
Anggap saja ini seperti donor darah. Bukankah mereka justru melakukan perbuatan yang mulia?
Tidak seperti bocah ingusan yang saat ini sedang berlutut di depan kelas itu. Mentang-mentang ayahnya pemilik sekolah ini, dia lantas seenak jidat saja memacari gurunya sendiri. Bukankah itu tindakan yang merusak moral? Aku yakin mereka pasti juga sudah melakukan 'itu' belum lama ini.
Sebagai seorang gentleman harusnya kita -kaum laki-laki berpendidikan- melindungi dan menjaga kehormatan para wanita. Terlebih lagi sosok itu adalah pacar, calon istri dan calon ibu dari anak-anaknya. Apa jadinya kalau dia sudah berani melakukan hal bejat itu sebelum menikah? Mungkin saja saat menikah nanti dia akan dengan mudahnya mencari selingkuhan. Jelas bukan tipikal cowok setia. Tidak seperti diriku tentunya.
Dan lagi, para bocah di kelasku ini benar-benar tidak memiliki standar tontonan yang bermutu tinggi. Hanya disuguhi drama murahan seperti itu saja mereka sudah berteriak histeris. Membuatku sakit kepala. Aku tidak tahan. Mataku ternoda melihat adegan konyol seperti itu. Jadi kuputuskan untuk mengakhiri semua ini sekarang.
Tanpa berlama-lama, aku langsung menggebrak meja dengan sangat keras dan bergegas meninggalkan tempat terkutuk ini. Tidak peduli mereka memandangku dengan tatapan bingung.
Aku ini orang sibuk. Ada sesuatu yang jauh lebih penting yang harus aku kerjakan sekarang. Aku harus menemui orang itu. Dia sudah berkali-kali menebar teror melalui panggilan di smartphone kesayanganku.
Yah… Dia memang benar-benar 'sesuatu' yang mengganggu. Berapa kali pun aku menginstruksinya, dia tetap saja tidak mengerti. Apakah memang otaknya yang tidak berguna? Padahal dia juga seorang 'guru'. Guru dalam arti harfiah sekaligus guru yang mengajarkan ku hal menakjubkan tersebut.
Setelah berhasil meloloskan diri dari kelas menyebalkan itu, aku secepatnya berlari ke ruang UKS sekolah. Aku ke sana bukan lantaran sakit atau sekedar ingin mencari tempat rebahan. Melainkan untuk mengambil 'barang' terlarang yang selalu aku sembunyikan di sana. Tempat mana lagi yang lebih aman untuk menyimpan sebuah obat ilegal selain di ruang kesehatan.
Itu hanya semacam obat anestesi dengan peredaran yang terbatas. Hanya dokter bedah bersertifikat saja yang layak membeli dan menggunakan obat jenis itu. Lalu bagaimana aku bisa mendapatkannya? Tentu saja dengan kekayaan yang orang tua ku miliki. Benar saja kan? Semua hal akan kembali lagi pada uang, karena memang money is everything...
Kalian pasti penasaran untuk apa aku menggunakan obat anestesi seperti itu. Jika kalian sungguh ingin tahu, datang saja ke tempat 'persembunyian' ku.
Oke, karena aku memiliki waktu yang sangat-sangat terbatas aku langsung mengambil beberapa botol obat tersebut dan bergegas menemui orang itu. Sial…! Kenapa dia harus meminta bertemu di jam sekolah begini?!
Aku harus ekstra hati-hati. Jangan sampai ada cecunguk-cecunguk usil yang membuntuti ku. Aku berjalan di sepanjang koridor sekolah dengan lebih waspada. Sambil sesekali menengok kanan kiri. Siapa tahu saja guru menyebalkan itu mengirim beberapa jongosnya untuk mengawasiku.
Kalian tentu paham siapa guru yang aku maksud. Tepat sekali, dia adalah Brigittha Zoeylia. Apa aku ada masalah dengannya?
Who knows...