My Teacher is an Agent

My Teacher is an Agent
Chapter 74



Apakah orang itu termasuk salah satu komplotannya? Atau jangan-jangan dia otak di balik semua teror mengerikan yang selama ini terjadi di sekolah???


"Sam, lo sebenernya ada masalah apa sama si Denish? Kayaknya ada yang lo sembunyiin dari gue?"


"Lo bawel banget kayak cewek lagi dapet. Gue cuma ngerasa sikapnya si Kentang aneh aja belakangan ini."


"Bener juga omongan lo. Kalau gue inget lagi, beberapa hari ini emang si Kentang rajin banget ijin ke UKS. Gue sampai mikir jangan-jangan dia punya penyakit yang parah gitu."


"Emang iya? Kok gue nggak pernah sadar?"


"Kerjaan lo molor mulu di kelas."


"Sorry, Man… Gue sering lembur kalo malem." dengan gaya slengean Samuel berkilah dari tuduhan temannya itu.


"Lembur les privat sama bu Zoey maksud lo?"


"You know what I mean."


"Eh… Si Kentang mau pergi tuh!"


"Gue mau ikutin dia. Dan lo balik sekarang juga!"


Samuel pelan-pelan beranjak dari persembunyiannya dan kembali mengikuti Denish yang rupanya berlalu menuju parkiran. Si oknum tersebut masuk ke dalam kendaraannya yang tak lama kemudian melaju meninggalkan area parkir sekolah.


Mau kemana si Kentang???


Tanpa menunggu lama, Samuel bergegas masuk ke dalam mobil sedan milik Zoey. Kenapa bukan mobilnya sendiri? Alasannya sudah pasti karena mobil tersebut lebih aman dan lebih lengkap persenjataan.


"Lo pake mobil bu Zoey, Sam?"


"Lo ngapain lagi sih ngikutin gue! Kayak tuyul aja kemana-mana ikut." sembur Samuel dengan kesal.


Pasalnya dia sudah sangat buru-buru ingin membuntuti Denish. Tapi temannya yang satu ini selalu saja mengacaukan pengintaiannya.


"Gue nggak mau ketinggalan yang seru macam ini."


"Terserah lo! Keselamatan nyawa ditanggung pemilik masing-masing."


"Emang sebahaya itu ya?"


"Orang itu keluar dari Sekolah. Sekarang aku lagi ngikutin dia. Kamu bisa melacak kita lewat GPS mobil kamu."


Samuel kembali menghubungi Zoey dan memberikan perkembangan terbaru dari tugas mata-matanya.


"Kita??? Kamu sama orang lain, Sam?!"


"Yaa… Aku sama si Leo. Ini anak ngekor aku mulu."


"Jangan ngaco kamu, Sam! Kamu ingat kalau semua ini rahasia?!!" nada suara Zoey langsung meninggi. Dia tidak mengira kalau Samuel akan membongkar identitasnya di depan orang lain.


"Mana mungkin aku lupa. Kamu tenang aja. Dia bisa jaga rahasia. Aku jamin itu."


"Kamu mau jamin pakai apa?! Nyawa kamu?!!"


"Kalau itu memang perlu, nggak masalah…"


Tuuttt!


Sambungan telepon tiba-tiba terputus. Samuel bisa menebak kalau saat ini Zoey pasti sedang meradang. Tapi mau bagaimana lagi, dirinya juga tidak ada waktu lagi untuk berkelit dari Leo.


Tidak mau memperburuk keadaan yang sudah ada, Samuel saat itu juga mengirimkan sebuah pesan singkat kepada pacarnya.


My Zoey ♥


Your secret is still safe. I promise.        ✔


"Yo, gue minta satu hal sama lo. Apapun yang lo liat, apapun yang lo denger, lo nggak boleh kasih tau semua itu sama siapapun. Atau gue bisa bertindak yang lebih nekat sama lo."


Merinding. Itulah yang Leo rasakan saat mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Samuel. Baru kali ini dia berbicara sedingin itu. Rasanya ucapan itu bagai sebuah rayuan tengah malam untuk mengajaknya bersama-sama menghadap raja neraka. Hanya mengangguk pasrah seraya menelan ludah yang sekarang bisa Leo lakukan.


Darimana datangnya aura menakutkan itu? Samuel yang selama ini dia kenal belum pernah sekalipun mengintimidasi orang sampai seperti ini. Apalagi terhadap temannya sendiri, meskipun mereka bukan teman yang cukup dekat.


"Gue ngerti, Sam." ucap Leo dengan suara mendecit pelan.


Samuel hanya menyeringai sinis sambil terus terfokus pada kendali mobilnya.