My Teacher is an Agent

My Teacher is an Agent
Chapter 113



Ayah Zoey bisa bernapas lega sekarang. Tadinya ia merasa sangat cemas menyaksikan kondisi putrinya yang bersimbah darah. Dadanya sesak, seperti tertindih sebuah beban yang sangat berat. Sekelebat ia bayang-bayang kematian istrinya kembali menghantui pikirannya. Ia tidak siap kalau harus kehilangan orang yang ia sayang untuk kedua kalinya. 


"Syukurlah Ya Tuhan… Terima kasih dokter Andita telah menyelamatkan nyawa putri saya."


"Itu sudah kewajiban saya. Lagi pula, Zoey anak yang kuat. Kalau dia orang lain, mungkin sekarang kita tidak bisa lagi melihatnya."


"Dia memang seperti ibunya. Kuat dan tidak mudah menyerah." Ayah Zoey menimpali.


"Sebaiknya Anda beristirahat. Biarkan Samuel yang menjaga Zoey." Dokter Andita mengusulkan dengan nada sabar saat melihat wajah Ayah Zoey yang tampak lelah.


"Ya Anda benar… Ada banyak hal juga yang harus saya selesaikan."


Aaron Kaniel menatap Samuel dengan sendu, lalu menepuk pelan bahu cowok itu berharap hal tersebut bisa memberikan calon menantunya kekuatan.


"Papa titip Zoey, Sam… Secepatnya Papa akan kembali ke sini."


Samuel mengangguk, "Papa hati-hati."


Ia kembali menatap wajah gadisnya dengan lemah, seolah-olah berbicara sesingkat itu sudah menguras tenaganya.


Sepeninggal Ayah Zoey, baik Samuel maupun Mamanya kembali pada aktivitas masing-masing. Sang dokter sekali lagi memeriksa tanda vital pasien untuk memastikan kondisinya benar-benar telah stabil. Sedangkan Samuel meraih ponsel yang sedari tadi dicampakkannya di atas nakas lalu menghubungi Leo dan meminta temannya itu untuk menyusul ke rumah sakit.


Keesokan harinya Zoey membuka matanya perlahan. Dilihatnya Samuel, Leo, dan seorang dokter cantik paruh baya yang sedang mengerumuninya.


"Dimana ini?" tanya Zoey dengan suara serak yang lemah.


Dia melihat wajah orang-orang yang mengerumuninya itu tampak sedih sekaligus khawatir.


"Kamu di rumah sakit, Honey… Kemarin kaki kamu terluka." jelas Samuel "Tapi sekarang semua sudah baik-baik saja."


Samuel menggenggam tangan Zoey. Ia tak kuasa lagi menahan air matanya yang sudah menggenang.


"Jangan pernah bikin aku cemas seperti ini lagi. Atau kamu akan menerima pendisiplinan dariku. Mengerti?!" seru Samuel kesal.


Zoey tersenyum lembut. Ia tidak menyangka pacar arogannya itu akan berlinang air mata seperti ini. Bahkan sekarang ada Leo dan juga seorang dokter yang ngomong-ngomong terlihat mirip dengan Samuel.


"Kenapa kamu malah menangis? Ini sudah biasa, Sam… Dan ini bukan yang pertama kan?"


Ya, jauh sebelum ini Samuel pernah melihat langsung gadisnya itu terluka bersimbah darah. Dan itu juga karena perbuatan si keparat Louis. Lalu sekarang kejadian semacam itu harus terulang lagi. Bedanya, luka yang didapatkan Zoey saat ini akibat dari ulah tolol si antek yang tak lain adalah Denish.


Memang dua orang itu perlu dikubur hidup-hidup agar berhenti bermain peluru dengan orang lain.


"Ok, saya tidak bermaksud mengganggu. Tapi saya mohon ijin untuk menjalankan tugas saya sebagai dokter. May I...?"


Zoey sedikit tersipu mendengar ucapan dokter cantik itu. Dia lupa kalau di sana masih ada orang lain yang lebih ingin tahu keadaannya sekarang.


Merasa telah dipersilahkan dokter itupun langsung memulai observasinya. Ia menempelkan stetoskop dan memberikan suntikan yang berisi cairan obat. Zoey sedikit meringis saat cairan bening tersebut dimasukkan melalui selang infusnya. Sesaat seperti ada rasa terbakar dalam pembuluh darahnya.


"Semua sudah baik. Tapi saya masih harus memantau terus perkembangan pasien." ucap si dokter sambil melepaskan kantong darah yang sudah kosong.


"Banyak istirahat ya…"


Zoey mengangguk pelan mendengar nasehat si dokter.


"Kapan Zoey bisa pulang, Ma? Kenapa nggak dirawat di rumah kita ajah?" tanya Samuel


WHAT?!!! MA??? Jadi ini…