
"Ayo kita geledah kamar ini." ajak Samuel penuh semangat.
Leo menghela nafas dengan kesal. Sudah sejak awal dia ingin mengakhiri investigasi horor tersebut. Tapi Samuel selalu saja menyeretnya untuk tetap ikut. Meskipun Leo mengamuk sambil bersumpah serapah, ia yakin Samuel akan tetap melanjutkan misinya.
"Wow." Samuel membuka sebuah laci meja tulis, yang langsung menemukan sebilah pisau serta sejumlah alat suntik beserta jarumnya yang masih terbungkus plastik.
"Sebuah temuan yang bagus." Samuel menunjukan semua barang itu ke hadapan Leo.
"Koleksi yang nggak biasa," komentar Leo sambil mengangkat sebelah alisnya. "Pasti masih ada yang lebih menarik, Sam."
Samuel mengangguk setuju. Ia lantas beralih menuju sebuah lemari kayu tua. Pemandangan pertama yang ia lihat nyaris membuat jantungnya berhenti bekerja.
Lemari itu dipenuhi dengan gaun-gaun yang sangat indah. Bukan sembarang gaun, melainkan gaun pernikahan dalam berbagai model dan warna.
"Yo, menurut lo semua ini apa artinya?"
Leo serta-merta menoleh ke lemari yang dimaksud Samuel. Mendadak perasaan tidak enak menjalari benaknya.
"Jawaban gue cuma satu, nggak mungkin si Kentang yang pakai dress itu..."
Oke, semuanya jadi semakin menyeramkan. Untuk apa gaun-gaun itu tersimpan di sebuah bangunan kosong tak berpenghuni? Pastinya seperti yang dikatakan Leo, tidak mungkin semua itu milik Denish. Dengan kata lain, ada seseorang -kemungkinan cewek- yang juga tinggal di rumah menakutkan ini.
"Feeling gue masih ada yang bakal bikin kita lebih kaget." sahut Samuel sambil menunjuk sebuah benda pipih yang tergeletak di atas tempat tidur.
Yap, satu unit laptop. Samuel mencoba menekan tombol power, tapi hasilnya nihil. Mungkin baterainya habis. Merasa tidak ada yang bisa dilakukan, Samuel lantas mencampakkan benda itu.
Matanya beralih pada tumpukan bantal dan guling yang ada di samping laptop tersebut. Entah mengapa feeling Samuel mengatakan ia akan menemukan sesuatu di sana.
"Dapat! Coba liat apa yang gue temuin!"
"Flashdisk!!!" seru Leo dengan mata membulat.
Samuel mengangguk penuh kepuasan. Jackpot!
Dengan segera cowok itu menyimpan barang temuannya ke dalam saku celana.
"Buruan keluar sebelum si Kentang masuk ke sini." ajak Leo yang sudah lebih dulu beringsut meninggalkan kamar itu saat mendadak terdengar sebuah suara hantaman yang hampir saja membuat mereka berteriak.
BRAKKK!!!
Tiba-tiba terdengar pintu dibuka dengan kasar. Sontak saja Samuel dan Leo melompat bersembunyi di bawah meja makan besar yang ada di hadapan mereka. Beruntung dua cowok itu keluar lebih cepat dari dalam kamar, sehingga si pemilik rumah tidak sadar ada dua makhluk tak diundang yang sudah mengobrak-abrik kamarnya.
Nampak si Denish -orang yang sedari tadi mereka awasi- berjalan keluar dari sebuah pintu yang terhubung dengan ruang bawah tanah. Sekelebat tercium bau anyir darah dari tubuh cowok itu. Apa yang dia lakukan di sana?
Samuel mengawasi langkah Denish sampai akhirnya cowok itu keluar dari pondok dan mengunci pintunya.
"Gilaaa… Sekarang kita ke kunci di sini?!" Leo hendak berteriak kencang namun tangan besar Samuel langsung membungkam mulutnya. Alhasil dia hanya bisa mendesis pelan sambil mengacak kasar rambutnya.
"Itu kita pikirin nanti. Sekarang gue penasaran apa yang ada di bawah sana? Tadi gue lihat si kentang keluar dari pintu itu."
"Lo serius mau cek ke sana?" tanya Leo tidak yakin.
"Emang lo punya pilihan??"