
"Muel…" seru orang itu dari kejauhan.
Ya. Hanya ada dua orang yang memanggil Samuel dengan nama itu. Merekalah orang tua Cindy sekaligus sahabat baik Papa Mamanya.
Mau tak mau Samuel kembali berbalik dan menghampiri mereka sambil tersenyum. Seketika Papa Cindy memeluknya dengan sangat erat. Bisa dirasakan ada butiran hangat yang membasahi bahu Samuel. Papa Cindy pasti sedang menangis. Samuel hanya bisa menepuk-nepuk pelan punggung Papa Cindy untuk memberikan sedikit ketegaran.
Samuel melirik sekilas ke dalam ruangan. Ia melihat Cindy sudah membuka matanya dan kini sedang berbincang dengan Zoey di sana. Hati Samuel perih melihat semua itu. Dua orang yang sama-sama penting dalam hidupnya, kini harus ada salah satu yang terluka. Tidak diragukan lagi, dirinya memang laki-laki b******k!!
"Muel, kamu masuklah dulu menemui Cindy. Om sama tante mau ketemu dokter,"
"Baik, Om." Samuel mengangguk pelan sebelum akhirnya ia melangkah memasuki ruangan itu.
"Hai Cin, udah baikan?" tanya Samuel sambil berpura-pura tersenyum.
Ia berdiri di samping Zoey yang masih menggenggam tangan Cindy. Samuel trenyuh melihat keadaan sahabatnya yang terkulai lemas seperti itu. Cindy bahkan hanya bisa meneteskan air mata sembari mencoba tersenyum untuk menyambut kedatangannya.
Zoey merasa menjadi penghalang di antara dua muridnya itu. Ia lalu beringsut menjauh sambil melepaskan genggaman tangan Cindy. Dia harus keluar dari ruangan itu. Zoey membutuhkan udara segar untuk menjernihkan pikirannya.
Sebuah tangan dingin meraih pergelangan Zoey dan menahan cewek itu untuk tetap di sisinya. Zoey menoleh sejenak. Ia melihat Samuel membelai lembut kepala Cindy namun satu tangannya juga menggenggam Zoey dengan sangat kuat. Ada apa dengan cowok ini? Tidak bisakah dia melihat kalau itu hanya semakin menyiksa perasaan Zoey?
CKLEK!!
Pintu ruangan terbuka. Nampak Papa dan Mama Cindy datang bersama seorang dokter dan juga perawat. Zoey serta merta menghempaskan tangan Samuel dan beranjak pergi dari ruangan itu. Saat di depan pintu ia berpapasan dengan seorang dokter. Dokter tersebut merasa mengenal Zoey, namun cewek itu malah berlalu begitu saja.
Zoey berjalan cepat menuju sebuah taman di atap rumah sakit seraya menahan butiran air yang hampir membanjir lewat sudut matanya. Ia lalu duduk di sebuah bangku panjang yang menghadap ke jalanan. Dan detik itu juga Zoey menumpahkan semua kekesalan hatinya lewat tangisan. Ia tidak menyangka kalau hatinya akan terasa sangat pedih. Apa mungkin ini pertanda kalau dia sudah jatuh cinta pada cowok itu?
Zoey terus menangis. Dia tidak peduli beberapa orang memperhatikannya dengan tatapan bingung. Bahkan kalau ada yang menganggapnya gila, ia tidak akan menyangkal. Karena kenyataannya cewek itu memang sudah tergila-gila pada siswa SMA yang sudah memiliki pacar.
Tangis Zoey berhenti sejenak saat ia merasakan sebuah pelukan hangat melingkar dari belakangnya. Zoey tidak perlu menoleh. Dia sudah tau sosok yang memeluknya itu.
"Menangis saja sampai kamu merasa lega... Aku akan tetap ada di sini buat kamu." kata cowok itu dengan lembut sambil menenggelamkan kepalanya di pundak Zoey.
Seketika tangis Zoey kembali pecah. Air matanya mengalir semakin deras. Hatinya sekarang lebih sakit saat ia sadar kalau dirinya tidak bisa melepaskan Samuel. Dia ingin Samuel selalu di sisinya, menemaninya, bahkan menghibur kesedihannya. Bagaimana bisa dia berbagi cowok itu dengan orang lain? Dia terlalu egois ingin memiliki Samuel hanya untuk dirinya sendiri.