
Sebuah mobil sport Ferrari California berwarna merah terparkir dengan mulus di halaman sekolah GIS. Seorang cowok rupawan terlihat keluar dari dalam kendaraan tersebut, lalu dengan santai bersandar pada ujung kap mobil sambil memainkan handphone di tangannya.
Cowok itu mengenakan setelan polo shirt hitam dan celana jeans selutut. Meski tampak simpel, tapi penampilan tersebut semakin menawan saat dilengkapi dengan jaket bomber berwarna army serta sneakers. Cowok yang hari ini terlihat sangat kasual itu juga mengenakan penutup kepala berupa topi rajut yang senada dengan warna jaketnya.
Sebuah pemandangan yang menyilaukan mata. Meskipun si cowok masih setia dengan ekspresi dinginnya, tetap saja hal seperti itu tidak menggetarkan hati para siswi yang berniat mendekatinya.
Sudah menjadi rahasia umum, kalau selama ini banyak siswi perempuan GIS yang bersusah-payah merayu dan menarik perhatian cowok angkuh tersebut. Namun semua usaha itu gagal total. Yang ada para siswi itu merasa kalah telak karena hati pangeran impian mereka telah dimenangkan seorang guru pindahan yang belum lama mengajar di sana.
"Eh, lihat…! Itu Samuel kan? Gilaaa… Ganteng banget kalau pakai baju kayak gitu. Gue mau dong jadi simpanan nya." kata Xiena, salah satu murid GIS yang memang sudah sejak lama tergila-gila pada Samuel.
"Emang lo siap bersaing sama pacarnya itu? Lihat aja, penampilannya nggak mau kalah gitu sama yang masih muda!" sahut salah satu teman Xiena sambil menunjuk sebuah mobil yang baru saja memasuki gerbang Gamma International School.
Xiena lantas melirik ke arah yang ditunjuk temannya. Benar saja, sebuah kendaraan dengan brand Porsche 718 Boxster bergerak memasuki gerbang GIS dan berhenti melintang tepat di depan mobil Samuel. Mobil hitam mengkilap itu kini tengah membuka bagian atapnya secara otomatis.
Dengan senyum mengembang, cowok yang sejak kedatangannya sudah menghebohkan para kaum hawa itu bergegas menghampiri mobil di hadapannya dan membukakan pintu layaknya seorang pelayan.
Dari kejauhan terlihat gadis cantik berpenampilan modis keluar dari dalam kendaraan tersebut. Entah hanya kebetulan atau memang disengaja, si cewek pengemudi supercar mewah itu memakai pakaian yang terlihat sangat serasi dengan sang pacar.
Sebuah sweater hitam dengan luaran berupa jaket denim berwarna army, terlihat membalut tubuh mungil gadis itu. Seolah belum cukup paripurna, penampilannya semakin disempurnakan dengan sepasang sepatu boot kulit serta sebuah syal rajut yang tampak melingkar di lehernya. Mungkin dia sedang tidak enak badan. Atau mungkin juga untuk menutupi 'jejak' perbuatan sang pacar semalam.
Yang jelas semua outfit yang dikenakan cewek itu membuatnya semakin mencuri perhatian. Khususnya siswa laki-laki. Bahkan tanpa disurvei pun semua orang yang ada di tempat tersebut pasti akan setuju kalau ada yang mengatakan dua sosok itu sebagai pasangan yang sempurna. Seolah Tuhan memang dengan sengaja menciptakan mereka untuk menunjukan kalau malaikat dan bidadari itu nyata adanya.
"Morning, Honey…" sapa Samuel sambil menepikan anak rambut yang menutupi wajah cantik Zoey dan mengecup lembut pelipis cewek itu.
Sontak si cewek mendelik sinis dengan sikap Samuel. Bisa-bisanya dia membuka pertunjukan di depan umum seperti ini.
"Jaga sikap kamu Samuel. Ini sekolah!"
"Memangnya kenapa? Toh aku juga pemilik sekolah ini. Anggap saja sebagai konferensi pers hubungan kita."
Oh My God… Mungkin makhluk Tuhan yang seksi ini memang paling pandai membuat Zoey naik darah.
Kening Zoey mengkerut dan matanya melirik semakin tajam. Ia mengurungkan niatnya untuk berkilah sebelum kemudian Samuel menjerit pelan lantaran kakinya diinjak sang pacar.
"Aawww! Kasar banget sih?!"
"Makanya jadi murid itu tahu diri. Ini di sekolah jadi kamu harus menghormati aku sebagai guru!" mata Zoey melotot tajam dan tanpa sadar suaranya langsung naik satu oktaf.
"Iya ibu Zoey yang terhormat… Anda tidak perlu berteriak untuk menarik perhatian seperti ini."
Zoey tidak bodoh. Ia memahami maksud Samuel dan seketika itu mengedarkan pandangan ke seluruh halaman sekolah. Hampir semua mata mengarah pada keduanya. Seolah mereka baru saja menyaksikan sebuah cuplikan film yang akan segera tayang. Spontan Zoey langsung tertunduk malu. Sangat malu.
"Nggak habis pikir gue, tuh cewek urat malunya udah putus atau emang mati rasa? Nggak malu apa pacaran sama brondong?!" komentar Xiena dengan nada tidak suka. "Sama murid sendiri pula!"
"Biasa aja kali, Xien. Namanya anak pengusaha, udah gitu yang pacarnya juga anak pemilik sekolah. Kaum Sultan mah bebas mau bertingkah seenaknya."
"Betul banget tuh! Kita mah apa yang cuma anak pegawai swasta. Ketahuan bolos sekali, pasti langsung dikeluarin."
"Dulu gue kalah sama si Cindy, sekarang kalah sama guru sendiri. Apes banget hidup gue!" gerutu Xiena dengan kesal sambil menghentakkan sebelah kakinya.
"Woi… Ada apaan nih? Habis menggelar sidang terbuka ya?" tiba-tiba suara Leo yang khas memecah keheningan di tempat tersebut.
Untung saja cowok itu muncul di saat yang sangat tepat. Sehingga menyelamatkan Zoey dari kecanggungan yang luar biasa.
"Jaga ucapan kamu Leo!" mata Zoey memicing ke arah Leo. Memberikan peringatan dini sebelum bocah bermulut lemes itu keceplosan dan berkata yang tidak-tidak.
"Eh, iya bu Zoey. Maaf."
Zoey tidak perlu menggubris permintaan maaf itu. Ia memilih bersandar pada body mobilnya seraya kembali bersikap dingin. Zoey masih belum bisa mengampuni dua cowok berandalan itu. Tentu, karena sekarang semua rahasianya ada di tangan kedua cowok itu.