
"Tenang saja, Sam… Gue akan secepatnya mengirim lo berdua ke alam baka. Kalian bisa berbahagia bersama di sana. Gue baik kan? Haha…"
DOORRR!!!
Jantung Samuel nyaris berhenti saat mendengar suara tembakan. Bukan. Itu bukan tembakan dari pistol si Pelaku. Malah sebaliknya, satu timah panas sukses mengenai perut cowok itu. Entah sejak kapan ada sosok lain yang muncul di sana dan menembakkan revolver nya.
Denish tersungkur ke tanah sambil memegangi perutnya yang terus mengeluarkan darah. Ia berteriak kesakitan dan menggapai ke arah Samuel untuk meminta pertolongan. Namun cowok itu masih bergeming di tempat.
Otaknya berputar cepat memikirkan kejadian yang barusan terjadi di depan matanya. Siapa yang melakukan semua ini? Bukankah 'orang itu' bersembunyi di belakang Denish? Lalu mengapa tembakan itu berasal dari arah depan yang berarti saat ini ada seseorang atau lebih parahnya 'sesuatu yang berbahaya' di belakangnya. Damn it!!!
Namun saat ini Samuel punya tugas lain yang tidak kalah penting. Ia langsung berlutut di samping Zoey yang terbaring di tanah dan meraih cewek itu ke dalam pelukannya.
"Zoey..," panggil Samuel sambil mengguncang bahu pacarnya lebih keras.
"Sam…" sahut Zoey dengan berlinang air mata. "Sakit banget, Sam…"
"Bertahanlah… Aku akan bawa kamu ke tempat yang aman."
"Denish…" Suara Zoey menandakan dia sudah separuh tak sadar. Samuel mulai takut dia akan kehilangan orang yang dicintainya.
"Lupakan dia. Kamu tidak perlu memikirkan apapun lagi."
Perasaan ngeri langsung menyergap hati Samuel saat melihat mata Zoey sudah terpejam rapat-rapat. Ia mengguncangkan keras-keras, namun tubuh gadisnya itu terasa makin berat saja.
Tangan Samuel sontak terulur ke leher Zoey.
Syukurlah… Dia hanya pingsan.
Sialnya, tempat yang mereka datangi sekarang lokasinya sangat terpencil dan jauh dari perkotaan. Andaikan ia membawanya ke tenda darurat, tetap saja peralatan yang ada tidak mungkin bisa mengobati luka Zoey tersebut.
Mendadak pikiran Samuel buyar saat mendengar suara helikopter yang mendekat. Ia dan Denish -yang kebetulan masih setengah sadar- sama-sama mendongak ke arah benda terbang yang kini berjarak semakin dekat di atas kepala mereka.
*Helikopter??? Ada apa ini???
SRAAKKK*!!!
Terdengar sebuah suara dari balik semak-semak di belakang punggung Samuel. Ia lantas berbalik dan detik itu juga matanya bersitatap dengan sosok 'itu'.
"Papa??? Jadi yang tadi itu..."
Samuel tercekat ketika mendapati kalau si penembak tersebut tak lain adalah Aaron Kaniel.
"Segera bawa Zoey ke rumah sakit! Cepat!!!" perintah Sang Komandan kepada bawahannya. Ia tak menghiraukan Samuel yang masih mematung sambil mendekap Zoey dipelukannya.
"Kamu sebaiknya ikut Zoey ke rumah sakit, Sam. Tolong jaga dia. Biar papa urus makhluk satu ini."
"I… Iya, Pa.."
Samuel bergegas membopong Zoey ke dalam helikopter dibantu beberapa agen yang memang sengaja dibawa oleh ayah mertuanya. Cewek itu tengah dalam kondisi kritis. Matanya terpejam rapat bahkan nadinya pun terasa lemah.
Ini kali keduanya Samuel harus mengalami kejadian mengerikan seperti itu. Gadisnya yang biasa terlihat kuat, sekali lagi harus menghadapi gerbang kematian. Entahlah. Apakah dia masih bisa lolos dari buku catatan malaikat maut?