My Teacher is an Agent

My Teacher is an Agent
Chapter 59



Zoey tidak menyahuti gerutuan Samuel. Ia sibuk memeriksa video rekaman cctv dari lokasi kejadian. Sebelumnya cewek itu sudah meretas semua kamera pengintai yang terpasang di seluruh penjuru sekolah. Tujuannya tak lain adalah agar dia dapat memantau setiap sudut tempat tersebut. Berjaga-jaga kalau ada sesuatu yang mencurigakan.


"Kamu lagi ngapain sih?! Dari tadi aku dicuekin…"


Samuel merebut handphone dari tangan Zoey dan matanya langsung membulat tatkala mendapati sebuah gambar yang mempertontonkan adegan penusukan pacarnya itu.


Pada hasil rekaman tersebut terlihat seseorang berjalan pelan menghampiri Zoey dari arah pintu masuk kafetaria. Orang itu memakai sebuah masker yang menutupi sebagian wajahnya. Namun Samuel tetap bisa mengenali sedikit wajah yang terbuka itu.


Wajah yang tak asing lagi baginya. Hampir setiap hari mereka bertatap muka. Dia adalah teman sekelasnya. Seorang cowok yang dari luar tampak letoy dan feminim namun ternyata menyimpan sisi kejam yang yang sangat mengerikan. Dengan tubuh tambunnya, Samuel sering menjulukinya 'Si Kentang'. Begitulah sosok Denish yang Samuel kenal. Ia tidak mengira kalau cowok itu tega melukai pacarnya yang bahkan tidak begitu mengenalnya.


Seketika wajah Samuel merah padam. Tangannya mengepal keras seolah sudah tidak tahan lagi ingin segera menghajar si pelaku hingga terkapar. Orang itu salah jika memilih berurusan dengan seorang Samuel Paxon. Karena sedikit saja orang itu menyentuh kekasihnya, maka saat itu juga Samuel akan mengantarnya ke hadapan raja neraka.


"Tenanglah, Sayang… Ingat! Jangan bertindak gegabah. Kita harus bisa menahan diri. Ada saatnya orang itu akan menerima pembalasannya." Zoey membelai lembut tangan Samuel yang mengepal. Tapi sorot matanya terlihat sangat kontras dengan tindakannya.


Mata itu menguarkan tatapan penuh dendam. Zoey tidak terima atas luka yang ia dapatkan. Cewek itu berjanji akan membalas setiap kesakitan yang ia rasakan. Dan pembalasan itu akan menjadi hal terburuk yang pernah si pelaku temui.


Samuel menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Ia meraih kepala Zoey dan mendekapnya dengan sayang.


"Maafin aku karena sekali lagi nggak bisa jagain kamu, honey… Dan kali ini teman ku sendiri yang melukai kamu."


"Ini bukan salah kamu, Yank. Jadi kamu jangan meminta maaf."


"Sekarang apa yang akan kita lakuin?" tanya Samuel seraya kembali merebahkan tubuh Zoey. Disusul dengan dirinya yang ikut berbaring dan langsung melingkarkan tangannya memeluk cewek itu.


Samuel menyunggingkan senyum miringnya. Seperti inikah rasanya bekerja sebagai seorang agen rahasia?? Hhmmm… Lumayan menyenangkan dan menantang.


"So, apa yang harus aku lakukan sekarang?"


Zoey berfikir sejenak. Ia harus memberikan tugas lain kepada Samuel agar cowok itu tidak lagi mengacau. Jangan sampai sang pacar mencampuri misinya kali ini. Atau semua yang telah ia kerjakan akan menjadi sia-sia.


"Kamu bisa membantuku untuk mengawasi dia, Yank. Kamu masih ingat dengan pena yang aku berikan? Gunakan itu untuk merekam semuanya. Dan kalau kamu sedang terdesak, bolpoin itu bisa kamu jadikan senjata."


"HAH???! Serius, Honey… Gimana caranya?"


Mendadak mata Samuel menjadi berbinar saat mendengar dirinya dibekali dengan sebuah senjata. Walaupun bukan pistol maupun revolver seperti yang ia harapkan. Tapi senjata ini kedengarannya lebih keren dari dua benda tersebut.


"Keluarkan isi bolpoin itu dan tancapkan pada tubuh si penyerang. Seketika orang itu akan pingsan. Karena tinta pada bolpoin itu mengandung obat tidur dengan dosis yang sangat tinggi. Jadi kamu cukup menancapkannya tidak lebih dari tiga detik."


"It's an amazing, Honey… Kamu punya semua peralatan itu dari mana?" tanya Samuel penasaran.


"Itu rahasia, Sayang… Tidak semua tentang ku bisa di ketahui begitu saja."


Samuel mengalah. Ia tidak ingin berdebat dengan seorang pasien yang baru saja melewati masa kritisnya. Yang terpenting Zoey bisa segera sembuh dan Samuel akan punya banyak waktu untuk menginterogasi cewek itu.