
Waktu menunjukkan tepat pukul 8 malam. Saatnya makan malam. Bagi keluarga Paxon menikmati acara santap malam adalah hal yang wajib bagi seluruh keluarga. Karena hanya di momen inilah mereka dapat berkumpul dan saling bercengkrama satu sama lain.
Pekerjaan yang menggunung serta aktivitas padat seharian, membuat quality time di antara mereka sangat sulit didapat. Jadi Samuel Paxon -selaku kepala rumah tangga- memutuskan untuk membuat aturan ini.
Namun, berhubung sang putra semata wayang tengah menikmati masa-masa bulan madunya, tentu hal itu menjadi sebuah pengecualian. Dan kesempatan ini dimanfaatkan Samuel untuk kembali mengulang saat romantis dinner bersama wanita tercintanya. Siapa lagi kalau bukan sang istri, Brighitta Zoeylia.
Kenapa dia diam saja dari tadi? batin Samuel tatkala melihat Zoey yang begitu serius menyantap hidangannya.
Tanpa sepengatahuan Samuel, rupanya Zoey tengah sibuk memikirkan seseorang yang ia temui di Bandung tempo hari. Cewek itu masih penasaran dengan si pria yang tampak begitu mengenalnya.
Berulang kali Zoey menggali memori otaknya untuk mengingat sosok tersebut. Dan hasilnya semua nihil. Zoey sangat yakin, kalau pertemuannya di Bandung kemarin adalah kali pertama ia melihat pria itu.
Tapi anehnya, si pria justru bersikap seolah-olah mereka adalah teman lama. Hal itu membuat Zoey frustasi.
Awalnya dia ingin menelusuri informasi orang tersebut dengan peralatan canggih di markasnya, tapi seketika niat itu ia urungkan. Ia lupa kalau sekarang semua komputer di rumahnya telah terkoneksi dengan server pusat yang berada di bawah kendali Samuel.
Tentu saja, apapun yang Zoey kerjakan dengan perangkat yang ada di sana akan langsung terekam oleh Samuel. Lalu, apa jadinya kalau dia ketahuan sedang melacak informasi tentang lelaki lain.
Tidak. Itu terlalu beresiko. Zoey terpaksa harus menunggu ayahnya pulang dan menanyakan secara langsung pada beliau. Tidak mungkinkan kalau sang komandan juga tidak tahu identitas Mr. 'J' tersebut?
"Siapa Jade Scott sebenarnya?" Zoey termenung sembari menggumam pelan.
Ucapannya nyaris tak terdengar andai saja sang suami tidak memiliki pendengaran yang tajam.
"Hem? Kenapa Honey?" tanya Samuel, nadanya sambil lalu.
"Oh! Nggak." Zoey menggelengkan kepala, seolah tindakan tersebut dapat mengenyahkan pikiran-pikiran yang mengganggu.
"Apa ada masalah dengan transaksi kemarin? Kayaknya kamu jadi bad mood sepulang dari Bandung."
Zoey tersenyum ragu. "Perasaan kamu saja, Yank… I'm fine."
Mata Samuel menyipit sedikit. Cowok itu merasa kalau istrinya tengah berbohong. Tapi demi menghargai privasi masing-masing, ia lebih memilih diam. Andaikan ada masalah yang dihadapi istrinya, cewek itu pasti akan bercerita.
"Kemarin ada 'barang' datang. Karena Papa nggak di rumah dan kamu lagi pergi, jadi aku belum membukanya. Sepertinya itu kiriman dari Rusia."
"Kapan 'barang' itu sampai?" tanya Zoey sedikit kaget. Ia khawatir Samuel akan menemukan sesuatu pada kiriman tersebut.
"Sekitar satu jam setelah kamu berangkat."
"...."
Samuel mengangkat alisnya yang melengkung sempurna, menunggu Zoey bicara. Namun cewek itu tidak menunjukkan reaksi apapun selain kebungkaman. Ia tampak serius menikmati hidangan santap malamnya.
"Kenapa 'barang' nya dikirim ke sini? Bukankah kamu bilang kalau prosedurnya susah untuk pengiriman semacam itu." tanya Samuel setelah merasa kecanggungan mulai menyelimuti mereka.
Pertanyaan Samuel mengalihkan Zoey dari lamunannya.
"Hah? Oh… Itu mungkin pesanan yang lain. Kayaknya Papa pesan beberapa senjata dari luar negeri." Zoey terpaksa beralasan. Ia belum siap untuk menceritakan semuanya pada Samuel.
"Kalian mau bikin perang atau apa? Rumah ini saja sudah penuh senjata. Untuk apa masih beli lagi?"
"Papa beli itu buat kamu, Yank… Papa lihat yang selama ini kamu pakai kecepatan tembaknya masih kurang. Sebagai seorang sniper kamu butuh senjata yang mampu menembak dengan cepat dan akurat."
"Apa aku akan melakukan misi?" tanya Samuel antusias.
"Sepertinya begitu. Aku dengar Papa baru saja menandatangani kontrak kerja sama dengan sebuah aliansi di luar negeri. Dan mereka membutuhkan seorang sniper. Mungkin Papa akan meminta bantuan mu."
"No problem. Aku juga sudah lama tidak mencari 'buruan'."
"Bukankah minggu lalu kamu baru saja menjalankan misi dengan Agen Tiger?"
"Ya. Dan menurutku itu terlalu mudah. Targetnya hanya seorang bandar narkotika yang melarikan diri."
"Tapi kamu sudah menyelesaikan misi itu dengan baik, Yank… Kamu bisa menemukan tempat persembunyian nya dan kamu berhasil melumpuhkan dia tanpa perlu membunuh nya." sergah Zoey.
"Tapi itu kurang menantang, Honey… Aku ingin melakukan sesuatu yang besar dan bisa membangkitkan adrenalin ku."
"Sudahlah. Adrenalin mu yang berlebihan itu selalu membuat ku dalam bahaya."
"Kenapa? Apa kamu merasa kewalahan menghadapi ku di atas ranjang, Honey…"
"You know what I mean, Sam."
Zoey menggerutu seraya memutar bola matanya malas. Cewek itu menyerah kalau sudah berurusan dengan Samuel dan ranjang. Sang suami akan selalu meminta nya melakukan hal-hal aneh dengan dalih ia merasa belum puas.
"Oh ya, bagaimana Albert? Dia telepon kamu nggak?"
"Hemmm… Setelah kamu pergi, dia telepon aku sambil marah-marah."
"Kenapa?"
"Dia nggak suka sama villanya. Katanya itu cuma rongsokan dan nggak layak buat honeymoon."
"Memang kondisi villa kita separah itu? Bukankah tahun lalu masih kelihatan baik-baik saja ya?"
"Entahlah. Mungkin…"
Ddrttt… Ddrrrttt…
Belum sempat Samuel menyelesaikan ucapan nya, mendadak getar handphone milik Zoey mengalihkan pembicaraan mereka.
Zoey melirik sekilas layar ponsel yang menyala. Di sana terlihat sebuah nomor tak dikenal sedang menelepon nya. Cewek itu tidak langsung menekan tombol jawab. Ia malah termangu memandangi benda berkedip tersebut.
Samuel mengerutkan kening. "Kenapa nggak diangkat?"
Zoey meletakan kembali handphone nya kemudian menggeleng malas.
"Nggak kenal nomornya."
Samuel mengulurkan tangan untuk meraih ponsel milik Zoey. "Sini biar aku yang jawab."
Belum sempat benda tersebut beralih ke genggaman Samuel, sang istri sudah lebih dulu menggeser tombol reject.
"Nggak perlu, Yank… Paling juga telepon nggak penting."
Lagi-lagi Samuel mengernyit heran. Dia merasa ada yang aneh dengan istrinya. Tidak biasanya dia menolak panggilan telepon. Zoey selalu berkata 'Jangan meremehkan setiap orang yang menelepon. Siapa tau saja mereka memang sedang membutuhkan kita.' Tapi sekarang, cewek itu malah begitu saja mengacuhkan orang yang menghubungi nya.
Apa dia menyembunyikan sesuatu?
Triing!
Untuk kesekian kalinya notifikasi pada ponsel Zoey berbunyi. Kini deringnya menandakan kalau ada satu pesan yang masuk.
Zoey melirik benda pipih kecil di samping tangannya. Cewek itu seketika bergeming saat membaca sebagian pesan yang tercetak pada layar.
+62-8xx-xxxx-x0
It's me J, Princess... ✔
Yah, si penelpon tanpa identitas tersebut tak lain adalah Jade Scott. Penguasa bisnis underground se-antero Rusia.
Zoey sungguh tak menyangka kalau pria gila itu sampai mendapatkan nomor handphone nya. Padahal sebagai seorang agen, kerahasiaan identitas adalah hal yang paling utama. Bahkan keluarga sekalipun tidak diijinkan mengetahui nomor kontak yang khusus digunakan dalam misi. Lantas bagaimana bisa Jade Scott menghubunginya?
"Yakin tidak mau dijawab? Bukankah itu handphone yang biasa digunakan untuk misi?" desak Samuel.
"Justru karena ini handphone khusus jadi harusnya tidak sembarang orang bisa telepon ke sini. Hanya agen tertentu dan komandan saja yang bisa menghubungi nomor ini. Dan kontak mereka sudah pasti tersimpan." kilah Zoey.
Ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada Samuel. Zoey paham betul bagaimana watak suaminya kalau sudah terjangkit virus cemburu. Cowok itu bisa bertingkah gila dan hilang akal.
"Maksudnya kamu takut kalau handphone itu diretas?"
"Itu kamu tahu," Bohong. Zoey sebenarnya tidak perlu khawatir tentang masalah semacam itu. Dia bisa mengatasi semua dengan mudah.
Hanya saja dia tidak ingin Samuel tahu perihal Jade Scott. Tidak sekarang. Tidak sebelum Zoey benar-benar bisa membongkar identitas pria misterius tersebut.