My Teacher is an Agent

My Teacher is an Agent
Chapter 60



Hampir sepekan setelah kejadian penusukan itu berlalu. Zoey memulai kembali kegiatannya sebagai seorang agen rahasia dan juga guru. Tentu saja, dengan penjagaan yang lebih ketat dari sang pacar yang belakangan sikapnya menjadi over protective.


Setiap hari cowok itu menjemput dan mengajak Zoey berangkat sekolah bersama. Begitu pun saat pulang, Samuel akan kembali mengantar cewek itu ke kediamannya. Bahkan beberapa kali ia mengekori Zoey hingga masuk ke dalam kamar.


Tidak ada kencan maupun acara hangout di luar rumah. Alasannya, Samuel tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk -lagi- terhadap pacarnya itu. Kalau pun mereka ingin melakukan quality time, Samuel akan meminta Zoey memasakkan beberapa makanan dan mereka bisa menyantapnya sambil menonton film bersama. Memang membosankan, tapi itu lebih baik bagi Samuel daripada ia harus membahayakan nyawa sang pacar.


Berkali-kali Zoey merengek pada Samuel untuk membawanya pergi keluar rumah, tapi yang ada cewek itu malah berurusan dengan Sang Ayah yang sekarang telah menjadi sekutu calon menantunya. Aaron Kaniel tidak akan membiarkan putri kesayangannya keluar tanpa pengawalan. Sang Ayah akan memberikan izin pada Zoey asalkan dia bersedia dikuntit segerombolan bodyguard yang tentu saja hanya akan membuat Zoey menjadi pusat perhatian.


Seperti pagi ini, ketika Samuel -cowok yang biasa menjemputnya- tidak bisa datang, Zoey dengan berat hati harus menuruti kemauan Sang Ayah yang memaksa untuk mengantarnya ke sekolah. Yang sudah pasti beberapa anak buah pria tersebut wajib mengikuti dan mengawal mereka berdua.


"Pa, aku ini juga seorang agen. Tidak perlu papa bertindak se-ekstrem ini." Zoey mengerucutkan bibirnya sembari menatap Sang Ayah yang tengah fokus menyetir dan menatap lurus ke arah jalan raya.


Zoey sedikit kecewa karena hari ini si sopir pribadi mangkir dari rutinitasnya. Pagi-pagi buta Samuel sudah menelepon Zoey dan mengatakan kalau dia akan mengikuti orang tuanya ke luar kota. Alhasil, cewek itu kembali menjadi tawanan Sang Ayah.


Aaron Kaniel melirik sekilas putri tunggalnya, yang ternyata masih suka memasang wajah masam. Di mata Sang Ayah, mulut Zoey yang ditekuk terlihat sangat menggemaskan. Mengingatkan kembali pada masa kecil anak gadisnya itu.


"Kamu agen yang sedang menjalani masa liburan. Jadi sekarang kamu cukup menjadi putri kecil papa." ujar Sang Ayah sambil tersenyum manis.


Zoey menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Sungguh tidak ada harapan menang saat ia berurusan dengan ayahnya. Terlebih setiap perintah yang keluar dari mulut pria tersebut tidak bisa dibantah. Baik itu untuk Zoey ataupun anak buahnya. Peraturan tetaplah sama.


"WHAT!!!"


Teriakan Zoey yang mendadak mengagetkan Aaron Kaniel sehingga dengan cepat ia menginjak pedal rem di bawah kakinya. Tubuh keduanya terpental membentur sandaran kursi dengan cukup keras.


"Apa-apaan kamu, Zoey!!! Jangan asal teriak pada orang yang sedang menyetir!!!" bentak Aaron Kaniel dengan muka merah padam. Ia tak habis pikir dengan kelakuan putrinya yang sembrono.


"Papa bawa kacamata pengintai?? Zoey pinjam sebentar."


Ayah Zoey mengangkat sebelah alisnya. Ada apa dengan bocah ini? Tingkahnya benar-benar aneh. Untuk apa dia meminta kacamata pengintai? Sepertinya tidak ada sesuatu yang mencurigakan.


Aaron Kaniel lantas mengangsurkan sebuah kacamata berwarna gelap dan langsung diraih Zoey dengan cekatan. Cewek itu segera memakai alat canggih tersebut lalu berulang kali menekan tombol zoom yang terpasang pada gagang kacamata itu.


Zoey menajamkan arah penglihatan pada sebuah mobil SUV berwarna hitam yang berhenti tak jauh di depan mobilnya. Ia memastikan plat nomor yang terpasang pada kendaraan tersebut.


Gotcha!!! Ini mobil yang sama dengan waktu itu…