
Sekali lagi Samuel mencium bibir Zoey. Dia tidak peduli dengan tatapan melotot yang menggemaskan itu. Dia hanya merasa belum puas kalau sehari saja tidak menggoda Zoey.
"Samuel… Bisa nggak ditahan dulu pikiran mesum kamu itu?! Masih pagi sudah obral mulut…"
"Biarin. Sama pacar sendiri ini," Samuel mencubit lembut hidung Zoey.
"Dasar raja mesum!"
"Bukannya itu yang bikin kamu kepanasan di atas ranjang, honey?" bisik Samuel sambil menggigit pelan telinga Zoey.
"Cukup ya! Atau kamu mau aku usir sekarang?!" bentak Zoey. Kali ini dengan wajah serius.
Samuel mau tak mau menyudahi kesenangannya. Gawat kalau Zoey sampai marah. Bisa selesai saat itu juga hubungan mereka.
"Sekarang kamu mandi biar aku siapkan makanan. Kamu mau sarapan apa, Sam?"
Samuel mendengus kesal mendengar Zoey selalu saja memanggil namanya. Padahal ia sudah berinisiatif memanggil Zoey dengan sebutan honey. Tidak bisakah dia memberikan panggilan sayang juga untuk dirinya.
"Kok diam. Kamu mau sarapan apa?"
"Kamu kenapa selalu panggil aku pakai nama? Nggak bisa ya bedain mana yang spesial mana yang biasa aja."
"Memangnya kamu Indomie pakai spesial segala." Zoey memanfaatkan situasi untuk semakin menggoda Samuel.
Sebenarnya Zoey sadar kalau cowok itu mengharapkan panggilan sayang darinya. Tapi Zoey masih enggan melakukan hal tersebut.
"Terserah kamu!" Habis sudah kesabaran Samuel menghadapi sifat keras kepala Zoey. Ia berlalu menuju kamarnya dengan tampang kesal.
"Iya Sayang… Kamu mau dibuatkan roti bakar atau makan sereal aja?" tanya Zoey dengan senyuman yang menyejukkan hati.
Telinga Samuel merespon dengan cepat panggilan tersebut. Dia kembali menghambur ke arah Zoey dan mencium kening cewek itu.
"Roti bakar. Pakai selai coklat sama kacang." ucapnya cepat sembari beranjak duduk di kursi makan.
10 menit kemudian sepiring roti bakar yang masih panas telah siap di hadapan Samuel. Beserta susu coklat tentunya. Zoey memang sengaja menyiapkan menu tersebut, karena di rumahnya tidak pernah sarapan dengan menu over karbo alias makanan berat. Kalau bukan roti ya sereal. Dan susu memang minuman wajib setiap pagi, baik itu Zoey sendiri ataupun ayahnya.
"Kamu nggak makan, honey?" tanya Samuel dengan mulut penuh makanan.
"Maaf ya aku bangun kesiangan. Jadi nggak bisa nemenin kamu sarapan."
Zoey tersenyum singkat, "Sayang, hari ini kamu ada acara?"
Ya... Zoey akhirnya membiasakan sebutan itu. Agar pacar ABG nya tidak lagi uring-uringan.
"Nggak ada. Paling acara ku cuma lihatin kamu seharian. Hehe…"
Pipi Zoey sedikit tersipu. Anak puber kalau pacaran ternyata banyak gombalnya. Zoey harus mulai waspada.
"Kalau kita jenguk Cindy di rumah sakit kamu mau nggak?"
"Honey, kalau kamu butuh sesuatu langsung bilang sama aku. Kamu nggak perlu nanya aku mau apa nggak."
"Siapa tahu saja kamu ada acara lain hari ini."
"Aku rela cancel semua acara aku kalau itu buat nemenin kamu."
"Idih banyak gombal sekarang!"
Samuel menyodorkan roti yang masih tersisa di piringnya ke mulut Zoey. Meskipun terasa canggung, Zoey mau juga membuka mulut dan menggigit roti itu. Benar juga yang sering dikatakan orang, makanan akan terasa lebih enak kalau disuapkan dari tangan orang lain.
"Nona Zoey, saya ingin melaporkan sesuatu." seorang laki-laki muda berwajah tampan mendadak mengganggu keromantisan Zoey dan pacarnya.
"Panggil kode nama saya saat kamu sedang bertugas!" bentak Zoey.
Samuel tercengang mendengar bentakan Zoey. Ternyata pacarnya itu cewek yang sangat galak.
"Siap Agen Zero!"
"Apa yang akan kamu laporkan?" suara Zoey sedikit melunak meskipun masih dengan intonasi tegasnya.
"......"
Rekan agen Zoey melirik Samuel sepintas. Apakah tidak masalah laporan itu didengar orang lain?