My Teacher is an Agent

My Teacher is an Agent
Chapter 98



Meskipun belum lama para siswa GIS itu tiba di lokasi, namun nampaknya si pembina tidak berniat untuk menunda-nunda aktivitas mereka. Segera saja kegiatan demi kegiatan berlangsung sesuai jadwal yang telah dibuat.


Dan kegiatan pertama hari ini adalah berolahraga. What??? Olahraga?!


Why not??? Namanya juga sekolah berstandar internasional. Mau bagaimanapun kondisinya, kesehatan dan kebugaran para siswa adalah yang utama. Lantas, olahraga jenis apa yang akan mereka lakukan di tempat itu? Apakah panjat tebing? Paragliding? Atau mungkin bungee jumping? Atau malah perlombaan renang di danau berair dingin? Sepertinya semua menjadi option yang menarik.


Tapi sekali lagi, realita tak selalu seindah ekspektasi. Dari sekian banyak pilihan aktivitas outdoor yang menyenangkan, justru bertanding voli menjadi jenis olahraga yang harus mereka lakukan.


Seketika teriakan malas terlontar dari mulut para siswa itu. Pasalnya, bermain voli bukanlah sesuatu yang menghibur layaknya basket ataupun sepak bola. Jenis olahraga yang satu ini sering dianggap kurang populer. Jadi tak sedikit yang kurang berminat dengan permainan ini.


"Ayooo… Ayooo… Kalian ini siswa bertaraf internasional. Jadi segala cabang olahraga harus bisa kalian kuasai. Dan pihak sekolah juga sudah mempersiapkan semua yang dibutuhkan untuk pertandingan ini." teriak salah seorang guru yang berusaha menyemangati para siswa manja itu.


"Nggak cocok kali, Pak… Di gunung kayak gini kita main voli. Kita bukan di pantai lho yaa…" seorang siswa berkepala plontos melayangkan protesnya dengan lantang. Dan langsung saja diamini para siswa yang lain.


"Begitu??? Bagaimana kalau saya bisa membuktikan hal sebaliknya?" kali ini sebuah suara mezzo-sopran ikut andil dalam perdebatan itu.


"Maka kalian harus siap untuk berenang di danau itu…"


"Tapi bu…"


"Sssttt... Saya tidak suka dibantah."


Siapa juga yang berani membantah wanita keturunan tiran itu? Meski olahraga bukan mata pelajaran yang penting-penting amat, tapi konsekuensi hukuman dari sang guru lebih menakutkan daripada nilai merah yang di dapat.


Dan dengan sekali tiupan peluit, seluruh siswa yang otaknya masih bekerja langsung bergegas mengganti pakaian mereka dan bersiap membentuk kelompok bermain.


Pertandingan pertama diawali oleh dua grup yang masing-masing memiliki enam pemain dengan Samuel sebagai kapten dari salah satu tim yang ada di sana.


Seperti biasa, para siswi perempuan selalu berteriak histeris setiap idola mereka berhasil mencetak poin. Mereka seolah mengabaikan fakta kalau guru yang saat ini bertugas sebagai wasit itu adalah pacar dari sang bintang sekolah. Yang jelas, para suporter itu hanya ingin berlomba untuk menarik perhatian si kapten. 


"Samuel… Lo keren banget…"


"Aaarghhhh… Smash lagi, Sam!"


"Fighting Samuel…"


Kira-kira begitulah teriakan yang menggema di area perkemahan itu. Dan tidak ada panggilan lain yang terdengar selain nama Samuel. Memang tidak ada yang lain? Tentu saja ada, tapi mereka hanya pion yang tak begitu berguna.


Dasar… Bocah-bocah kecentilan!!! batin Zoey yang mulai gerah dengan suasana di tempat tersebut. Padahal suhu udara di sana sedang menurun. Entah kenapa hatinya terasa panas dan sesak. Mungkinkan karena cemburu?? Nonsense!!!