Neitherland

Neitherland
Season II, Di Bawah Pohon Akasia



"Kapan kau akan cerita?" desak Cyma dengan wajah memelas. Sejak tiba di apartemen dia terus mendesak Aera. Bertanya banyak hal yang menambah rasa sakit kepala. "Aku tahu sesuatu yang besar akan menghampirimu, tetapi kau tidak mungkin akan dijadikan selir oleh raja NS 'kan?" Pertanyaan yang sungguh di luar dugaan.


Aera memijat pelipisnya dan menggeleng lemah. Dia kehabisan tenaga. Bukan karena makan terlampau sedikit, atau mungkin itu juga salah satu penyebabnya. Namun, faktor utamanya adalah beban dalam pikirannya. Dia tidak bisa berhenti mencemaskan Leah yang tetiba jatuh tak sadarkan diri setelah batuk tanpa henti diikuti darah karena makanannya di campur lemak babi dan bubuk gula. Jelas ada yang sengaja ingin membunuhnya. Mengingat kondisi hatinya kini berada di stadium akhir.


Yang tidak kalah mangejutkan adalah, permintaan Ibrael; sepupunya. "Menikahlah dengan Epraim, jika kali ini Leah tidak bisa melewati serangan mereka, targetnya akan berpindah padaku. Aku akan merasa tenang ketika meninggalkan kalian bersama."


Aera bisa kembali melihat sorot Epraim yang tidak terbaca. Sejak kecil dia tahu, seseorang menyukainya atau tidak hanya dengan melihat sorot matanya. Namun, dia tidak pernah bisa melihat dengan benar sorot mata Epraim. Di suatu waktu sorotnya tampak dingin tak berperasaan, tetapi terkadang juga terlihat lembut dan penuh damba. Aera menutup mata dan menggeleng; mengenyahkan bayang Epraim dari benaknya.


"Apa-apaan ekspresi itu? jadi, kau benar-benar akan dijadikan selir?" Suara Cyma kembali menariknya ke alam nyata. Matanya terbuka, sebuah senyuman kesal bercampur lelah terukir. Cyma masih setia mengikutinya bahkan saat dia hendak masuk ke kamar mandi dan mengambil baju untuk membersihkan diri. "Sebenarnya apa yang terjadi? kau diberi makan pil yang bisa mencegahmu untuk berbicara mengenai semua hal yang ada di kerajaan?" Cyma menutup mulutnya, "Ya, pasti begitu. karena itu sejak tadi kau diam dan mengabaikan pertanyaanku." Wajahnya berubah sedih.


"Harusnya tadi aku mengatakan padamu jangan makan sembarang makanan di istana. Akhirnya sahabatku yang irit ngomong semakin pelit bahkan nyaris membisu. Huuwwaaaa ..., sahabatku yang malang!" gerutu Cyma berdasar hipotesis anehnya.


Aera mengembuskan napas lelah, "Kau sudah makan?" tanyanya masih mengabaikan pertanyaan Cyma.


Artis sekaligus model yang saat ini memilih hiatus demi merawat Aera itu terdiam. "Kau ... kau sudah bisa bicara?"


Astaga, di serius bertanya begitu? "kenapa dari sekian juta manusia, takdir harus memilih si bodoh ini menjadi sahabatku?" lirih Aera dengan wajah yang sengaja dibuat nelangsa.


Cyma menatapnya gemas, "Dasar robot tanpa hati!" Kali ini Aera tidak mencoba mengoreksi ucapan Cyma yang terkesan boros. Jika robot, bukankah sudah jelas tidak memiliki hati? "Bukan takdir yang memilih, tapi aku! aku tahu robot sepertimu akan hidup sepi dan sendiri makannya aku datang. Bukankah aku terlihat seperti seorang bisul?" Cyma tersenyum sombong membanggakan dirinya yang bodoh.


"Bukan bisul, tapi biksu." Pada akhirnya Aera harus membenahi keruwetan bahasa sahabatnya.


"Memang apa bedanya?" Cyma mengindik acuh. "Jadi apa sekarang kau mau berbagi rahasia kerajaan dengan sahabat baikmu ini?" Rupanya Cyma belum menyerah. Satu-satu kelebihannya setelah wajah cantik bak purnama adalah kegigihannya.


Aera mengembuskan napas, "Ratu sakit, ada yang mencoba membunuhnya."


"Jadi kau bukannya jadi selir tapi menjadi ratu?" Suara Cyma melengking, memekakan telinga. Rautnya terlihat syok bercampur bahagia. Aera kembali mengembuskan napas--dalam dan panjang.


"Berhenti berpikir aneh. Aku tidak akan menikah dengan Raja tetapi dengan Pangeran Epraim."


"Appuuuaaaa?!" Gerimis bahkan menyembur dari mulutnya. Sebelum Aera sempat meluruskan maksud ucapannya: bukan menikah tetapi di minta untuk menikah. Ekspresi kaget Cyma yang terlalu lebai membuatnya urung dan memilih menikmati wajah bodoh sahabatnya dengan mengulas senyum jahil.


"Memang pangeran setampan dan sepopuler sepertinya mau menikah denganmu?" tanyanya bersungguh-sungguh.


Ekspresi yang membuat Aera merasa tidak berdaya dan menyesal berniat mengerjai sahabatnya yang super idiot ber-IQ dua digit, tetapi bisa membuatnya tampak menyedihkan.


Aku yang tidak mau menikah dengannya!


Bunga willow tampak bermekaran, sebelum musim dingin memeluk mereka dalam kematian. Tangkai-tangkainya yang hitam lebih dulu memberi kekuatan. Aera terduduk di ayunan besi tempat dia, Leah dan Ibrael menyulam masa kecil yang indah. Sebuah tangan seketika menutup matanya.


"Gelap, dan tidak ada orang. Kau bisa menangis sepuasnya." Aera mengenali suara indah itu. ke dua tangannya memegang tangan yang menutup matanya dengan lembut. Hangat dan menentramkan.


Perlahan memori masa kecilnya berlarian dalam benaknya. Sapaan Leah pertama kali, senyumnya yang indah, makanan-makanan manis yang dia bungkus dan di sembunyikan di balik saku cardigannya yang selalu tampak besar. Pelukan hangatnya, dan tatapan matanya yang selalu tersenyum saat melihatnya.


Sesak yang menghujam dadanya semakin berat. Satu persatu air mata Aera berlarian menuju pipi hingga lehernya. Hingga yang tadinya tangisnya dalam diam perlahan melahirkan getaran pada pundak dan tubuhnya. Suaranya yang terisak lirih, seolah mengiris hati siapapun yang mendengarnya. Dan, entah sejak kapan Epraim yang tadi menutup matanya kini berjongkok di hadapannya sembari memeluknya.


Tepat jam tiga dini hari tadi, pengawal istana menjemputnya. Cyma ikut membawa sekoper besar pakaian dan perlengkapan mereka. Setibanya di istana, suasana duka menjemput mereka. Leah yang menunggu kedatangan Aera dengan kondisi terpejam dan bantuan pernafasan. Seketika pergi saat Aera memanggilnya lirih.


Belaian tangan Epraim terasa hangat di punggungnya, "Kau boleh bersedih, tapi jangan berlebihan."


Sejak kapan pangeran dingin itu bisa mengeluarkan kalimat bijak layaknya orang tua? Sayangnya ucapan itu tidak mampu mengisi kehampaan di dalam dada Aera. Setelah sekian lama sendiri di dunia tua yang semakin gila, akhirnya dia menemukan keluarga dan tempat bersandar, sayangnya hanya sesaat alam seakan tak sudi membiarkannya bermanja lama. Leah segera di ambil sebelum dia sempat mengucapkan kalimat maaf dan cinta yang luar biasa sebagai seorang adik.


Banyak penyesalan yang belum sempat dia ucapkan termasuk kalimat sarkas ya setiap kali Leah memanjakannya. Atau sikap juteknya ketika Leah merasa gemas ingin menciumnya. Dan, yang paling membuatnya menderita adalah masa sulit yang harus Leah hadapi tanpa adanya Aera di sampingnya. Dia bahkan tidak sempat menebus semua masa sepi itu bahkan dengan kata penyesalan yang tulus. Isakannya kembali menanjak. Epraim mengeratkan pelukannya.


"Leah titip Ibrael pada kita, jadi menangislah sepuasnya di sini dan segera kembali pulih saat melewati gerbang itu."


Ucapan Epraim seolah menjadi sugesti bagi Aera. Setelah berhasil menenangkan rasa sesalnya, dia menarik napas dalam. Epraim mengurai pelukannya. Aera tidak bisa melihat jelas bagaimana sorot matanya saat ini, karena tangis membutakan pandangannya. Namun, dia merasa nyaman saat Epraim menepis air matanya dengan jari-jarinya. Menangkup wajahnya dengan ke dua tangan hangatnya.


"Ingatlah. Apapun yang terjadi aku selalu bersamamu." Ucapan yang membuat sisa air matanya meluncur cepat sebelum akhirnya menghilang di balik baju hitamnya.


Cup!


Deg!


Aera berkedip dia bisa mencium wangi maskulin dari leher Epraim. Juga, rasa hangat yang membuat jantungnya berdebar cepat karena dahinya dikecup lama.


Cup! Cup!


Dua kecupan hangat itu turun ke matanya yang sembab dan kini kembali basah karena tertutup oleh bibir hangat Epraim.


Cup!


Ciuman terakhir dan membuat jantungnya nyaris copot. Ciuman tersingkat dan tercandu yang pernah dia rasakan selama tiga puluh tahun perjalanan hidupnya.