
Zoey menatap tak percaya saat membaca hasil laporan yang dikirim rekan agennya melalui email. Mau tak mau malam ini ia harus kembali ke rumah dan segera membahas laporan itu dengan ayahnya.
"Sam, sekarang aku harus pulang. Kamu mau tetap di sini atau mau aku antar ke rumah kamu?" tanya Zoey sambil bergegas mengganti pakaiannya dengan setelan agen yang biasa ia kenakan saat bertugas.
Samuel mengerutkan keningnya, "Pulang? Memang ini rumah siapa?"
"Maksud aku pulang ke rumah yang sebenarnya. Ini cuma homestay sementara aku selama bertugas. Jadi kamu mau gimana?"
Zoey tidak memperdulikan Samuel yang masih belum paham dengan maksudnya. Ia sibuk membereskan peralatan ke-agen-nan nya ke dalam sebuah tas yang di dalamnya juga berisi beberapa pistol, revolver, kacamata pengintai, dan juga sebuah borgol bahkan ada juga pisau dengan berbagai model.
Cewek ini Agen atau tukang jagal? Komplit bener koleksi pisaunya? Samuel bergidik ngeri melihat peralatan tempur agen cantiknya itu. "Kalau aku maunya ikut kamu gimana?"
Gara-gara pertanyaan itu sekarang Samuel mendapatkan perhatian Zoey. "Ini bukan tempat yang sembarang orang bisa masuk, Sam!"
"Jadi aku hanya sembarang orang buat kamu?" tanya Samuel sarkastik. Hatinya tercengos mendengar Zoey menganggapnya hanya sebagai orang luar.
"Bukan begitu…" Zoey tidak sempat menjelaskan karena Samuel langsung bergegas meninggalkan kamar itu sambil membawa seragam sekolahnya.
Zoey berlari mengejar Samuel dan langsung mendekap cowok itu dari belakang. Seketika Samuel menghentikan langkahnya. Meskipun hatinya kecewa, tapi ia masih mencoba bersabar untuk menghadapi Zoey.
"Kalau kamu ikut aku, kapan pun itu kamu akan selalu dalam bahaya. Dan aku nggak suka." Zoey mencoba menjelaskan maksud ucapannya pada Samuel.
Samuel membalikkan badannya dan menarik sedikit jarak di antara mereka. Cowok itu dengan lembut memegang bahu Zoey.
"Kamu tidak perlu melindungi ku. Cukup berada di sisiku dan aku sendiri yang akan bertanggung jawab atas keselamatan kita berdua,"
"Ok. You can go with me." jawab Zoey mengalah.
Setelah membereskan beberapa hal, Zoey memutuskan malam itu juga dia harus kembali ke rumah. Sebelum itu dia sudah mengirim pesan pada sang ayah kalau ia mempercepat kepulangannya. Kini Samuel dan juga Zoey tengah berada di dalam mobil yang dikemudikan cewek itu. Mereka berdua hanya saling diam selama perjalanan. Sesekali mereka saling melirik penasaran. Baik Samuel maupun Zoey merasa canggung untuk memulai percakapan.
"Hummm… Kalau boleh tau kenapa aku harus diborgol seperti ini?" tanya Samuel memecah keheningan.
Sontak Zoey tertawa mendengar pertanyaan Samuel. Dia terlihat sangat polos. Seperti anak kecil yang tidak sadar apa kesalahannya dan tahu-tahu saja sudah mendapat hukuman.
Zoey memang sengaja memasang borgol itu di tangan Samuel. Karena hanya itu satu-satunya cara dia bisa membawa Samuel masuk ke dalam rumah. Yakni sebagai tawanan.
Samuel yang merasa sedang dipermainkan hanya menghela nafas panjang. Mungkin inilah sisi lain seorang Zoey. Andai cewek itu memborgolnya di atas ranjang pasti akan diterima dengan senang hati. Terlintas kembali adegan panas yang belum lama ini mereka nikmati. Membuat sesuatu di balik celana Samuel mengeras.
"Kamu tenang saja. Aku tidak akan berbuat aneh sama kamu."
"Tapi ini kelewatan honey kalau kamu cuma mau isengin aku." tukas Samuel sambil mengerucutkan bibirnya.
"Aku bukan orang iseng seperti kamu ya…"
"Terus ini apa namanya? Please honey, lepasin ya… Aku mau ngabarin papa kalau ngga pulang malam ini."
"Jadi kamu anak papa juga? Hahaha…" Zoey tertawa terpingkal-pingkal sambil memukul setir mobilnya.
Samuel menggerutu sebal, bukannya melepaskan borgol itu Zoey malah menertawakannya. Padahal ia bukan sekedar beralasan. Samuel benar-benar akan lewat kalau dia tidak segera memberi kabar pada papanya.