Neitherland

Neitherland
Season II, Leah dan Amun



Aera menatap foto-foto yang berada dalam genggamannya. Dia ingat betul, wajah paman dan bibinya yang tidak pernah dia temui sejak bisa mengingat dunia. Namun, dia tidak akan lupa bagaimana enek atau ibunya menangis menatap foto ke duanya. Bagaimana nenek dan ibunya berkisah mengenai kerinduan dan penyesalan yang dalam kepada mereka. Dan, bagaimana dia bisa berakhir dengan kebencian yang besar terhadap keluarga kerajaan Neitherland.


Aera melihat Ibrael dan Leah silih berganti, sembari melihat foto-foto paman dan bibinya. "Sejak pertama bertemu aku tahu kau adalah adik kami. Terlebih kau adalah cucuk Nyonya Zerah. Maaf karena tidak mengatakannya lebih cepat."


Leah meraih tangan Aera, "Setelah sekian lama, akhirnya bisa bertemu lagi. Sekarang kau semakin besar," sambungnya. Ke dua matanya menatap Aera lamat-lamat. Sebuah tatapan hangat yang lama tidak dia temukan dan berhasil membangkitkan kerinduan pada sesuatu yang lama hilang--keluarga.


"Bisa aku memelukmu?" Mendengar permintaan itu, Aera menarik tubuh ringkih Leah dalam pelukannya. Air matanya ingin keluar, tetapi tertahan dengan sejumlah pertanyaan yang mengantri ingin meminta jawaban.


Mereka saling melerai, ke dua mata biru sayu itu telah basah. "Sejak dulu aku berharap bisa bertemu denganmu, tetapi sukurlah sekarang bisa terwujud."


Aera mengatur napasnya, "Maaf, selama ini aku tidak bisa mengingat kalian," ucapnya lirih.


Dia tidak mengerti mengapa selama ini ke dua sahabat kecilnya seketika hilang dalam memorinya. Namun, kini setelah mengingat semuanya rasa bersalah itu kembali menghujamnya.


"Itu bukan salahmu, untuk bisa melanjutkan hidup normal. Anak seusiamu memang harus bisa melupakan semua kenangan pahit." Kali ini Ibrael yang angkat suara. "Jika kau ingin bertanya apa yang terjadi, hari itu kami diselamatkan oleh Nyonya Zerah. Lukaku cukup parah, aku bahkan harus mendapat donor mata yang kini mengubah irisku menjadi abu-abu."


Rekaman kejadian pertemuan pertama mereka kembali melintas. Nyeri di dada Aera terasa menikam. Dia bersyukur ke dua sahabatnya yang ternyata juga adalah saudaranya selamat dari aksi kudeta yang menewaskan Raja Neitherland--Ayah Ibrael. Namun, yang membuatnya merasa terganggu adalah fakta mereka terluka parah dan nyaris kehilangan nyawa serta dia yang tidak tahu apa-apa.


"Leah, seperti yang kaulihat. Dia harus mendapat wajah baru sayangnya kondisi kesehatannya tidak bisa diperbaharui." Leah meringis. Aera menatap wanita kurus yang masih terlihat cantik. Usia mereka terpaut lima tahun. Namun, Leah yang hidup sebagai manusia normal tentu terlihat jauh lebih tua jika dibandingkan dengan wajah remaja Aera yang awet seolah waktu terhenti di usia lima belas tahun.


"Nenek yang menyelamatkan kalian? tapi bukankah dia membenci kalian? Mungkin itu pula alasannya mengunci ingatanku tentang kalian."


Leah menggeleng, "Dia membenci ibuku dan ayahnya." Dagunya menunjuk Ibrael. "Tetapi dia juga tidak akan mau membiarkan darah daging anaknya mati begitu saja. Bagi Nyonya Zerah, kami bagai kontradiksi yang membuatnya terluka di saat yang sama bahagia."


"Terlepas dari itu, ketulusan Ayahku pada ibu, dan rasa cinta ibunya pada ayahnya adalah alasan kuat dari tindakannya. Mungkin dia membenci fakta anaknya telah direbut paksa untuk sebuah pernikahan dan wajib memberi keturunan yang mengancam kemudian merenggut hidup mereka. Namun, dia tidak bisa mencegah perasaan cinta anak-anaknya yang tumbuh seiring waktu."


"Sedangkan mengenai ingatanmu, itu demi keselamatanmu. Bagaimanapun menjalin hubungan dengan kami mungkin akan membuatmu sulit bertahan hingga kini. Nyonya Zerah, semua yang dia lakukan tidak semata-mata karena keegoisannya, sebaliknya dia adalah wanita terbijak dibalik sikap dinginnya. Sayang aku tidak memiliki hak memanggilnya nenek." Ke dua mata abu-abu Ibrael menerawang jauh. Dia seolah lenyap ke dalam dunia lain bernama penyesalan.


Leah menggenggam tangannya seolah memberi kekuatan. Mungkin pula segera menyadarkannya. Saat itu pula Aera baru menyadari satu hal, cincin yang melingkar di jari manis mereka terlihat serupa.


"Kalian menikah?" tanyanya ragu.


Leah beralih menatapnya senyumnya merekah indah. "Ternyata kau masih sama seperti dulu. Bagaimana mungkin kau tidak peduli dengan berita keluarga kerajaan. Padahal pernikahan kami digelar dengan meriah." Ke dua mata Aera nyaris melotot sebelum akhirnya dia tersenyum memberi ucapan selamat.


"Sekalipun terlambat, tapi aku ucapkan selamat."


Ke dua orang di hadapannya tertawa. Tawa yang membuatnya merasa hidup memiliki sisi baik yang indah selain perjuangan melelahkan. Tanpa mereka sadari Aera tersenyum lebar. Seperti dahulu kala. Namun, senyuman itu terhenti. Berubah menjadi ekspresi bingung. Jika Epraim adalah adiknya, apa itu berarti dia juga sepupuku?


***


Epraim mematut dirinya di cermin. Sepintas senyuman Aera ketika bersama Ibrael dan Leah terbayang. Rupanya dia bisa tersenyum seperti itu. Dan, entah mengapa senyuman yang hinggap dalam benaknya menular padanya.


Epraim menyeret langkahnya keluar kamar. Kini dia berdiri di depan pintu kamar istirahat yang disediakan untuk Aera. Tangannya telah siap terangkat ingin memencet bel. Namun, seketika pintu kamar terkuak dan menampilkan sosok Aera yang sebelumnya tidak pernah dia lihat. Tanpa berkedip Epraim menyoroti sang Gadis dengan tatapan kagum.


"Terima kasih, sebenarnya tanpa gaun aku sudah terlihat cantik," ucapnya tanpa ragu. Epraim tersenyum.


"Kau tahu aku berada di depan pintu kamarmu?" tanya Epraim setelah langkah mereka hanya dihiasi ketukan sepatu dan high heels Aera.


"Yaa, aku bahkan tahu kau berdiri di sana nyaris setengah jam. Apa kau terlalu gugup bertemu denganku?"


Epraim terhenyak, dia tidak menyangka Aera begitu transparan mengungkapkan pikirannya. "Hmmm ... Sebenarnya tadi aku memeriksa email yang masuk dan sedikit membalas pesan sampai lupa memencet bel," dustanya tak ingin mengakui ucapan Aera.


Gadis itu mengangguk tatanan rambutnya yang dibiarkan tergerai terlihat kemilau disiram cahaya lampu. Kepalanya berbalik ke arah Epraim, tatapan mereka bertabrakan. Sekali lagi pandangan mereka saling mengunci.


"Aku jauh lebih cantik dari pada Miss Neitherland, 'kan?"


Epraim tahu, gadis di sampingnya tengah menggodanya. Mungkin dia tidak sepenuhnya abai pada semua informasi yang berhubungan dengan keluarga kerajaan. Mendengar dia membawa Miss Neitherland; Shofia. Putri mentri kebudayaan dan sosial. Sosok yang digosipkan pernah menjalin hubungan dengannya.


"Benarkah?" goda Epraim dan membuat ekspresi menilai dengan cara menyebalkan, "Entahlah, aku tidak yakin."


Mendengar keraguan Epraim Aera memutar ke dua matanya. "Cih, bagaimana kau bisa mendapat pasangan yang setara dengan Leah, jika kemampuan menilaimu di bawah standar." Merasa sang Pangeran berhenti, Aera ikut berhenti dan berbalik, "ada apa?"


Epraim menatap gadis yang berada dihadapannya dengan tajam. Memutus jarak diantara mereka, hingga yang tersisa tidak lebih dari setengah langkah. Aera yang merasa terkejut refleks mundur, tetapi lengannya langsung ditarik oleh Epraim dan dengan cepat tubuhnya berada dalam kungkungan sang Pangeran. Kini Aera bersandar di dinding istana yang terasa hangat, kiri kanannya dipagari lengan kekar sang Pangeran. Berkat heels yang dikenakannya tinggi mereka setara. Dan, kini pandangan mereka kembali berpapasan.


"Apa aku terlalu cantik hinggah membuatmu kehilangan akal?"


Pernyataan yang nyaris membuat Epraim menggila.


"Jangan tanyakan pertanyaan seperti itu kepada pria lain, jika tidak ingin berada dalam masalah." Nafasnya menyapu tengkuk Aera yang dibiarkan terbuka.


Mencoba mengabaikan ketegangannya, gadis itu mengindik, "Aku ahli keluar dari masalah."


Epraim mencoba mengusir perasaan aneh yang menggeliat dalam dirinya, saat matanya tanpa henti menyaksikan gerakan sensual bibir Aera yang sedang berbicara. Dia mencoba tersenyum santai dan melepaskan kungkungan ya hingga jarak diantara mereka sedikit melebar. "Aku bisa mendapatkan pasangan terbaik tanpa harus bisa menilai seseorang. Karena kakakku akan memberikan gadis terbaik di Neitherland."


"Ibrael?" Melihat wajah penasaran Aera membuat Eprail tersenyum geli. Dia berbalik dan meneruskan langkahnya yang sempat terhenti. Dia tahu Aera mengikutinya dari belakang. Karena itu langkahnya tidak selebar biasanya.


"Aku sungguh penasaran, perempuan sial mana yang akan menjadi pasanganmu," gumam Aera nyaris tak terdengar.


Epraim berbalik dan meraih tangannya. Berjalan sambil menggenggam tangan gadis menyebalkan yang entah mengapa hari ini jadi lebih cerewet. "Jalanmu seperti calon pengantin yang diet seratus hari, kita tidak boleh membiarkan Raja dan Ratu menunggu lama. O, ya, jangan mengatakan dia sebagai wanita sial, percayalah, kau akan menyesali ucapanmu."


Tanpa melepas genggaman tangannya Epraim memasuki ruang makan. Di sampingnya Aera melangkah dengan raut kesal tetapi tidak berniat membalas ucapannya.