Neitherland

Neitherland
Season II, Langkah Pertama



Dua puluh empat jam berlalu dengan tenang. Aera yang dipasung di atas kasur pasien, menyeringai--mengolok kegagalan Roschiil. Kini dia yakin ada kekuatan lain yang lebih besar di banding sains. Kekuatan Tuhan semesta alam. Senyumnya semakin melebar. Dia nyaris tertawa memikirkan semua persiapan yang Roschiil lakukan benar-benar matang. Namun, hingga detik ketika ritual gila itu berjalan perlahan menuju puncak, tidak terjadi apapun di luar sana.


Rasa geli itu seketika memudar ketika pintu ruangan tempat Aera ditahan terbuka perlahan. Callista, wanita itu masuk dengan sebuah nampan di atas pangkuannya. Rasa rindu, sedih, marah, kesal, dan kecewa membaur serupa daun kering di musim panas yang ditimbun dalam dada. Ketika catecholamine dan kortisol mulai memperbanyak diri. Membuat jantung dan aliran darahnya bekerja dua kali lipat lebih cepat, energi yang tadi ingin dia gunakan untuk tergelak, terbakar dan mengalirkan panas ke seluruh tubuhnya.


"Aku membawakan domba bakar untukmu," suaranya masih sama seperti terakhir kali Aera bertemu sebagai keluarga. Wajah wanita yang dulunya dia pikir adalah ibunya juga masih sama. Tidak ada yang berubah selain fakta status wanita itu sebagai budak Roschiil pun kebohongannya membuat Aera jengah.


Kedua kelopak Aera memejam. Perlahan dia menghela napas, dalam. Kemudian diembuskan gusar, hingga suaranya terdengar seolah hendak mengenyahkan seseorang dengan tendangan maut.


"Kau ingin sesuatu yang manis?" tanya Callista. Suaranya terdengar canggung, tampaknya dia berusaha sekuat tenaga. Entah karena penasaran atau salah bersalah, tetapi di mata Aera semua itu hanya omong kosong yang bahkan dia tidak ingin pikirkan untuk apa.


Tanpa menjawab Aera terus memejam, mengatur napasnya agar tidak terlalu berderu bagai ombak yang memburu.


"Aku merindukan ...."


Bunyi gebrakan yang berasal dari benturan badan Aera dengan kasur pasien yang memang tidak seempuk kasur tidur pada umumnya, membuat wanita yang duduk di kursi roda tercekat. Matanya jelas memancarkan kekhawatiran. Namun, dia tidak lagi berani melepas suara.


Sesaat hening, sebelum Aera membuka kedua matanya lalu melemparkan tatapan nyalang, "Keluar!" ucapnya tegas, nyaris berbisik.


Amarah membuatnya sulit mengeluarkan suara pun bernapas dengan tenang. Ada luka yang mencuat dari sorot Callista, sayangnya terlewat oleh Aera. tanpa mengucapkan apa-apa lagi, wanita itu menuntun kursi rodanya, meninggalkan Aera.


"Jika kalian begitu bahagia meninggalkanku, seharusnya terus saja bersembunyi! dasar kejam!" Tak kuasa menahan kesal, bulir-bulir bening yang sejak tadi mengganjal di dadanya kini meloncat keluar. Bergulir perlahan dari sudut mata yang kembali terpejam.


Baginya, keputusan wanita yang dulunya dia pikir adalah ibunya--menemuinya dengan kondisi tertahan seperti ini, bagai pernyataan perang. Dia sungguh berharap ke dua wanita itu tetap berusaha membohonginya, dengan begitu kenangan manis bersama mereka yang sempat terukir tetap akan disimpan dalam ingatannya. Dia akan mencoba mengabaikan fakta serta ucapan Roschiil yang menyebalkan.


Ya, dia bisa menganggap itu sebagai hoaks atau apapun itu. Namun, tanpa memikirkan posisi dan perasaannya wanita cacat itu justru tampil di hadapannya seolah berkata. Kami-hidup-bahagia-dan-berharap-kau-bisa-mati-dengan-tenang. Sungguh menyebalkan.


Dia tahu betul sejak dulu, kedua wanita itu sangat membenci Roschiil--penyumbang s.p.e.r.m.a yang kemudian menetaskan dirinya. Namun, fakta kini mereka menjadi budak setia sulit diterima logika.


Mungkinkah ada yang terjadi?


Aera menggeleng gusar.


Apa peduliku?


Mereka yang memilih meninggalkanku seperti orang bodoh.


Sepi dan sendiri. Mungkin pula dengan perasaan jijik bercampur kesal tak terkira mengingat makian mereka pada Roschiil. Sebagai anak biologis dari sang Iblis suatu yang wajar jika kebencian mereka menurun padanya. Hanya saja Aera tidak sanggup berpikir lebih jauh mengenai kesulitan ibu-anak itu--ketika harus mengurusinya layaknya keluarga sendiri.


Lantas kasih sayang dan ketulusan yang selama ini dia dapatkan, mungkinkah semua hanyalah akting? kedok? bohong? atau mungkin imajinasi yang sebenarnya tidak pernah mereka tunjukkan selain sisi pandangnya yang terlalu lugu dan positif. Ketika semua pertanyaan itu berpendar dalam benaknya. Semakin lama semakin cepat, semakin berat, dan semakin membuatnya sesak. Tanpa dia sadari ke dua tangannya yang tadi terpasung dan dicengkeram aluminium berlapis baja di sisi kanan-kiri kepalanya, terlepas. Pun dengan kakinya.


Tubuhnya meringkuk seperti bayi, dan menangis tersedu-sedu. Pelukan hangat pada pundaknya menghentikan getaran tubuhnya. Dia terdiam, lalu menghela napas dalam.


"Kau tidak terluka, tapi kenapa tersedu begitu?"


Aiwan!


Seketika Aera bangkit dari tidurnya yang meringkuk, dan menatap sang Mutan dengan pandangan yang sulit diterjemahkan.


"Aku akan membalas mereka!"


Kedua alis Aiwan membentuk gelombang lucu, dia bingung.


"Zerah, Callista, mereka yang bahkan menolakku ketika aku sangat mencintai mereka. Aku akan membuat mereka menyesal pernah membesarkanku."


Kini wajah Aiwan berubah menjadi lebih aneh, "Kau tidak sopan, lagi pula bagaimana caramu membalas mereka yang telah tiada?"


"Pasang jubahmu."


"Apa?"


"Jubahmu!"


Masih dengan raut bingung Aiwan menarik jubahnya. Sebelum menutupi mereka, Aera menatap kamera.


Lihatlah! aku akan merebut satu-satunya orang yang kau puja. Dengan begitu aku ikhlas menerima kebencianmu!


***


Aiwan masih duduk bingung di tepi kasur ketika tanpa ampun, Aera menyerangnya dengan ciuman beruntun. Kesulitan menahan serangan Aera dan deru napasnya yang mulai memburu, Aiwan menahan tubuh Aera dengan memeluknya. Terlampau erat.


"Ada apa?" ulangnya dengan lebih lembut. Satu tangannya mengelus punggung Aera. Meredakan amarahnya yang meluap bagai lahar panas.


"Jika aku bukan cucuk Nyonya Zerah, apakah kau akan meninggalkanku?" tanya Aera usai melerai pelukan sembari menatap tajam tepat ke pupilnya pekat.


"Kenyataannya kau adalah cucunya ...."


"Jadi kau akan meninggalkanku." Aera memotong ucapannya.


Buru-buru Aiwan menggeleng, "Kau dan Zerah adalah dua orang berbeda. Percaya atau tidak tetapi aku berada di sisimu bukan karena Zerah."


Aera termenung, "Kau bahkan bukan Keri, lalu bagaimana mungkin ucapanmu membuatku berpikir seolah keinginanmu bisa diprogram ...," ada jeda yang cukup panjang sebelum Aera mengoreksi ucapannya dan mendengus dengan wajah malu. "Ya, tentu bisa tapi aku tidak melakukan itu pada manusia."


Pada posisi terintim di antara mereka, cukup membuat kewarasan dan pertahanan Aiwan terganggu. Namun, ucapan Aera barusan membuat Aiwan tak kuasa melepas tawa. Seolah barusan Aera mengakui sebagai sosok yang bertanggung jawab dibalik perubahan tubuhnya saat ini. Apakah itu masuk akal?


"Maaf," ucapnya berulang-ulang saat melihat wajah kesal Aera yang kini berada di pangkuannya dengan jarak minim, kurang dari sejengkal.


"Tidak ada yang lucu tetapi kenapa kau tertawa seperti itu. Lupakan saja! aku telah bertekad menjadikanmu milikku."


Aku? miliknya?


Sejurus kemudian bibir kembali berpagutan. Kali ini lebih lembut, lebih hangat, dan lebih tenang. Tidak ada amarah dan kekhawatiran memuncak seperti ciuman pertama. Terbawa suasana, Aiwan mulai memejam dan mengambil kendali.