
Aera mengamati dua prajurit yang kini berdiri di hadapan mereka. Di belakangnya merupakan prajurit berwajah cantik. Sedang yang berdiri lebih depan dan sejak tadi menawarkan senyum aneh, terlihat menggunakan topeng silikon.
Ya, Aera tahu karena hak paten silikon karet serupa wajah anti radiasi sekaligus perawatan kulit itu, terdaftar atas namanya. Dia bisa membedakan hanya dengan sekali lihat, seseorang menggunakan topeng rancangannya atau tidak.
"Ah, sudah kuduga, kalian orang yang tidak tahu cara menghargai pertolongan orang
lain," tutur prajurit bertopeng sembari mengerucutkan bibirnya yang tampak seksi dengan topeng silikon paling mutakhir.
Aera melipat ke dua tangan di dada. Gaya favoritnya saat hendak mengintrogasi. "Apa
yang kau inginkan? Tidak perlu berbasa-basi dengan ucapan konyol seolah kaubenar menolong kami. Sebenarnya kau hanya sedang menolong dirimu sendiri. Kautahu kemampuan kami, tanpa bantuanmu mungkin kau pun ikut hancur. Jadi kau berinisiatif menghancurkan temanmu lebih dulu agar kami membiarkanmu, begitu 'kan?"
Prajurit bertopeng tersenyum lebar, "Memang aku tidak pernah salah memilih panutan." Jempolnya teracung ke udara. "Aku selalu suka gayamu, tapi aku harus katakan hipotesismu kali ini salah Nona. Jika saja sang Mutan yang kemaren beraksi di apartemenmu ada di sini, aku tidak akan bertindak sok pahlawan. Masalahnya hanya ada dirimu dan pria tampan rupawan tapi tanpa senjata. Aku tidak bisa
melihat Ilmuan favoritku mati sia-sia. Maka aku membantu dengan segenap ketulusanku.
Percaya atau tidak, tapi aku sungguh salah satu penggemar beratmu yang berada di garis
terdepan. Maka perkenalkan, namaku Aserka, akronim dari Asia Eropa dan Afrika, tapi kalian bisa memanggilku Ries, diambil dari kata Memories. Dan aku yakin
nona telah memahami garis merah yang ada di antaranya." Prajurit topeng yang mengaku sebagai Ries kembali tersenyum aneh diiringi kedipan yang tidak kalah anehnya.
Aera mengangguk, "Nama yang menarik, tapi bagaimana aku bisa percaya jika kau
benar penggemarku, bukan musuh yang ingin menerkamku?"
"Aku bisa memaparkan enam rukun wajib yang Nona amalkan selama di Neitherland. Tapi
sebelumnya aku hanya ingin katakan, sekalipun di dunia paralel aku terlahir sebagai musuhmu, hanya dengan sekali melihatmu aku pasti langsung beralih menjadi penggemar nomor satu."
"Omong kosong," sela Aiwan nyaris tak terdengar.
Aera menatap sang Mutan tidak percaya. Namun, sejurus kemudian dia tersenyum geli.
"Benarkah? Ini gawat, karena aku sendiri tidak tahu ke enam rukun wajib yang kau
bicarakan." Aera mengindik.
"Tentu saja! Beberapa orang di dunia hanya menikmati keindahan bunga tanpa peduli
perbedaan antara satu bunga dan lainnya. Mereka hanya tahu semua bunga indah
dan menarik untuk dinikmati. Beberapa lainnya selektif dan mulai memilih berdasar warnanya, tidak peduli antara bunga daisy, gailardia atau matahari, selagi warnanya sama-sama kuning; sama-sama melambangkan kesucian dan kemakmuran—mereka menyukainya. Tapi, nona harus tahu ada orang yang sepertiku, hanya menyukai bunga matahari. Bukan karena dia bunga matahari, tapi karena karakternya yang
membuatnya layak disebut bunga matahari.
Mengapa bangsa Aztec menyembah bunga matahari? Itu bukan karena dia bunga matahari, tapi karena karakternya sebagai bunga matahari. Dia mengikuti pergerakan matahari,
dewa yang dipuja bangsa Aztec, maka dia pun disembah. Bukankah itu merupakan
langkah cerdas menundukkan species angkuh berjenis homosapiens?”
kecerdasanku memang terlalu menyilaukan.”
Ries menyengir, “Aku selalu merasa aneh, bahkan saat nona bertingkah menyebalkan
tetap saja mengagumkan dan terlihat cantik,” ucapnya sembari memegang dada.
"Astaga tolong kau jangan percaya, pasti dia hanya ingin mendapatkan tanda tanganmu," suara Keri akhirnya menggema di dalam kepala Aera, membuatnya kembali terkejut di saat yang sama merasa senang.
Heh, dasar kera pesek! Aera mengumpat dalam hati ketika menyadari maksud ucapan Keri yang sesungguhnya adalah dia tidak secantik dan seluar biasa seperti yang Ries katakan.
"Jadi, apa enam rukun wajib yang Aera amalkan saat kau menguntitnya?" tanya Gian sembari keluar dari mantel Keri, membuatnya seolah keluar dari celah udara.
"OMG, Gi, Giiii ...! yang mulia, apa barusan anda keluar dari portal waktu antar dimensi? apa ini nyata? atau aku sedang berhalusinasi?" Ries menepuk-nepuk pipinya. Dia berbalik menatap prajurit berwajah cantik di belakangnya, yang langsung melayangkan bogeman tepat di pipi kirinya.
"Moana! aku tidak bermimpi!" Ries melompat girang. Prajurit cantik yang dia panggil Moana tetap berdiri siaga, tanpa senyum; tanpa ekspresi apapun--datar seolah berkata b aja sih.
Ries mencoba kembali tenang. Dia menghela napas dan mengembuskan perlahan. "Oh, no, aku sungguh berada di tengah kelompok yang luar biasa. Aku sungguh bahagia!" ungkapnya dengan cara yang terlalu berlebihan.
"Kalau begitu, sebaiknya kita kembali ke Neitherland. Aku bisa memberikan kalian tempat berlindung yang tidak akan diketahui oleh orang-orang Roschiil dan Pangeran Epraim!"
"Kami tidak mengenalimu lalu bagaimana kami bisa percaya mengikutimu?"
"Oh, mengenai itu, kalian jangan khawatir. Pertama aku tidak mungkin melakukan hal yang membahayakan Nona Aera. Ke dua, aku bukanlah prajurit." Ries menarik kulit lehernya hingga terangkat dan topeng silikonnya terbuka. "Pangeran mungkin tidak mengenaliku, tapi kita pernah bertemu dalam peresmian proyek robot militer aku salah satu programmer-nya.
"Dan sebenarnya jika Nona Aera tidak bolos saat peresmian quantum tunnel, kita pasti akan bertemu juga. Saat itu aku telah membeli kursi VVIV agar bisa bertatap muka langsung denganmu, sayangnya aku harus kecewa karena kau tidak tertarik dengan popularitas dan justru memberi si botak kesempatan untuk terus melambung. Ya, itu salah satu hal yang aku sukai darimu."
Ries bergaya seolah menembak dengan ujung jarinya, kedipan genitnya pun tidak pernah lupa. Namun, ekspresi anehnya seketika berubah saat matanya melirik smartwatch-nya.
"Oh, tidak! Waktunya hampir habis!" pekiknya menangkup wajahnya sendiri. "Asal kalian tahu, aku ke sini dengan mempertaruhkan nyawaku. Mereka pasti memeriksa kamera pengawas dalam LAB maka aku sengaja memanipulasi tampilan kamera pengawas tersebut sampai satu setengah jam kemudian. Dan sekarang hanya tersisa sepuluh menit!
Bukankah tadi aku telah menyelamatkan kalian, sekarang kalian yang harus menyelamatkanku. Bawa aku kembali dengan berteleportasi, kita lanjutkan berbincang di sana."
"Kau menjebak kami?" tanya Aiwan tanpa ekspresi
Ries segera menggeleng. "Mana mungkin!"
"Katamu di sana ada kamera pengawas, dengan mengantarmu, kami akan tertangkap."
"Sebelumnya kalian bisa masuk ke apartemen Aera tanpa terlihat oleh kamera pengawas. Dan juga, aku bisa memberikan apartemenku sebagai tempa persembunyian kalian. Di sana Nona Aera bisa melakukan perawatan kulit dan merawat luka-lukanya dengan serumnya sendiri."
Wajah Aera sumringah, dia memang sangat ingin mandi dan berendam air hangat yang dicampur mineral dan sari bunga. Tidak lupa melakukan masker wajah dengan serum ajaibnya. Tiga Minggu di pare, benar-benar membuat kulitnya sengsara.
"Ayo kita pergi sekarang juga! aku tidak bisa menanggung hutang budi jika Ries ketahuan dan harus dieksekusi hanya karena menyelamatkan bintang favoritnya." ucapnya antusias yang sejatinya hanyalah alasan belaka.
"Sekalipun penuh muslihat, tapi aku tetap saja terharu mengetahui Nona memikirkan nasibku." Ke dua mata Ries berbinar-binar.
Aiwan menatap Gian, dan sang pangeran hanya mengindik santai.
"Ayolah aku juga berharap bisa mendapatkan makanan enak di sana." Suara Keri yang mengema dalam kepala Aiwan, Aera dan Gian membuat Aera bersorak yes.