My Teacher is an Agent

My Teacher is an Agent
Chapter 49



Seketika Zoey mendelik menatap Siska yang alih-alih takut, justru malah cengar-cengir tak karuan.


"Kenapa kamu nggak bilang dari awal kalau sudah tau semuanya?!" tanya Zoey kesal.


"Buat apa saya bilang semua itu pada ibu. Saya tau kalau itu masalah pribadi bu Zoey. Jadi saya tidak perlu ikut campur."


Zoey menghela nafas panjang. Satu lagi orang yang tau rahasianya. Tapi kali ini bukan terkait identitas Zoey, melainkan hubungan percintaan antara seorang guru dan seorang siswa yang bahkan baru saja menginjak awalnya.


"Saya tidak akan membuat ini menjadi bahan gosip satu sekolah bu. Saya ikut bahagia kalau ibu nyaman menjalani semua ini."


Siska tersenyum tulus sambil mengerlingkan sebelah matanya pada Zoey. Segurat kelegaan terpancar dari wajah sang guru. Untung saja hubungan kontroversi itu masih bisa tertutupi.


Detik berikutnya Zoey coba menoleh ke arah Samuel dan ekspresinya langsung mengeras seketika.


Siswa yang semula hanya berbincang dengan beberapa teman cowoknya itu kini sedang duduk berdempetan dengan seorang cewek yang tanpa malu-malu menggamit lengan Samuel seraya menekankan buah dadanya yang terbilang over big untuk ukuran seorang siswi SMA.


Ingin rasanya Zoey melempar cangkir kopi di tangannya ke arah dua makhluk itu. Siapa cewek laknat itu? Dan kenapa juga Samuel pasrah saja mendapat perlakukan seperti itu???


Oh No… Jangan bilang Samuel menikmati semua adegan tersebut.


BRAKKK!!!


Zoey menggebrak meja dengan cukup keras sampai membuat seluruh pengunjung cafetaria menoleh ke arahnya. Begitupun dengan Samuel.


Cowok itu langsung berdiri saat mendapati arah pandangan Zoey tertuju kepadanya. Samuel jelas paham dengan maksud pandangan itu.


Tanpa menunggu penjelasan dari cowok yang tertangkap basah bermesraan, Zoey melesat meninggalkan kafetaria dengan muka merah padam. Perasaannya saat ini bercampur aduk. Marah, malu, kecewa semua ia rasakan dalam frekuensi yang sama.


Samuel yang mengerti kalau pacarnya itu saat ini sedang salah paham dengannya, serta-merta berlari menyusul Zoey yang sudah lebih dulu melenggang menuju atap gedung sekolah.


Setibanya di atap, Samuel celingukan mencari sosok sang kekasih. Dan matanya tercekat serta ngeri saat mendapati Zoey tengah duduk di bibir atap seraya menundukkan kepalanya.


"Honey… Jangan aneh-aneh. Buruan turun. Aku mau bicara sama kamu,"


"Bicara saja dari situ. Aku juga masih bisa dengar kok." jawab Zoey dengan santai. Namun sesantai apapun nada suara tersebut, raut muka Zoey saat ini tetap sulit diartikan.


"Kamu marah sama aku? Cuma gara-gara masalah di kantin tadi???"


"Yah… Mungkin buat ABG seperti kamu itu 'cuma'. Tapi buat aku itu nyakitin, Sam." tukas Zoey dengan tajam.


Apa-apaan ini??? Dia ngambek lagi??? Ya Tuhan… Sebenarnya umur berapa cewek itu? Kenapa sering banget ngambek cuma karna masalah sepele…


Samuel menggerutu dalam hati. Ia tidak menyangka kalau sang pacar akan se-childist ini.


"Oke aku salah. Aku minta maaf, Honey…"


"Honey… Kamu turun sekarang. Atau aku yang duluan lompat dari sini."


Entah sejak kapan Samuel juga ikut-ikutan berdiri di bibir atap gedung. Yang pasti muka Zoey seketika memucat melihat Samuel mulai berjalan menghampiri dirinya.


Tanpa menunggu aba-aba, Zoey berdiri tegak dan berlari ke arah Samuel. Detik selanjutnya ia menarik lengan sang pacar dan membawanya jatuh ke sisi atap.


BRUGGHHH!!!


Keduanya terguling ke lantai atap hingga berakhir dengan posisi yang membuat Samuel dan Zoey semakin canggung.


Samuel terlentang di bawah Zoey yang dengan nyamannya **** badan cowok itu. Zoey tidak bisa bergerak sedikitpun. Bukan lantaran sakit atau cidera, melainkan karena Samuel mendekap erat punggung cewek itu.


Cup!


Samuel menyesap kilas bibir ranum milik Zoey. Ia semakin sumringah melihat reaksi Zoey yang menunduk malu sembari menyembunyikan rona merah pada wajahnya.


Meski sudah kesekian kalinya mereka berciuman, namun Zoey tetap merasa berdebar sampai membuat nafasnya tercekat. Efeknya berimbas pada semburat merah yang selalu muncul dari balik pipinya.


"Kamu kalau cemburu gemesin banget, Honey. Dan aku sangat suka itu." tutur Samuel disusul dengan kecupan ringan pada kedua pipi Zoey.


"Dan kamu sepertinya juga menikmati service cewek di kafetaria tadi." sindir Zoey dengan nada kesal.


"Hahaha… Kamu kenapa bilang itu service? Aku nggak nyangka kamu akan se-jealous ini hanya karna hal kecil begitu."


Zoey memberengut kesal. Matanya membulat mendengar Samuel tidak mengindahkan ucapannya.


"Anyway… Aku lebih puas dengan 'service' si agen rahasia kalau sedang beraksi di atas ranjang."


Secepat kilat Samuel mengarahkan ciumannya ke leher jenjang Zoey. Ia sedikit bermain-main di sana hingga tanpa sengaja meninggalkan jejak kemerahan pada kulit mulus tersebut.


"Aawww!!! Sakit, yank… Kenapa kamu kasar begitu?!"


Samuel bukannya menyesal tapi malah semakin terkekeh. Zoey benar-benar telah menjadi heroin merk tersendiri untuknya. Cewek itu selalu menawarkan candu yang bahkan bisa membuat Samuel sakauw bila tidak mencicipinya barang sehari saja.


"Aku senang kamu cemburu. Dan aku lebih senang kalau efek cemburu itu bisa membuat ku semakin 'panas'..."


Zoey tidak tahan lagi mendengar ocehan-ocehan vulgar yang keluar dari mulut manis Samuel. Hatinya semakin tergerak untuk melakukan sesuatu yang vulgar tersebut. Tapi tentu saja tidak di tempat ini. Karena otaknya masih cukup sehat untuk mencari tempat yang lebih aman dan nyaman selain sekolah.


"Bisa kita lakukan 'ini' dengan cepat dan panas???" goda Samuel seraya tangannya menelusup pelan ke dalam rok Zoey dan *** pelan miliknya.


"Sssshhh…" Zoey sedikit mendesis menerima serangan tak terduga dari sang pacar.


Samuel tersenyum menang. Dan detik berikutnya ia sudah mulai **** lembut kedua dada Zoey yang membuat suasana semakin membara.