My Teacher is an Agent

My Teacher is an Agent
Chapter 70



Mereka kemudian saling membersihkan diri satu sama lain sampai terdengar suara pintu dibuka yang membuat mereka tercekat seketika.


"Kamu diam di sini saja. Jangan bersuara." bisik Samuel.


Zoey mengangguk menurut.


"Sam, kamu sedang mandi?" suara Ayah Zoey terdengar dari dalam kamar Samuel.


Samuel memakai kimono mandinya dan bergegas keluar. Tak lupa ia mematikan lampu kamar mandi agar ayah Zoey tidak melihat anaknya yang tengah bersembunyi di dalam.


"Ada apa, Pa? Samuel nggak denger kalau Papa masuk ke sini." ucap Samuel seraya mengeringkan rambutnya dengan handuk untuk menutupi kegugupannya.


"Papa cuma mau bilang, hari ini kamu bisa mulai latihan menembak. Nanti anak buah papa yang akan melatih kamu."


"Beneran, Pa?? Makasih…" serta merta Samuel memeluk ayah Zoey dengan erat. Ini bukan sekedar pura-pura, tapi dia sungguh senang.


Sementara di dalam kamar mandi Zoey mendengus kesal. Kenapa ayahnya harus menuruti kemauan Samuel. Padahal dirinya sangat tidak suka kalau cowok itu melibatkan diri dalam bahaya.


"Ya sudah. Kamu ganti pakaian dan segera ke area latihan. Agen Tiger sudah menunggu di sana."


"Siap, Pa!"


Ayah Zoey tertawa pelan melihat sikap Samuel. Kini pria tersebut sudah menganggap Samuel seperti anak kandung sendiri. Karena sebenarnya ayah Zoey sangat ingin memiliki anak laki-laki. Namun sayang, sang istri tercinta lebih dulu pergi meninggalkannya, sehingga mustahil impian itu terwujud.


Sepeninggal ayah Zoey, Samuel kembali masuk ke dalam kamar mandi dan menghampiri pacarnya yang sudah menggigil kedinginan. Samuel langsung mengangkat tubuh cewek itu dan membopongnya ke tempat tidur. Ia mendudukan Zoey dengan perlahan kemudian memakaikan sebuah kemeja oversize yang ia temukan di dalam lemari.


"Masih sakit?" tanya Samuel dengan suara lembut sambil mengusap perut pacarnya itu.


"Sedikit."


"Maaf ya. Harusnya aku lebih bisa tahan diri."


Cup!


Samuel menyapukan ciuman singkat pada puncak kepala Zoey. Tidak bisa dipungkiri dia memang senang melakoni kegiatan panas itu. Bukan hanya senang, tapi sangat-sangat menikmati. Bahkan sampai sekarang pun Samuel masih bisa merasakan betapa hangatnya lubang itu. Namun jika ingatan itu diputar ulang kembali, serasa ada sesuatu yang menghantam dadanya dengan keras.


Terlebih ketika teringat wajah manis pacarnya yang mengalirkan air mata. Samuel merasa sikapnya tak lebih baik dari seorang bajingan. Bagaimana tidak? Dirinya yang masih berstatus pelajar SMA, dengan beraninya memerawani seorang gadis yang tak lain adalah gurunya sendiri. Sungguh tindakan yang tidak bermoral.


[Harap jangan dicontoh! 🙏🏻🙏🏻🙏🏻]


"Sayang, kamu kenapa nangis?"


Zoey terpana menyaksikan sebuah pemandangan langka yang mungkin baru kali ini ia melihatnya. Seorang Samuel Paxon, cowok arogan yang selama ini terkenal bengal dan hobby menindas, sekarang tengah terisak di hadapan kekasihnya. What the hell???


"Nope. Aku sedih aja udah melakukan hal bejat itu ke kamu."


"Hey, Sam… Are you kidding? Jujur, aku benar-benar ingin tertawa sekarang."


Mungkin kebanyakan remaja akan merasa sangat bangga bisa melakukan hal dewasa seperti itu, apalagi kalau yang menjadi mangsanya seorang perawan. Tapi rupanya teori tersebut tidak berlaku pada Samuel. Haruskah ini sesuatu yang patut disyukuri? Atau justru Zoey harus curiga dengan bocah itu? Jangan-jangan ada kelainan dengan otaknya.


"Kamu kenapa? Biasanya para cewek akan menangis jejeritan saat kehilangan milik mereka yang berharga. Tapi kamu malah ketawa??" tanya Samuel dengan raut muka datar.


"Maaf, Sayang… Habisnya kamu juga aneh. Kenapa kamu malah nangis seperti itu? Bukannya cowok seumuran kamu paling nggak tahan dengan yang namanya free sexs? Dan kamu baru saja melakukan itu."


Samuel memberengut kesal. Sia-sia dia menyesali perbuatannya. Yang ada hal itu malah jadi bahan olok-olokan untuk sang pacar.


"Aku begini karena takut kalau kamu kecewa. Dan asal kamu tau, aku nyesel banget udah melakukan itu sama kamu. Harusnya kamu marah sama aku, Zoey!"


"Ok, Sam. Aku memang baik-baik saja, tapi itu beberapa menit yang lalu. Dan sekarang aku mulai marah sama kamu!"


"Memang seharusnya begitu. Aku tahu kalau aku ini cowok brengsek. Bahkan aku tidak keberatan kalau kamu menganggap ku bajingan."


"Bukan itu, Samuel! Aku marah karena kamu merasa menyesal. Kamu menyesali semua yang baru saja kita lakukan. Itu berarti tindakan tadi hanya karena mengikuti insting nafsumu yang sialan itu! This isn't because of love?!"


Cup!


Seketika Samuel menarik tengkuk Zoey lalu melumat bibir cewek itu dengan sebuah ciuman yang dalam dan intens.


"Bukan begitu maksudku, Honey… Justru karena aku cinta sama kamu aku jadi menyesal begini. Seharusnya aku menjaga kehormatan seseorang yang aku sayang. Melindungi dia. Tapi apa yang aku lakukan? Aku hanya diam melihat kamu terluka dua kali di depan mataku sendiri. Dan sekarang aku juga yang merusak kehormatan kamu…"


"Dengarkan ini Samuel Paxon! Kamu laki-laki yang baik. Persoalan aku terluka, itu semua bukan salah kamu. Memang seperti itulah resiko pekerjaan aku. Dan untuk yang tadi kita lakukan, aku bahagia. Sungguh. Aku sama sekali tidak menyesal apalagi menyalahkan kamu. Aku harap kamu berpikir hal yang sama denganku. Apakah aku salah?"


Samuel menggeleng lemah. "Sekali lagi maafkan aku, Honey…"


Zoey mengusap lembut pipi Samuel dan hanya tersenyum mengangguk tanpa berniat memberikan jawaban. Mereka lantas berbaring sambil berpelukan. Aroma sabun yang menguar dari tubuh Samuel membuat rasa kantuknya seketika menyerang. Ingin secepatnya Zoey terlelap ke alam mimpi andai saja 'sesuatu' itu tidak mengusik pikirannya.


"Oh ya, Yank… Boleh minta sesuatu nggak?"


"Anything, Honey…"


"Jangan berlatih menembak ya? I don't want you to get hurt…"


Samuel tersenyum lembut dan kembali meraih kepala Zoey ke dalam dekapannya.


"Tidurlah, Honey… Jangan cemaskan apapun."


Perlahan ia mengusap kepala Zoey sampai akhirnya cewek itu tertidur pulas.


Samuel mengecup lama kening gadisnya itu. Ia tersenyum sekaligus sangat berterima kasih karena memiliki seorang Zoey di sisinya.


Tidak sekalipun Samuel membayangkan dirinya akan terlibat dalam sebuah hubungan dengan seseorang. Terlebih lagi sampai membawa kata 'cinta' di dalamnya. Who knows something will happen?