
Hanya dengan kalimat singkat itu, wajah Samuel langsung memanas. Ia yakin kalau saat ini pasti wajahnya sudah memerah. Untung saja keadaan di sekitar mereka gelap gulita, sehingga ia tidak harus mendengar cemoohan dari orang-orang. Khususnya Leo, si cowok gossiper.
"Kamu sekarang pergi ke penginapan dan istirahat. Aku akan mencari Leo."
Kali ini Zoey mengangguk dengan cepat. Ia segera melangkah ke penginapan sesaat setelah kepergian Samuel. Apa kalian pikir Zoey begitu saja menuruti perkataan pacarnya?
Memangnya siapa dia?? Si Agen Rahasia dengan segudang talenta tentunya tidak akan mudah tunduk di hadapan bocah SMA.
Sejujurnya, Zoey bertindak seperti itu hanya agar Samuel tidak curiga. Ia telah menyusun sebuah rencana di dalam otak jeniusnya. Apapun yang terjadi, malam ini Zoey harus bisa mengirim si pisikopat ke penjara. Kalau perlu ke neraka.
Di sisi lain…
"Yo, gue butuh bantuan lo."
Samuel menghampiri Leo yang tengah sibuk berbenah untuk tidur.
"Apalagi? Kan udah gue pesenin kamar buat lo sama bu Zoey. Udah gue beliin ****** juga!"
"Lupain aja! Gue nggak akan sempat pakai semua itu."
Leo mengernyit heran. "Maksud lo apa, heh?"
"Malam ini lo nggak boleh tidur. Lo temenin gue buat jadi spy."
"What?! Di tempat seperti ini??? Lo udah gila kali ya…"
Samuel sontak membungkap mulut Leo karena Singa lemes itu terlalu keras berteriak.
"Pelanin suara lo!!! Awas aja kalau si Kentang sampai denger!"
"Si Kentang??? Jadi lo mau kita mata-matain bocah itu maksudnya?"
Samuel mengangguk singkat sebagai tanda jawaban.
"Ya Tuhan… Anak itu bikin ulah apalagi??"
"Lah! Kalau itu pan lo juga tau. Itu bocah otaknya emang rada sedeng. Alias nggak waras. Sakit jiwa. Bocah gendheng."
"Sssttt… bisa diem nggak?! Gue nggak butuh protes lo! Sekarang lo bawa pisau lipat dan ikutin gue!"
Leo menghela napas panjang. Ia heran kenapa tidak ada satupun yang memberikannya penjelasan tentang semua ini. Ia hanya terus-terusan dipaksa melakukan sesuatu yang tidak jelas. Bahkan terkadang sampai menantang nyawa.
Keduanya lantas menghampiri salah satu tenda yang diyakini milik si Denish. Tapi mereka tidak menemukan orang itu di sana. Perasaan tidak enak seketika memenuhi hati Samuel.
Ia bergegas ke penginapan yang telah dipesan Leo sebelumnya. Berharap semoga feeling nya salah. Namun lagi-lagi kenyataan tak selalu sesuatu harapan.
Benar saja, sosok yang ia khawatirkan telah menghilang dari kamarnya.
"Sialan! Zoey hilang!!!" pekik Samuel sambil mengusap kasar wajahnya.
"Ilang gimana maksud lo??"
"Kita harus temuin Denish sekarang, Yo! Zoey dalam bahaya!"
"What??? Oke gue akan coba minta bantuan sama…"
"Nggak perlu! Lo cukup ikuti intruksi gue. Lo simpan ini."
Samuel mengangsurkan sebuah botol spray yang telah diisi dengan obat bius dosis tinggi. Sehingga dengan sekali semprot, seseorang akan langsung terkapar tak berdaya. Bagaimanapun juga Samuel tidak ingin langsung mengakhiri hidup seseorang hanya karena emosi yang meledak di hatinya. Dalam keadaan apapun Samuel harus tetap bisa mempertahankan kewarasannya.
"Ini apa?"
"Obat bius. Lo harus semprot itu setelah dapat intruksi dari gue. Jangan bertindak semau lo sendiri. Ngerti?!"
"Iya-iya… Daripada lo cerewet di sini, mending kita cari pacar lo itu sekarang. Katanya dia lagi dalam bahaya…"
"Tumben lo pinter?"
Tanpa bermaksud memperpanjang obrolan, Samuel dan Leo bergegas menyusuri hutan yang gelapnya na'udzubillah…