terhubung ke bigdata dengan cepat memberinya informasi mengenai Entruscana yang dimaksud Morat. Mereka memang telah sepakat melakukan pertunjukan terbaik untuk mengulur waktu.


"Kapan ritual persembahan konyol itu dilaksanakan?" tanyanya ketika berhasil merubah posisi menjadi penyerang.


"Besok."


"Persembahan utamanya adalah sang Ratu?"


Morat menggeleng dan melayangkan pukulan yang menyobek sudut bibir Aiwan.


"Tepatnya mantan ratu." Ibunda Gian ! Aiwan menatap prihatin temannya yang kini berada di dalam arena dengan sebuah bendera.


Dan, kini adalah hari ke empat mereka dipaksa terus saling menyerang hingga salah satu di antara mereka merenggang nyawa dan dinyatakan sebagai Entruscana; Roh pengawal Roh sang Ratu Neitherland. Tampaknya Roschiil benar titisan Lucifer yang bertugas menjaga pengikutnya hingga akhir jaman.


Ritual kuno itu kembali dia gunakan demi sesuatu yang dia sebut sebagai persembahan suci. Persetan dengan persembahan. Pikir Aiwan. Dia jadi penasaran keuntungan apa yang Roschiil dapatkan dari kesetiaannya mengorbankan darah mulia.


Gian yang berhasil melumpuhkan robot pemegang kunci level permainan ingin merubah senjata; panah dan tombak menjadi pistol atau roket. Dia tidak lagi sanggup melihat kondisi orang terdekatnya yang penuh luka lebam nyaris bonyok, atau ibunya yang kini berada di altar suci sang Lucifer. Dia ingin mengakhiri semua ini, tetapi kelumpuan sang robot terdeteksi sebagai pemberontakan dan sensor bahaya berbunyi.


Aiwan dan Morat saling membelakangi, insting mereka menuntun untuk saling melindungi. Ketika setiap dinding dan kubah di sekitar arena gladiator berubah menjadi arena eksekusi karena roket dan tombak yang seolah menantang untuk segera menyerang dan menyobek tubuh mereka. Gian terlempar ketengah-tengah. Tubuhnya menelungkup dilantai tepat di bawah kaki Aiwan dan Morat. Dan, kini Aiwan tahu apa yang menyebabkan mereka mendapat eksekusi tunai.


Gian menggeliat. Tangan-tangan robot pemangsa melemparnya tanpa perasaan, karena telah merusak robot lainnya. Aiwan mengembuskan nafasnya dengan gusar. Melihat wajah Gian yang kini tampak putus asa.


Mungkin inilah waktunya untuk berubah. Namun, saraf neuronnya belum sepenuhnya menanggapi perintah, Aiwan kembali dikejutkan oleh kehadiran Aera yang kini bergabung dengan mereka.