My Teacher is an Agent

My Teacher is an Agent
Chapter 44



Seperti yang sudah direncanakan, hari ini Zoey dan Samuel akan pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Cindy. Samuel terlihat rupawan dengan outfit yang disiapkan oleh kekasihnya. Ia mengenakan celana jeans selutut dengan t-shirt abu-abu dan sebuah kemeja putih lengan pendek sebagai outer. Penampilan yang sempurna.


Bahkan Zoey hanya bisa terkesima saat ia melihat Samuel sudah menunggunya sambil bersandar pada kap mobil. Semoga penampilannya juga tidak mengecewakan. Ia tidak ingin dengan jelas memperlihatkan perbedaan umur mereka. Jadi sebisa mungkin Zoey memilih outfit yang sepadan dengan Samuel.


"Kunci mobil sudah kamu bawa, Yank?" tanya Zoey sambil membetulkan tali sepatunya yang terlepas.


"Ini udah ad…"


Kata-kata Samuel terhenti ketika melihat Zoey melenggang menghampirinya. Cewek itu terlihat sangat manis dengan dress biru muda selutut ditambah jaket denim berlengan pendek di bagian luar. Tak lupa Zoey memakai sneakers putih dan sebuah topi fedora coklat untuk melengkapi ootd nya.


Semua yang dikenakan Zoey tampak melekat dengan sempurna. Tidak norak tapi juga tidak membuatnya terlihat lebih dewasa. Samuel merasa mereka berdua seumuran, kalau saja Zoey lebih sering berpenampilan seperti itu. Benar saja umur memang bukan halangan bagi mereka yang dimabuk cinta…


Samuel bahkan harus berpura-pura membetulkan jam tangan untuk mengatasi kegugupannya.


Kenapa Zoey kelihatan cantik banget hari ini?


"Sini aku saja yang nyetir." Zoey meminta kunci mobil dari tangan Samuel.


"Jangan ngremehin aku, honey… Gini-gini aku juga sudah punya SIM."


"Aku tahu. Tiap hari kamu bawa mobil ke sekolah. Tapi sekarang biar aku saja yaa…" bujuk Zoey sambil mengerlingkan matanya.


"Nggak mau…"


"Sini kuncinya!"


"Nggak!"


Ayah Zoey menggeleng kepala. "Kalau kalian sama-sama ingin bawa mobil, nggak perlu rebutan! Zoey kamu pakai mobil papa!"


"Kok malah jadi bawa mobil sendiri-sendiri sih, Pa?" tanya Samuel bingung.


"Salah siapa kalian ribut rebutan mobil?" Ayah Zoey tampak berpikir sejenak. "Atau ayah antarkan saja kalian berdua. Gimana?"


"Nggak perlu, Pa. Biar Samuel saja yang nyetir." Zoey akhirnya mengalah daripada mereka harus menanggung malu karena diantar ayahnya.


Yang dimaksud mengantar di sini, bukan sang Ayah yang menemani mereka dalam satu mobil. Tapi ayahnya akan membawa sederet pengawal dengan mobil yang berbaris bagaikan konvoi. Tentu saja Zoey tidak mau hal seperti itu terjadi.


"Pacar yang pinter…" goda Samuel yang merasa menang melawan Zoey.


"Begitu kan enak… Samuel, pakai mobil papa saja." sahut Ayah Zoey.


"Siap, Pa!"


Zoey menghentakkan kakinya sambil mendengus kesal. Ia lantas masuk ke dalam mobil tanpa perlu menunggu Samuel membukakan pintu untuknya.


Sejurus kemudian mobil yang mereka kendarai sudah melesat di jalan raya. Akhirnya mereka mengendarai mobil ayah Zoey dengan alasan untuk menjaga keamanan mereka. Itupun atas paksaan sang ayah yang mengancam akan mengantar mereka kalau perintahnya ditolak.


Zoey melirik sekilas ke jok belakang. Seperti perkiraannya, di dalam mobil tersebut sudah dibekali berbagai persenjataan. Mulai dari senapan laras pendek hingga laras panjang.


Dan kalau Zoey tidak salah lihat, di situ juga ada sebuah kaleng kecil yang berisi bahan peledak. Zoey menggeleng tak habis pikir, mereka hanya akan pergi ke rumah sakit. Bukannya ikut perang di daerah perbatasan atau apa. Ayahnya benar-benar over protektif.