My Teacher is an Agent

My Teacher is an Agent
Chapter 28



20 menit kemudian, Samuel sampai di depan rumah Zoey. Tepatnya bukan rumah yang sesungguhnya, karena ini hanya tempat tinggal sementara setiap kali Zoey menjalankan misi.


Samuel dengan cekatan membukakan pintu dan membantu Zoey keluar dari mobil.


"Pelan-pelan," kata Samuel sambil memapah Zoey masuk ke dalam rumah.


Saat memasuki ruang tamu, tubuh Zoey terasa sangat lemah dan membuatnya kehilangan keseimbangan. Sebelum badannya benar-benar menyentuh lantai Samuel dengan sigap menahan tubuh Zoey dan langsung meraup cewek itu ke dalam gendongan.


"Dimana kamar lo?"


"Turunkan! Saya bisa jalan sendiri." Zoey meronta namun Samuel malah semakin mengeratkan gendongannya.


Samuel tidak memperdulikan Zoey yang meronta minta diturunkan. Ia tetap menggendong Zoey dan berjalan mencari kamar cewek itu. Akhirnya Zoey mengalah dan menunjuk sebuah ruangan dengan pintu tertutup.


Sesampainya di kamar, perlahan Samuel menurunkan Zoey dan mendudukkannya di tepi ranjang. Ia lalu menyodorkan handphonenya kepada Zoey agar cewek itu segera menghubungi dokter.


"Nggak perlu. Tolong ambilkan saja kotak P3K di dalam lemari itu."


"Zoey! Lo taukan kalau luka ini nggak main-main! Darah lo bisa habis kalau nggak segera ditangani." bentak Samuel yang kembali emosi karena Zoey masih tetap bersikeras mengobati lukanya sendiri.


"Saya tahu betul dengan luka seperti ini. Dan ini juga bukan pertama kalinya. Jadi kamu nggak perlu panik," jawab Zoey dengan suara bergetar menahan sakit.


"Bukan pertama kali?! Maksudnya lo udah berkali-kali gitu kena luka tembak?" kali ini Samuel dibuat tercengang dengan pengakuan sang guru.


Dengan tampang cemberut Samuel menuruti permintaan gurunya. Setelah menerima kotak P3K Zoey langsung melepas blazer yang dikenakan. Mulanya ia mudah saja melepas blazer karena tidak ada resleting yang harus dibuka. Namun saat akan membuka kemejanya, Zoey merasa kesakitan karena bahu yang terluka itu tidak mudah digerakkan. Samuel yang sedari tadi hanya mengawasi sambil bersandar pada lemari, merasa kasihan melihat cewek itu menahan sakit.


"Butuh bantuan?" tanya Samuel dengan suara lembut yang membuat Zoey tidak nyaman.


"Tidak perlu saya bisa sendiri." Zoey mencoba meraih tuas resleting di punggungnya dan berharap resleting itu mau terbuka. Tapi tetap saja tuas resleting itu tidak mau bergerak. Zoey sekali lagi mencoba dengan menggunakan tangannya yang terluka.


"Aaawww…" bukannya terbuka malah bahu yang terluka itu semakin banyak mengeluarkan darah.


Habis sudah kesabaran Samuel melihat sikap Zoey yang keras kepala. Langsung disambarnya resleting itu dan perlahan ia membantu Zoey melepaskan kemeja.


Seketika tampaklah pemandangan indah di depan mata. Perlahan Samuel menelan ludah. Dia berusaha sebisa mungkin untuk tetap menjaga kewarasan otaknya. Berkali-kali ia mengingatkan diri kalau cewek yang sedang duduk di hadapannya itu adalah guru yang saat ini tengah membutuhkan pengobatan.


"Gue bantu bersihin luka lo." kata Samuel sebelum tangannya mulai membersihkan luka di bahu Zoey dengan cairan NaCl.


"Aaawww…" Zoey merintih kesakitan saat Samuel menekan luka itu sedikit keras.


"Maaf… Maaf… Bukan maksud gue…" Samuel tidak melanjutkan kata-katanya.


Saat ini hati Samuel sedang bergemuruh bagaikan ada badai tornado yang melanda di sana. Dia harus tetap terfokus mengobati luka itu namun dua bukit indah di hadapannya selalu saja mengalihkan perhatian. Dan juga benda kecil di dalam celana Samuel mulai menunjukkan pergerakan.