My Teacher is an Agent

My Teacher is an Agent
Chapter 80



Samuel mengemudikan kendaraan roda empat itu tanpa kendali. Ia ingin secepatnya sampai di rumah Zoey dan melaporkan segalanya. Kali ini hilang sudah batas kesabaran Samuel terhadap perilaku kejam Denish. Jangankan memberi maaf, melihat mukanya saja ia tak sudi.


Sekelebat memori kejadian itu kembali terlintas di benak Samuel. Dia telah bersumpah akan merobek kepala oknum pelaku yang berani melukai orang-orang di sekitarnya. Setiap tetes darah yang keluar, bisa dipastikan akan dibayar mahal oleh orang tersebut suatu saat.


"Sam… lo bisa pelan dikit bawa mobilnya? Inget kita masih butuh nyawa buat balas si keparat Denish itu."


Leo menggenggam erat sabuk pengaman yang melingkari tubuhnya. Nyalinya mulai ciut, mengingat armada yang ditumpanginya bukan sekedar kendaraan biasa. Meskipun bertipe sedan, nyatanya tetap saja mobil tersebut tergolong supercar bertenaga dewa. Dengan merk Porsche Panamera Turbo S, sedan jenis ini sanggup melesat hingga kecepatan maksimum 308 km/jam. Bahkan Leo sanksi kalau Samuel pernah mengendarai mobil ini sebelumnya.


"Ini belum seberapa, Man… Enjoy your trip!" ucap Samuel sinis. Raut muka kesal dan marah terpatri jelas di wajah tampannya.


Sesuai ucapannya, mobil itu kembali melesat dengan kecepatan tak terhingga di bawah kendali Samuel. Jalanan yang lumayan padat tidak membuatnya kesulitan. Layaknya bermain sebuah game, Samuel memutar pegangan stir dengan sangat lihainya. Membuat Leo semakin gemetaran.


Namun berkat hal tersebut, kini mereka telah sampai di depan sebuah gerbang besi yang tinggi menjulang. Seperti biasa, seorang penjaga bersenjata lengkap datang menghampiri Samuel dan meminta verifikasi identitas melalui alat pemindai sidik jari. Setelah itu gerbang akan otomatis terbuka.


Samuel terlihat tenang dan kembali melajukan mobilnya.


"Itu tadi apa?" tanya Leo penasaran.


"Bukan apa-apa. Cuma mastiin aja kalau gue tuan rumah di sini." Samuel terkekeh dengan mata tetap terfokus pada jalanan yang tampak gelap.


Leo melongok keluar jendela. Jalanan tampak sepi mencekam. Meskipun tanpa penerangan, terlihat jelas siluet pepohonan tinggi yang rimbun dan tertata rapi.


Apa ini hutan?? batin Leo.


"Kita mau kemana?" tanya Leo pada akhirnya. Ia sadar kebungkaman tidak akan menyelamatkan.


"Ke rumah gue." jawab Samuel singkat.


"Lo jangan bercanda, Sam! Gue tau betul yang mana rumah lo."


"Beneran. Ini rumah gue. Rumah masa depan lebih tepatnya…"


Rumah masa depan??? Kuburan maksudnya???


Fix...! Sekujur tubuh Leo melemas seketika. Ia paham betul kalau orang yang tengah duduk di sebelahnya ini tidak pernah bermain-main dengan ucapan. Sekali dia mengancam, seperti itulah yang akan terjadi selanjutnya. Mungkinkah kali ini Samuel telah menyiapkan tanah pemakaman untuk Si Singa?


"Gue tau kalo lo berniat membungkam mulut gue. Tapi apa lo sampai harus menghabisi nyawa gue juga?! Gue salah apa sama lo?!" hardik Leo dengan suara lantang. Namun di balik teriakan tersebut terselip nada ketakutan.


Samuel menoleh sejenak, memicingkan matanya menatap Leo.


"Lo udah nggak waras? Siapa juga yang butuh nyawa lo?"


Mobil yang mereka kendarai mendadak berhenti di depan sebuah rumah mewah dengan suasana temaram. Membuat Leo terheran. Pasalnya bangunan tersebut baru pertama kali ia lihat. Dan bukan juga tanah pemakaman seperti yang Samuel sebutkan.


Bangunan itu terlihat normal seperti hunian pada umumnya. Hanya sedikit kurang pencahayaan saja.