Neitherland

Neitherland
Season II, Maison Nil



Ini sangat aneh. Jika mereka melakukan pencucian otak agar bisa dikendalikan dalam proyek pembangunan Neitherland. Mengapa harus mengunci memori mengenai negara asal? Lalu, bagaimana mereka bisa yakin, jumlah yang tersisa sanggup ditampung di Neitherland?


Aera masih belum mengerti apa yang telah terjadi. Selain kurangnya data, dia juga tidak bisa menemukan seseorang yang bisa diajak untuk berbagi informasi. Kepalanya pusing tujuh keliling sampai pada saat dia menemukan sebuah file yang baru dipulihkan. File yang berisi dokumentasi semua hal keji yang mereka lakukan. Satu diantaranya adalah momen dimana mereka melenyapkan semua kitab suci dengan membakarnya dan meresmikan kitab suci buatan yang mereka anggap relevan dengan kehidupan mereka.


Beberapa foto menunjukkan mayat-mayat para pemuka agama dan beberapa masyarakat awam yang tampak religius. Kematian mereka nyaris serupa, dalam posisi menelungkup dan bersimbah darah.


"Di tembak dari arah belakang? atau di hancurkan dengan serangan dari plafon ruangan?" tanyanya pada AI yang bertugas menampilkan UI (user interface) dari sebuah laman yang memiliki kaitan erat berdasar keyword yang di-input. Dua layar seketika melayang di hadapannya, lima lainnya dalam proses pemulihan.


Cih, semua kebusukan mereka dibungkus rapi dalam big data. Rasanya aku seperti malaikat amal yang membaca sejarah kelam segelintir manusia laknat.


Terlarut dalam sejumlah data, Aera bahkan tidak menyadari Epraim telah masuk ke dalam ruangannya. Bermodal kartu anggota keluarga kerajaan, secara otomatis sistem memberi akses masuk tanpa meminta password. Jalannya yang penuh dengan rasa percaya diri sekalipun telah masuk tanpa izin, mengingatkan pada tingkah Aiwan ketika masuk ke apartemen Aera.


"Ckckkckkk ...," tawa horor Aera membuat langkahnya terhenti.


Sikap percaya diri yang awalnya muncul perlahan berganti dengan waspada. Sikap yang mencurigakan dan terdeteksi sebagai penyusup oleh AI keamanan yang diam-diam Aera pasang demi menjaga privasi dan penemuannya. Sejurus kemudian sensor AI telah menguncinya sebagai target, langkah selanjutnya menjadi aba-aba aktifnya levitasi akustik di sekitarnya. Sebuah metode untuk menangguhkan materi di udara terhadap gravitasi, menggunakan tekanan radiasi akustik dari gelombang suara intensitas tinggi. Bisa dikatakan sebagai teknologi anti gravitasi.


"Huwaaaa ...!" teriakan Epraim mengejutkan Aera. Menyadarkannya dari kondisi menarik yang anehnya terkadang membuatnya mual. Setelah meneguk air meneralnya, Aera membuka layar ruangan di luar. Kedua matanya membulat sempurna, nyaris melompat keluar melihat Epraim melayang di udara.


***


Epraim mencoba mengatur napasnya setelah dibuat melayang, "Kenapa kau harus menggunakan levitasi akustik? sebenarnya ini ruang kerja KF atau Jiuxiang Cave The Myth?" ternyata Epraim sangat kesal, tetapi Aera justru terpingkal-pingkal.


"Maaf," ucapnya ketika tawanya mulai mereda. "Tapi keamanan di sini jauh lebih penting dibanding di rumahku sendiri. Karena 87% kerja kerasku berada di sini." The Myth memang menjadi salah satu alasan ide menggunakan levitasi akustik sebagai sistem keamanan diterapkan di ruang kerjanya. Aera takjub melihat bagaimana perkelahian antara Jackie Chan dan para pemain lainnya bertarung di Jiuxiang Cave dalam kondisi melayang. Film lawas yang diproduksi beberapa dekade lalu tetapi tetap menarik dan menjadi favorit banyak orang termasuk Aera dan Epraim.


"Bdw ada apa kau kesini?" tanya Aera setelah siuman dari rasa gelinya.


"Tentu saja menjemputmu, tapi jika kau mau diajak kencan boleh juga." Jawab Epraim acuh tak acuh sembari membenahi penampilannya. Karena melayang, sedikit membuatnya berantakan.


"Apa kau gila?" Teriak Aera sarkas yang hanya ditanggapi kedikkan bahu oleh sang Pangeran.


***


"Jika masih tetap bekerja, apa gunanya kau ke sini?" keluh Epraim sembari menatap Aera yang berada di seberangnya. Pada akhirnya Aera mengikuti keinginan sang Pangeran. Di sinilah mereka berakhir, di sebuah restoran ternama; Maison Nil. Dekorasi interiornya dipenuhi perabotan mewah bernuansa putih. Setiap meja dilengkapi teknologi 4D yang menyajikan pertunjukkan berdasarkan apa yang pelanggan sukai.


"Ya, seharusnya kau tidak menyeretku ke sini dan membuatku sulit bekerja," balas Aera. Kedua matanya masih tidak lepas dari layar yang semakin bertambah setiap detiknya.


Kepalanya terangkat, ke dua matanya memindai ruangan. "Kita di mana?" tanyanya polos.


Epraim kembali mendesah, dia tidak habis pikir Aera terlalu cuek bahkan tidak peduli dimana dia berada. "Jika bersama pria lain, sebaiknya kau lebih waspada. Jangan asal ikut tanpa tahu kemana kalian pergi." Bukannya menjawab Epraim justru berceramah.


Aera mengerutkan keningnya, "Apa aku terlihat seperti orang yang akan pergi dengan siapapun? Aku hanya meninggalkan ruanganku yang nyaman karena itu adalah kau." Usai mengutarakan protesnya, Aera kembali menekuni layar-layar yang bekerja mengikuti instruksi algoritma. Pertanyaan mengenai keberadaannya saat ini bagai basa-basi yang tidak berarti. Namun, kali ini Epraim tidak menunjukkan raut kesal. Sebaliknya, dia tampak berusaha menahan senyumnya mendengar ucapan Aera.


Setengah berbisik, "Walau tahu kau hanya mengucap fakta, tapi entah mengapa aku merasa kau sedang menggodaku."


"Apa? kenapa bisik-bisik ...." Wajah Aera tampak kesal, dalam kondisi normal harusnya dia mengumpat, tetapi saat ini fokusnya masih tertuju pada sejumlah data yang akhirnya membuat Epraim memilih menyeret kursinya di sebelah Aera.


Tubuhnya condong mengintip layar yang ditekuri tunangannya. Posisi yang terlalu dekat hingga kedua lengan mereka saling bergesek, dan aroma Aera mampu menerobos indra penciumannya. Aroma yang membuatnya gila.


"Hei, mesum gila. Ini tempat umum."


Epraim memperpendek jarak di antara mereka, tatapannya dialihkan ke wajah Aera. Sebuah wajah yang keindahannya bagaikan mahakarya yang sempurna. Namun, semakin lama memandanginya ada rasa sakit yang tiba-tiba terselip di lubuk hatinya. Seolah salah satu biliknya dipelintir hingga terasa perih. Rasa sakit yang menahannya untuk tidak mencintai dan mengagumi lebih dari ini. Sayangnya dia bahkan tidak tahu kini matanya menatap karena insting atau karena sayang. Karena ***** atau karena cinta?


Ah, cinta kenapa kata itu harus muncul disaat genting begini! Sial.


Aera berbalik menatapnya. Kedua mata biru teduhnya bertabrakan dengan pekatnya langit malam di bola matanya. Mereka saling menghanyutkan dan menenggelamkan dalam tatapan sejuk, yang seketika berubah menjadi liar.


"******, apa yang sedang kaulakukan?" tanya Aera tanpa mengalihkan pandangannya dari pelukan ke dua mata gelap Epraim.


"Menurutmu?" Sebuah senyuman manis yang entah mengapa terasa menyebalkan terbit. Melihatnya membuat Aera mendengus sebal.


"Tingkahmu seperti anak kecil yang meminta perhatian ibunya yang sedang fokus masak."


"Maksudmu aku menggemaskan?" Epraim masih setia memasang senyuman mautnya.


"Cih, maksudku kau merepotkan!" gerutu Aera sambil menoyor kepala Epraim--sedikit menjauh darinya. Wangi napas sang Pangeran membuatnya merasa gerah dan memancing naluri liarnya bangkit di tempat yang tidak normal. Itu hal berbahaya yang seharusnya dia hindari.


Epraim berdehem panjang, "Kau sedang mencari sampah yang tengah bertingkah bukan?" tanyanya sambil menegakkan tubuh. Mencoba kembali menata kewarasan dan jantungnya yang mulai memberontak dan menuntut untuk ditenangkan. "Aku bersedia berbagi informasi berharga padamu, asal kau mau meninggalkan semua layar itu dan fokus menikmati makananmu."


Tepat setelah ucapannya berakhir, seorang AI waitress menghampiri meja mereka. Menyajikan makanan yang mereka pesan lewat layar hologram yang muncul sebelum pertunjukan animasi 4D dimulai.