
Jika diibaratkan film, ingatan Aera kini bagai kaset dengan pita di putar mundur. Semua kenangan hitam putih itu terekam dan berlalu bagai angin lewat. Waktu dua puluh menit yang dia minta pada ibunya ternyata tidak cukup untuk menjawab semua kebingungannya. Pada akhirnya ibunya memintanya istirahat; tidak ke LAB atau ke Kuantum Fox.
"Maaf ibu tidak bisa lagi menemanimu. Jemputan ibu telah menunggu."
Bagaimana dia bisa ke sini? apa yang telah terjadi? Pikiran itu berputar dalam benaknya hingga mengabaikan ucapan sang Ibu yang akhirnya memilih pergi setelah mendengus khawatir.
"Jangan lakukan eksperimen apapun sebelum pikiranmu kembali tenang. Ibu mencintaimu!" Kecupan hangat mendarat di dahinya. Namun, Aera yang masih sibuk dengan pikirannya bahkan tidak membalas dan hanya mengangguk, entah untuk apa.
Jelas saja kejadian sebelumnya terasa familiar tapi juga sedikit asing. Aku pernah jatuh ke dalam kolam tapi tidak sampai pingsan.
Yang benar saja, seorang Aera bisa tenggelam dan pingsan dalam kolam yang dalamnya tidak lebih dari tiga meter! adegan konyol apa itu?
Dan juga ingatannya tentang istana terlalu nyata. Pertemuan dengan Epraim, pertunangan mereka, pertengkaran, dan ... bayangan senyuman Epraim, pelukan hingga ciuman kilat mereka terekam bagai trailer sebuah movie yang entah bergenre apa. Aera kembali memeriksa semua kulit lengannya. Dia bahkan melepas gaun tidurnya dan hanya menggunakan dalaman sambil berdiri didepan cermin.
Hanya terlihat kalungnya yang harusnya saat ini belum dia gunakan. Kalung itu semestinya kembali bermukim di dalam Faberge pertama; dalam perut si ayam emas. Aera ingat betul, setelah petualangan anehnya yang membawanya bertemu anak dengan bahasa aneh, dia kembali ke dalam kamar juga dalam kondisi pingsan. Saat terbangun, neneknya telah berada di sampingnya menggenggam ke dua tangannya sambil bertanya sebelum makan, kalungnya ingin tetap dipakai atau disimpan?
Saat itu bahkan Aera tidak mengingat mengapa dia pingsan karena kunci memori yang dilakukan sang Nenek. Tetapi dia tahu beberapa saat yang lalu dia mengalami hal yang luar biasa karena kalung itu bersamanya. Tidak ingin ibu dan neneknya memasang wajah sedih, Aera mengembalikan kalungnya. Sejak saat itu, dia bahkan tidak pernah menyentuh telur paskah, kecuali ketika mereka menyelinap ke apartemennya sebelum tertangkap oleh Roschiil.
Benar! Semua terasah aneh setelah malam berdarah itu!
Sebuah gagasan menyambar benaknya bagai kilat merobohkan pohon oak.
Berpindah dimensi!
Setelah kembali menggunakan pakaiannya, Aera memanggil Aiwan, berbicara dan berteriak sendiri berharap mutan itu segera keluar.
Tapi bagaimana jika saat ini makhluk itu sedang bergentayangan di luar sana?
Lima belas menit berlalu, suara Aera bahkan telah serak.
Sialan, dia mengabaikanku. Atau mungkin benar sedang tidak ada?
"Kau tahu, di tempat yang lain aku bertemu denganmu sepuluh tahun kedepan. Tapi saat bertemu kau justru bilang seharusnya belum saatnya kita bertemu. Apa sekarang kau tidak ingin keluar karena masih berpikir belum saatnya kita bertemu? lalu kapan saat yang tepat? apa kau tahu, saat itu aku sebatang kara. Ibu telah tiada. Jika kau memang ingin melindungiku, keluarlah sekarang." Hening.
Bisa-bisanya dia mengabaikanku tapi masih berani bilang ingin melindungiku, dasar penipu.
"Jika ingat kejadian sebelumnya seharusnya tiga bulan lagi aku mendapat kiriman abu kremasi ibu. Keluarlah dan bantu aku melindungi ibuku!" Teriak Aera frustasi. Suaranya bahkan bergetar, kedua matanya telah buram, tampaknya rasa kesal membuatnya nyaris menangis. Kepalanya ditekuk seperti seseorang kehilangan harapan.
"Betulkah? Kau yang sekarang berasal dari masa depan?" Buru-buru Aera menengadah. Sosok Aiwan dengan mantel hitamnya berdiri tepat di depan pintu. Padahal sejak siuman nyaris dua bulan lamanya dia tidak lagi melihat wajah itu. Aera menatapnya dengan senyum haru.
"Akhirnya ...," gumamnya sebelum berlari menghampiri sang mutan. Kedua lengannya dengan cepat merangkul Aiwan. Tubuh mutan itu menegang bagai pilar mansion yang dingin.
Aera melepas pelukannya, "Mana si Pesek?" kepalanya celingak-celinguk. "Dia takut menampakkan diri? Pesek keluarlah, kita sudah bertemu di masa depan."
"Hhmm ..., siapa si Pesek?" pertanyaan datar itu keluar dari Aiwan yang membuat Aera memutar ke dua bola matanya.
"Memang siapa lagi? bukankah kalian selalu bersama?"
"Kalian? kau bicara seolah aku memiliki teman lainnya. Zerah akan mengutukku terlahir menjadi kera jika berani membawa orang asing dengan mantelku."
Aera ingin menepis ucapan yang terdengar seperti alasan, tetapi dia menyadari raut Aiwan mengatakan yang sesungguhnya. Jantungnya kembali berdegup kencang. Dadanya terasa diremas. Banyak hal yang ingin dia pertahankan sekarang terasa omong kosong dan angan belaka.
Sebenarnya kapan dia bertemu Keri? Wajah Aera tampak merengut.
"Ada apa denganmu? Sebenarnya siapa yang sedang kau cari?" Tampaknya Aiwan penasaran setelah melihat kekecewaan di wajah Aera.
"Kau belum sarapankan?" tanya Aera mengabaikan pertanyaan Aiwan sebelumnya. Dia beranjak mengambil sarapannya yang berada di atas troli makanan tepat dekat kasurnya. Mendorongnya menuju ruang makan dan meminta robot asisten rumah tangga menyiapkan sarapan untuk Aiwan.
"Aku tahu kau selalu makan dan tidur di sini. Jadi duduk saja seperti biasa. Tidak perlu berpura-pura malu."
Aiwan menyeringai mendengar sarkasme Aera. "Seharusnya kau lahir saat perang masih berkecamuk, jadi nuklir tidak dibutuhkan. Ucapan dari mulutmu memiliki efek ledak yang jauh lebih dahsyat dibanding bom hidrogen."
Seolah sindiran Aiwan tidak bermakna apapun, Aera bergeming sembari menyendok sarapannya yang mulai dingin.
"Hhmm ... apa di masa depan aku berteman dengan orang yang kau sebut si pesek itu? siapa dia? pria?"
Aera mendengus, "Ternyata aslinya kau lebih cerewet. Lalu kepribadianmu di masa depan itu datang dari mana?"
Aiwan tersenyum ketika menu sarapannya tersaji di hadapannya. Padahal selama ini dia selalu makan seperti pencuri, walau sudah mendapat izin dari Zerah dia tetap melakukan semua diam-diam ketika wanita itu telah tiada.
"Keri ...."
Aera bisa melihat tangan Aiwan terhenti menyendok makanan.
"Namanya Keri, bukan Pesek," jelas Aera tanpa menatap Aiwan. Namun si Mutan yang bingung hanya mengangguk sembari bergumam.
"Ooh ...."
Selanjutnya, hanya keheningan menyela dalam dentingan hampa--suara yang tercipta di antara sendok dan piring kaca.
"Keri, teman masa depanku itu seperti apa? tampan sepertiku atau cantik seperti Zerah?" pertanyaan kaku sedikit ragu itu sengaja diajukan untuk meluruhkan keheningan yang menyiksa di sekitar meja makan.
"Dia pesek dan pendek," jawaban Aera membuat Aiwan nyaris tersedak. "Hiiks ... aku merindukannya." Aera menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan.
Aiwan menyodorkan selembar tisu, "Kalian pasti sangat dekat. Aku jadi merasa iri."
"Dibandingkan aku, kau dan dia seperti handphone dan charger."
Wajah melongo Aiwan tampak lucu.
"Lalu siapa charger-nya?" tanyanya dengan wajah berkerut.
"Tentu saja pesek."
Aiwan mengangguk tetapi matanya seolah menerawang jauh ke dalam semesta kuantum.
"Bei de wei, kau tahu kabar Cyma?"
Sedikit terkejut Aiwan kembali ditarik sadar dan menatap wajah Aera.
"Temanmu yang artis?" Aera mengangguk, "Bukankah semalam kalian baru bertemu ...," jawab Aiwan sembari melanjutkan makanannya yang sempat tertunda.
"Bertemu? di mana?"
Aiwan meringis, "Kau yang sekarang melupakan semua kejadian sebelumnya?" Aera tahu dia hanya perlu diam menunggu ucapan selanjutnya. "Hmm ... kemarin bahkan dia menginap di sini. Sekitar jam lima pagi dia pulang karena harus terbang ke Luxor melakukan pemotretan."
"Bagaimana dengan Morat?"
"Oh, kakaknya yang bekerja di istana? kabar terakhir sepertinya dia akan naik pangkat menjadi pengawal pribadi putra mahkota ...," ucapan Aiwan terputus.
"Wan, kau tahu Pangeran Epraim?" Dengan cepat Aera menyela, seolah tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan membahas hal berbau istana.
Aiwan terdiam, sejenak dia berpikir. "Oh, pangeran campuran itu 'kan?"
Kening Aera berkerut, "Pangeran Campuran? maksudmu Epraim? ada apa dengan julukan campuran?"
"Aku rasa benar karena tidak ada lagi pangeran bernama Epraim di Neitherland selain dia. Hmm.. mungkin karena ayahnya diduga orang biasa. Ada yang mengatakan salah satu Prajurit sang Putri."
Prajurit? Putri? jadi Epraim bukan anak raja terdahulu? Sejak dulu memang begini atau baru berubah sekarang?
"Huffftt ..." Aera menarik napas dalam dan kembali mengembuskannya dengan malas. "Jadi dia bukan akan raja terdahulu?" sebenarnya itu bukan pertanyaan, tetapi isi pikiran yang tidak sengaja disuarakan.
"Yaa, dia anak Putri Cecil."
Ke dua alis Aera kembali berkerut, ini hal genting. Kemungkinan perawatan mahalnya selama ini tidak bisa mencegah garis halus di sekitar matanya. Dalam sejam entah berapa kali wajahnya mengerut.
Putri Cecil? Bukankah dia ibu Leah? Berarti Epraim juga anak paman?
"Bukan, Putri Leah memang anak paman anda. Tapi sejak berusia dua tahun paman anda akhirnya meninggal dunia dan Putri Cecil berduka dalam waktu yang lama. Beberapa gosip mengatakan dia depresi padahal sebelumnya dia mengklaim sebagai pengikut setia Zerah. Tapi begitulah cinta ..."
Apa-apaan itu? dia bisa membaca pikiranku?
"Dalam titik rendah kesedihannya dia bertemu dengan ayah Epraim, hamil dan melahirkannya walau tanpa izin tetua. Jadi untuk menyelamatkan pangeran campuran itu Raja terdahulu mengangkatnya sebagai anak."
Aera mengangguk. Ternyata ini jawaban kesetiaan Epraim pada Ibrael.