
Entah kenapa udara malam ini terasa lebih dingin dari biasanya. Apakah memang faktor cuaca atau hanya atmosfer di rumah itu yang rasanya berbeda?
Samuel segera mengenakan sarung tangan serta masker yang diberikan Zoey. Dengan sangat pelan ia membuka handel pintu. Yes! Tidak terkunci. Samuel dan Leo segera memasuki pondok tersebut sambil mengendap-endap agar tidak ketahuan si tuan rumah. Bagaimanapun juga, mereka ini bukan tamu yang diharapkan apalagi diundang.
"Sekarang kita kemana?" bisik Leo dengan pelan di telinga Samuel.
Samuel menggeleng. Tapi dia tetap melangkah. Cowok itu mencoba mengikuti instingnya.
Pertama mereka memasuki sebuah ruangan yang cukup besar dengan beberapa perabot tertutup kain. Debu dan sarang laba-laba berseliweran dimana-mana. Menandakan bangunan yang mereka masuki telah lama tak berpenghuni.
Selanjutnya mereka berjalan semakin masuk ke dalam. Ada dua ruangan dengan pintu tertutup rapat. Satu di antaranya tidak ada tanda-tanda kehidupan. Namun tampak seberkas cahaya dari dalam kamar yang lain.
Bukan cahaya lampu yang terang tentu saja, melainkan hanya sebuah sinar kecil yang kemungkinan berasal dari lilin atau sebuah lampu minyak. Semakin diperhatikan pondok tersebut semakin terlihat seram.
"Lo mau masuk ke sana? Kok perasaan gue nggak enak ya??"
Leo semakin merapatkan badan ke punggung Samuel. Dia tidak lagi malu menunjukkan rasa takutnya.
"Sebenernya mendingan ke kamar cewek gue dari pada ke sana. Tapi gue penasaran banget. Siapa tau ada cewek cakep..."
Samuel menelan ludah. Jujur saja sejak awal dirinya juga merasa takut. Tapi demi menjaga gengsi, dia tidak sudi mengakui semua itu. Terlebih di hadapan Leo. Cowok tukang gosip itu sudah pasti akan membuat Samuel menjadi bahan hinaannya.
Baik Samuel maupun Leo berharap bisa menyelidiki rumah tersebut dengan cepat dan tanpa suara. Mulanya karena tidak ingin menarik perhatian oknum-oknum tertentu, dua penyusup itu memilih melakukan aksinya di dalam kegelapan. Sebaliknya, dalam kegelapan yang suram, perasaan tidak enak yang mereka rasakan semakin menguasai hati.
Kewaspadaan tinggi terpancar dari wajah keduanya, jika sewaktu-waktu mereka bertemu sesuatu -atau sesosok makhluk- yang tidak ingin mereka jumpai. Langkah demi langkah Samuel bergerak menuju ruangan dengan sebuah cahaya temaram. Dan sang teman dengan setia mengekor di belakangnya.
Sesaat setelah pintu terbuka, terpampang sebuah pemandangan yang mengejutkan. Samuel hanya melongo melihat isi kamar itu. Semuanya berantakan. Samar-samar terlihat beberapa perabotan besar yang terguling. Juga kertas-kertas dan bungkus makanan berserakan di lantai.
Kamar tersebut nampaknya pernah digunakan selama beberapa waktu. Mungkin kurang dari sebulan. Terbukti ada tumpukan sampah yang masih segar, juga baju-baju kotor yang belum sempat dicuci pemiliknya.
Samuel dan Leo memasuki kamar dengan sangat hati-hati. Mereka tidak ingin menginjak sesuatu yang bisa saja membuat terluka, seperti pecahan kaca misalnya. Dengan minimnya cahaya di kamar berukuran kecil itu, hampir tidak ada yang bisa dilihat.
"Aneh," gumam Samuel. "Ini cuma perasaan gue aja, ato emang kamar ini terasa mengerikan?"
"Lo sih nggak percaya omongan gue!! Udah jelas rumah ini tuh horor banget. Ngapain lo nekat masuk ke kamar ini." tukas Leo jengkel.
"Ayo kita geledah kamar ini." ajak Samuel penuh semangat.