My Teacher is an Agent

My Teacher is an Agent
Chapter 78



"Lo serius mau cek ke sana?" tanya Leo tidak yakin.


"Emang lo punya pilihan??"


Leo menggeleng pasrah. Untuk kesekian kalinya dia lalu mengikuti Samuel yang lebih dulu berjalan di depannya. Alih-alih menyalakan lampu, kedua cowok itu memilih menggunakan senter pada ponsel mereka untuk menerangi jalan. Mereka tidak ingin kehadirannya terlalu mencolok dan menarik perhatian makhluk-makhluk lain yang mungkin saja menghuni rumah itu.


Hiks… Hiks…


Sebuah suara samar-samar terdengar dari balik dinding di ujung lorong yang panjang dan gelap.


Samuel terpaku di tempatnya, begitu pula si Leo.


"Suara apa barusan?" tanya Leo dengan suara gemetar.


"Nggak tau." sahut Samuel. Entah kenapa, mendadak bulu kuduknya merinding.


Suara tersebut mirip suara tangisan manusia, tapi terdengar lebih memilukan. Seperti orang mengerang kesakitan.


"Suara orang nangis bukan sih?" tanya Leo semakin ketakutan.


"Ngaco lo!! Siapa juga yang nangis di tempat kayak gini?!"


Samuel berusaha mengenyahkan pikiran-pikiran seram dalam otaknya. Mungkin saja semua itu hanya halusinasi. Atau bisa juga suara hewan malam yang kebetulan terdengar mirip suara manusia. Entah apapun itu, yang pasti suasana di dalam ruang bawah tanah tersebut betul-betul mencekam.


"Sam, lo boleh ketawain gue sekarang. Tapi asli tempat ini serem banget."


Seketika Leo menggandeng lengan Samuel dengan erat. Layaknya anak kecil yang pertama kali masuk ke dalam rumah hantu.


"Lo bener. Kita mending cari jalan keluar sekarang."


Hiks… Hiks…


Jika menilik gelagat Denish yang mencurigakan, tempat ini pasti menyimpan banyak rahasia yang lebih mengejutkan. Kali ini Samuel memilih mengesampingkan ketakutannya. Benaknya diliputi rasa penasaran yang begitu besar. Ia bahkan tidak lagi memperdulikan Leo yang mengkerut di belakangnya.


"Sam!! Lo gila?! Ngapain lo masuk ke sana?"


"Leo! Kesini cepetan!!!"


Leo langsung berlari menuju sumber suara dan menemukan Samuel tengah mematung dengan bahu tegang. Leo menoleh memperhatikan wajah Samuel. Ekspresinya datar, tapi Leo mengenali tatapan mata itu. Tatapan yang sama seperti saat mereka melihat sebuah pisau kecil tertancap di tubuh Zoey. Tatapan horor penuh kengerian.


"Lo kenapa…?"


Ucapan Leo terhenti saat matanya menangkap sebuah pemandangan mengerikan di hadapan mereka. Rasanya seperti sedang menonton film thriller.


Seseorang yang mereka kenal tengah terbujur kaku pada papan kayu yang tertancap di dinding dengan sekujur tubuh berlumuran darah. Sampai membuat siapapun mual saat melihatnya.


Yang lebih mengerikan, dalam satu ruangan tersebut ada setidaknya enam orang yang bernasib sama. Mereka semua tertancap di dinding dengan tubuh penuh luka. Jika diperhatikan lagi, luka tersebut didapat dari sebuah cambukan. 


Namun hanya satu sosok yang menyita perhatian dua cowok itu. Dia seorang gadis yang mengenakan seragam sekolah mereka. Meski wajah itu tertunduk, baik Leo maupun Samuel tetap bisa mengenali sosok tersebut.


"Jasmine…" seru Leo dengan suara tercekat.


Saat Leo hendak melangkah maju, Samuel dengan sigap menahan lengan cowok itu.


"Lo diem di sini. Biar gue yang periksa keadaannya."


Leo mengangguk.


Samuel perlahan menghampiri Jasmine dan langsung meraba nadi temannya itu. Masih terasa. Berarti dia masih bernyawa.


"Dia masih hidup. Tapi kita harus pergi dari sini sekarang juga. Feeling gue mulai nggak enak."