
"WHAT?!! SENJATA??? PISTOL MAKSUDNYA?!!"
Serta-merta Andrew Paxon menjewer telinga anaknya dan memelintirnya dengan keras.
"Jangan macam-macam kamu, Sam!!! Papa nggak akan mengijinkan kamu menyentuh benda berbahaya seperti itu!!"
"Aduh… Duh.. Duh… Sakit Pa!!! Lepasin telinga Samuel…"
"Tidak akan! Sebelum kamu menceritakan apa yang sebenarnya terjadi."
"Tenanglah, Andrew. Biar aku yang menjelaskan semuanya. Samuel tidak tahu apa-apa. Dia hanya kebetulan saja terlibat."
Andrew Paxon melepaskan telinga anaknya dan berusaha mengatur kembali emosi yang sempat meluap. Tentu saja dia tidak mau disangka orang bodoh yang begitu saja meledak tanpa mendengar detail penjelasan yang ada.
"Jadi, putriku itu sebenarnya seorang agen rahasia. Dan saat ini dia sedang menyamar menjadi seorang guru di sekolah Samuel. Dia aku tugaskan untuk menyelidiki kasus yang sekarang menjadi teror di sana. Kamu pasti tahu tentang semua kasus itu. Karena kamu sendiri juga pemilik sekolah tersebut."
"Jadi maksudnya anakmu itu seorang mata-mata??? Dan kamu yang memberikan tugas? Sebenarnya apa profesimu sekarang, Kaniel???"
"Ya begitulah… Aku mendirikan sebuah organisasi agen rahasia. Seperti badan intelijen milik negara. Tapi ini hanya bisnis perseorangan dan tidak terikat dengan lembaga manapun. Kamu bisa menyebut kami mafia kalau mau."
Seperti tersengat ribuan voltase listrik, Papa Samuel tidak pernah mengira kalau sahabatnya itu memiliki profesi yang menurutnya cukup mengerikan. MAFIA??? Bukankah itu seperti organisasi yang hanya berurusan dengan hal-hal kriminal? Pembunuhan misalnya. Ya... itu tidak ada bedanya seperti tempat penjagalan manusia. Dan sekarang sahabatnya ini terjun ke dalam dunia semacam itu. Bahkan juga SAMUEL???
"WHAT?!! Jadi Samuel berurusan dengan MAFIA???"
"Jangan separno itu, Ndrew… Dia akan tetap aman selama dalam pengawasan ku. Aku tidak akan membiarkan siapapun membahayakan nyawanya. Untuk itu aku harus mengajarinya beberapa 'perbekalan'."
"Tetap saja aku tidak setuju, Niel. Dia masih bocah dan aku hanya ingin dia jadi remaja yang normal."
"Tapi, Pa…"
"Cukup, Sam! Kali ini kamu harus menuruti perintah Papa!" Andrew Paxon tidak sedikitpun memberi kesempatan pada Samuel untuk berdebat. Dia hanya ingin putra semata wayangnya itu fokus dengan pendidikan.
"Andrew… Samuel mungkin memang masih bocah. Dan belajar memakai senjata di umurnya sekarang memang sesuatu yang ilegal. Tapi, kita tidak punya pilihan lain. Dia sudah terlanjur masuk. Dan aku tidak mungkin mengawasinya selama 24 jam penuh. Jadi bagaimanapun caranya Samuel harus bisa melindungi dirinya sendiri."
"Apa kamu bisa menjamin kalau itu tidak akan membahayakan dia, Kaniel?"
"Mungkin tidak 100%. Tergantung bagaimana Samuel akan menggunakan senjata itu. Contohnya saja Zoey. Meskipun dia seorang gadis belia, tapi dia sudah sangat ahli menggunakan senapan runduk. Itu karena dia memang sudah terlatih dan merasa enjoy menggunakannya. Jadi kunci semua itu hanya latihan dan masalah waktu. Seiring Samuel rajin berlatih, tentu dia akan semakin ahli mengendalikan senjata itu."
Papa Samuel menghela nafas panjang. Dengan amat sangat terpaksa dia melepaskan anaknya untuk dilatih menjadi seorang pemakai senjata.
"Baiklah. Tapi tolong kamu benar-benar mengawasinya, Kaniel. Dia tipe manusia yang selalu membuatku sakit kepala." ujar Papa Samuel sarkastis.
Saat ini Andrew Paxon tidak ada pilihan lain yang lebih baik. Kecuali kalau memang dari awal anaknya itu tidak pernah bertemu dengan putri Aaron Kaniel. Tapi kalau dua anak muda itu tidak saling kenal, mungkin sampai sekarang dia juga tidak akan pernah bertemu dengan seorang sahabat yang telah lama berpisah darinya. Mungkinkah ini yang disebut takdir??
"Beneran Pa???" tanya Samuel tidak percaya.
Akhirnya setelah perdebatan panjang dua orang tua itu, Samuel bisa mewujudkan mimpinya untuk belajar senjata api.
Tunggu saja, Honey… Mulai sekarang aku akan menjadi guardian angel buat kamu…
"Iya. Tapi dengan satu syarat. Jangan sampai mama kamu tahu tentang semua ini. Papa bisa di suntik mati kalau dia tahu anak kesayangannya memegang pistol."
"Yes, Sir!" Samuel mengangkat tangannya dan memberikan hormat layaknya seorang prajurit militer.
"Hahaha… Aku tidak menyangka kamu setakut itu dengan istrimu." ledek Ayah Zoey.
"Jangan salah. Alat kedokterannya lebih mengerikan daripada pisau daging yang ada di rumah. Dia pernah bilang kalau ada jarum beracun di dalam tas kerjanya."
Papa Samuel mendadak merasa merinding jika mengingat alat-alat yang biasa digunakan sang istri di ruang bedah. Ya, mama Samuel seorang dokter bedah yang lumayan terkenal di kota Y.
"Kalau yang seperti itu aku juga punya beberapa di rumah. Tenang saja, kita bisa berbagi. Siapa tau kalian mau main akupuntur dengan jarum beracun itu."
"Hahaha…"
Tiga laki-laki itu tertawa bersama. Melupakan ketegangan yang sebelumnya sempat terjadi di antara mereka. Obrolan-obrolan ringan dan menyenangkan kembali terdengar. Hingga tak terasa waktu semakin larut dan sang mentari telah kembali ke peraduannya.