
"PAPA??!"
Belum sempat sang papa menyelesaikan kata-katanya, cowok itu sudah berlari menghampiri Aaron Kaniel dan langsung memeluknya.
"Maafkan papa mengganggu tidurmu, Sam." sahut Aaron Kaniel seraya mengusap kepala calon mantunya itu.
"Nggak kok. Papa sendirian aja? Zoey mana???"
"Dia di rumah. Ada beberapa hal yang harus dia kerjakan."
Kedua orang tua Samuel hanya melihat dengan raut wajah yang sulit dijelaskan. Bagaimana bisa anak itu kenal dengan sahabat mereka? Bukan hanya kenal, tapi barusan Samuel memanggilnya dengan sebutan 'PAPA'???
"Tunggu dulu… Kalian sudah kenal??? Bagaimana bisa?" tanya Papa Samuel kebingungan.
"Tentu saja. Masa aku tidak kenal dengan calon mantuku sendiri…"
Kali ini bukan hanya bingung, mereka sudah seperti mendapat prank di hari April Mop. MENANTU??? Kedua orang tua Samuel tidak tahu lagi harus mendefinisikan kata itu seperti apa. Mereka akan sangat bersyukur kalau ada orang yang bisa menjelaskan situasi membingungkan ini.
[Mungkin hanya Author yang tahu... 😁😁😁]
"Apa maksudmu dengan menantu, Niel. Jangan-jangan maksudnya…"
"Jadi Papa Kaniel ini ayahnya pacar aku, Pa. Namanya Zoey. Kapan-kapan deh aku kenalin dia sama Papa dan Mama."
"Papa Kaniel??? Ya Tuhan… Bisakah kamu menjelaskan semua ini, Sam? Papa dan Mama sangat bingung sekarang." sahut sang mama yang juga dibuat pusing oleh anaknya.
"Jangan bilang kamu…"
Ayah Zoey yang bisa membaca arah pembicaraan sahabatnya itu langsung menyela sebelum mereka terlibat salah paham yang lebih jauh.
"Tidak perlu khawatir, Ndrew. Samuel anak yang baik. Dan dia juga tidak pernah berbuat hal buruk pada putriku."
Meskipun tidak terlalu kentara, tapi ada perubahan pada wajah orang tua Samuel yang semula terlihat tegang kini menjadi lebih tenang.
Mama Samuel undur diri untuk menyiapkan minuman dan beberapa hidangan makan malam. Sahabat suaminya berarti tamu penting yang sudah selayaknya mendapat jamuan istimewa. Apalagi Aaron Kaniel sudah dianggap seperti keluarga bagi mereka.
"Oh ya, Papa ada perlu apa ke sini?"
"Papa ingin membicarakan soal teman kamu yang bernama Denish. Apa benar kamu sudah tahu misi khusus yang dijalankan Zoey saat ini?"
Samuel mengangguk pelan. Ia takut kalau calon mertuanya itu bakalan marah besar dan berbalik menentang hubungannya dengan Zoey karena masalah ini.
"Sampai sejauh mana kamu tahu, Sam?"
Samuel bergeming. Ia tidak berani menjawab sepatah kata pun. Dan Papa Samuel yang juga berada dalam satu ruangan itu hanya menatap bingung mendengar pembicaraan keduanya.
"Kamu tidak perlu takut, Sam. Papa tidak marah. Papa hanya khawatir kalau kamu juga ikut terlibat dalam bahaya."
"Maafin aku, Pa. Aku cuma mau membantu dan melindungi Zoey. Aku merasa seperti cowok nggak berguna kalau lihat kondisi Zoey seperti di rumah sakit kemarin."
"Hahaha… Tidak usah takut begitu, Sam. Zoey bukan wanita sembarangan. Bahkan kalau dia sudah marah, dia bisa lebih berbahaya dari Papa."
"Tunggu dulu… Ini kalian sedang ngomongin apa sebenarnya? Bahaya apa maksudnya??"
Papa Samuel yang sudah tidak tahan mendengar obrolan tidak jelas itu, akhirnya buka suara. Tapi bukan mendapat jawaban, dua orang itu malah kembali larut dengan obrolan mereka.
"Terus sekarang Papa mau aku gimana?"
"Karena kamu sudah terlanjur tahu, terpaksalah Papa ajarkan kamu memakai senjata. Minimal buat jaga diri di saat terdesak."
"Serius, Pa??!" Samuel memekik kegirangan. Ia tidak menggubris raut muka sang papa yang mulai berubah gusar.
"WHAT?!! SENJATA??? PISTOL MAKSUDNYA?!!"