My Teacher is an Agent

My Teacher is an Agent
Chapter 10



Kantor Guru…


Zoey memasuki ruang guru dan disambut dengan pemandangan yang mengejutkan. Beberapa guru perempuan menangis sesenggukan sambil saling berpelukan. Terlihat kepala sekolah juga sedang mondar mandir sambil sesekali menghubungi seseorang dengan telepon yang ada di atas mejanya. Semua guru tampak panik dan cemas.


Zoey mendekati seorang guru laki-laki yang sedang duduk termenung di depan mejanya, "Ini ada apa ya Pak? Kenapa semua cemas seperti ini?"


"Oh ibu Zoey. Begini bu, tadi pagi ada siswi kita yang jadi korban penculikan."


"Hah?! Siapa Pak? Terus kejadiannya di mana?" seketika perasaan Zoey menegang mendengar penjelasan singkat dari rekan gurunya itu.


"Saya dengar namanya Jasmine. Menurut cerita anak-anak tadi, kejadiannya pas di depan gerbang sekolah kita. Si anak tiba-tiba dipukul lalu dibawa pergi dengan mobil. Saya tidak menyangka ada orang yang berbuat senekat itu. Secara sudah di depan wilayah kita, bukankah itu terlalu beresiko Bu?" jelas si guru laki-laki yang Zoey ketahui bernama Louis.


Zoey hanya terpaku memikirkan penjelasan yang ia dengar. Jasmine? Sepertinya Zoey tidak asing dengan nama itu. Kalau benar semua itu terjadi di depan sekolah, berarti si pelaku penculikan bukan orang sembarangan. Meskipun bukan seorang yang profesional, minimal si oknum merupakan orang yang cukup terlatih.


"Apa tidak ada satu orang pun saat kejadian? Bagaimana dengan satpam depan?" tanya Zoey penuh selidik.


"Saat itu sekolah masih sepi, baru beberapa murid saja yang datang dan kebetulan tidak ada seorangpun di halaman sekolah. Satpam depan juga sedang briefing di ruang kontrol keamanan."


Zoey terdiam sejenak untuk berfikir. Jika memang tidak ada satupun saksi kejadian, bagaimana bisa cerita ini tersebar begitu saja?


"Jika memang tidak ada saksi, dari mana bapak tau kronologi kejadian ini?" akhirnya terucap juga pertanyaan yang menggantung di benak Zoey.


"Ada satu bu Zoey. Namanya Cindy. Sekarang siswi itu sedang istirahat di ruang UKS. Dia masih shock karena menyaksikan kejadian itu secara langsung."


Tanpa pikir panjang Zoey bergegas menuju ruang UKS. Nalurinya mengatakan kalau ada sesuatu yang tidak beres dengan semua ini. Sebuah penculikan tanpa saksi, tapi ada satu orang yang bisa menceritakan kronologi kejadian secara jelas. Apakah itu memang kebetulan atau ada sesuatu yang lebih berbahaya dari semua ini? Shit! Kalau benar anak yang di UKS menyaksikan semua kejadian, berarti nyawa anak itu sedang dalam bahaya!


Zoey mempercepat langkahnya bahkan ia sudah setengah berlari sekarang. Tidak peduli dengan stiletto yang menempel di kakinya. Dalam hati cewek itu mengumpat kesal, kenapa gedung sekolah ini begitu luas! Dan sialnya ruang UKS berada jauh dari ruang guru. Ia harus secepatnya sampai di UKS sebelum terjadi sesuatu dengan siswi tersebut.


BRAAKKK…


Zoey membuka pintu ruang UKS dengan kasar. Hanya ada seorang petugas kesehatan yang terlonjak kaget dengan kedatangan Zoey yang tiba-tiba. Zoey mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan tapi ia tidak menemukan seorang siswa pun di sana.


"Ibu Zoey cari siapa ya?" tanya Siska seorang Mahasiswa kesehatan yang sedang magang di sekolah tersebut.


"Saya mencari anak yang tadi pagi pingsan. Katanya dia dibawa kesini,"


"Oh… Anak yang itu. Dia sudah kembali ke kelas. Tadi dijemput temannya,"


Zoey mengangguk, "Baiklah. Kalau boleh tau dia anak kelas berapa?"


"Siswa kelas XII-3 namanya Cindy."


"Baik. Terima kasih,"


Zoey keluar ruangan dan berjalan menuju kelas XII-3 yang tidak lain adalah kelas yang menjadi tanggung jawabnya sebagai wali kelas. Pantas saja kedua nama itu tidak asing di telinganya. Bagaimana bisa ada kebetulan sesempurna ini. Kalau memang hanya sebatas kebetulan Zoey akan sedikit melunak pada si oknum pelaku, tapi jika semua ini sudah direncanakan dari awal Zoey berjanji akan benar-benar menyiksa si oknum pelaku tanpa meloloskan sehelai rambut pun.


"Apa ada yang bisa menjelaskan tentang semua tangisan ini?" tanya Zoey sambil mengatur suara agar terdengar berwibawa. Meskipun saat ini hatinya sedang meradang, tapi ia tidak mau para siswa itu mencurigai identitasnya.


"......"


Kelas kembali tenang. Tidak ada satu orang pun yang bersedia membuka mulut mereka.


"Jadi? Siapa yang akan memberikan saya penjelasan?" Zoey mengulang kembali pertanyaannya kali ini lebih penuh tekanan.


Akhirnya seorang siswi yang duduk di bangku tengah terlihat mengangkat tangannya. Zoey mengangguk dan mempersilahkan anak itu berbicara.


"Siapa nama kamu?" tanya Zoey sebelum si anak memulai penjelasannya.


"Cindy bu…" jawab anak itu masih dengan terisak.


Hhhmm… Jadi gadis ini yang bernama Cindy...


"Ok Cindy. Silahkan jelaskan apa yang sedang terjadi sekarang."


"Sebenarnya ini…" Cindy mulai menjelaskan kembali peristiwa mengerikan yang tadi pagi dilihatnya.


Meskipun sebenarnya Zoey sudah mendengar cerita itu, tapi Zoey penasaran dengan versi cerita dari saksi kejadian langsung. Ternyata tidak jauh berbeda dengan yang ia dengar. Mungkinkah feeling nya kali ini salah?


"Jadi kamu langsung pingsan setelah melihat Jasmine dibawa pergi mobil itu?" tanya Zoey setelah Cindy mengakhiri penjelasannya.


Cindy hanya manggut-manggut tanpa berniat memberikan jawaban.


"Dan setelah sadar kamu langsung menceritakan kejadian itu pada guru?" selidik Zoey.


Kali ini jawaban yang diberikan Cindy berbeda dengan apa yang diharapkan Zoey. Anak itu menggeleng lemah seolah enggan mengingat kembali peristiwa yang membuatnya trauma.


Deg!


Jadi dari mana para guru itu mendengar kronologi kejadiannya kalau anak ini saja tidak pernah bercerita kepada mereka?


Sebuah pertanyaan besar memenuhi isi kepala Zoey. Menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi di balik kasus penculikan ini.


Tanpa Zoey sadari, Samuel -seorang siswa pendiam yang duduk di bangku paling belakang- mengawasi dengan tajam semua sikap wali kelasnya itu. Samuel punya firasat kalau Zoey menyembunyikan sesuatu di balik wajah imutnya itu.


"Ok. Cukup. Semua kembali tenang dan bersiap memulai KBM hari ini."


"Yaaahhh…" terdengar sorakan malas dari seluruh penjuru kelas.


"Dan untuk Cindy, kamu bisa pulang kalau masih shock dengan kejadian tadi. Saya berikan ijin itu." Zoey mengakhiri investigasi singkatnya dan berlalu keluar kelas.