
"Apa yang sedang terjadi di sini?!!!" Sebuah suara serak nan berat terdengar menggema di dalam ruangan luas tersebut dan seketika membuat suasana yang tadinya ricuh berubah menjadi hening dalam sesaat.
Tiga anak manusia itu mendadak mati kutu dan larut dalam pikiran masing-masing. Tak seorang pun berniat untuk membuka mulut.
Shit!!! Masalah baru lagi…
Samuel langsung dicekam rasa takut yang amat sangat. Mungkin seorang Zoey masih bisa ia tangani. Tapi kalau berhadapan dengan pria yang satu ini, jangankan hendak menghadapi, menatap matanya saja belum tentu berani. Sedangkan Zoey hanya bisa melebarkan senyumnya karena merasa inilah waktunya Sang Komandan turun tangan.
Lantas bagaimana dengan Leo? Tidak perlu ditanya lagi. Cowok itu sudah hampir terkencing di celana saking takutnya. Bahkan kalau bisa ia memilih menenggelamkan diri ke dasar laut daripada harus terjebak dalam situasi mengerikan seperti ini.
"Adakah yang bisa memberikan penjelasan!" tanya Aaron Kaniel penuh selidik.
"Emmm… Itu, Pa. Kita nemuin petunjuk baru tentang si Kentang."
"Kentang??? Kentang goreng???"
"Eh, Denish maksudnya…"
"Apa dia bocah yang kamu maksud?!" tanya Aaron Kaniel seraya menatap tajam ke arah Leo.
Cowok itu sontak mengkerut bagaikan permen kapas yang disiram air.
"Bukan, Pa. Dia teman aku. Namanya Leo."
"Terus kenapa dia di sini??"
"I… Itu, Pa. Dia…"
"Dia sudah tau misi rahasia kita, Pa." sahut Zoey dengan enteng.
"What?!!! Kalau begitu habisi dia sekarang!"
Deg!
Jantung Leo sejenak berhenti berdetak. Matanya mulai berkunang-kunang. Sekujur tubuhnya dialiri keringat dingin. Inikah saat-saat itu? Beginikah akhir kisah hidupnya?? Apakah ia harus mengucapkan salam perpisahan pada nyawanya sekarang??? Tidak bisa… Dia belum sempat meminta maaf pada orang tuanya. Dia juga belum mengungkapkan perasaannya pada Cindy. Dia bahkan masih belum meniup lilin ulang tahun yang ke-18. Haruskah semua itu terlewat begitu saja??? Demi Tuhan, siapapun segeralah datang menjadi dewa penyelamat.
"Tunggu, Pa! Jangan sakiti teman aku. Dia nggak tau apa-apa. Papa harus dengerin dulu penjelasan aku."
Shit!!! Siapapun yang mendengar perkataan ini, mereka pasti berpikir ada hubungan rahasia antara Samuel dan Leo. Kata-kata itu lho… Tapi sudahlah! Yang terpenting sekarang menyelamatkan si Singa -Leo- dari tangan malaikat maut yang sudah menarik pelatuk senjata. Kasihan bocah itu sudah menggigil gemetaran.
"Katakan, Sam!"
Samuel menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Setelah jantungnya kembali normal, ia mulai menceritakan lagi kejadian yang dia lewati seharian ini. Tidak seperti sebelumnya, kali ini Samuel bercerita dengan sangat lancar. Ia bahkan bisa menjuarai lomba esai antar sekolah kalau mau. Mungkin karena cowok itu sudah mulai hafal dengan kronologisnya sehingga semua yang keluar dari mulutnya seperti rekaman yang diputar ulang. Atau mungkin juga karena saat ini ia tengah mendekap seseorang yang bisa memberinya sedikit keberanian untuk berbicara di depan seorang Aaron Kaniel yang menjelma bagaikan bom waktu yang berbahaya.
Di sisi lain, pria bom waktu itu mendengar setiap detail penjelasan calon menantunya dengan seksama. Mencerna informasi yang bisa dijadikan sebagai acuan dalam bertindak. Dan pria tersebut hanya manggut-manggut tatkala Samuel menyelesaikan penjelasannya.
"Oke… Bisa kamu ceritakan bagaimana keadaan Jasmine di sana?"
"Dia masih bernafas, Pa. Tapi sekujur tubuhnya penuh luka. Dan untuk korban lainnya, mereka mungkin sudah sekarat. Hanya cairan infus yang masih membuat nyawa mereka bertahan sampai saat ini. Wajah mereka semua pucat seperti mayat tanpa darah."
"Apa kamu bilang, Sam?" tanya Zoey tak percaya.
Tubuh Zoey langsung lemas mendengar penjelasan Samuel tentang kondisi para korban itu. Untung saja cowok itu masih setia memeluk pinggangnya sehingga ia tidak benar-benar tekulai sekarang.
"Zoey ikut, Pa."
"Tidak perlu. Papa akan menugaskan agen lain. Kamu sudah papa anggap gagal menjalankan misi ini."
"Tapi, Pa…"
"Ini perintah Zoey! Kamu paham apa yang harus dilakukan saat mendapat perintah?!!"
Mendapati bentakan itu membuat Zoey serta-merta mendorong tubuh Samuel dan berlalu memasuki kamarnya.
"Sam, kamu susul Zoey ke kamar. Dan kamu malam ini menginap di sini. Kamu bisa pakai kamar tamu yang ada di lantai dua. Kita bahas masalah ini besok."
Setelah memberikan instruksi semua pihak masuk ke kamar masing-masing. Begitu pula Aaron Kaniel yang melenggang ke dalam ruang komando untuk mengatur beberapa strategi perang.
Perang??? Tentu saja. Kasus ini tidak bisa lagi ditolerir. Yang semula hanya sebatas ingin membantu penyelidikan polisi, tiba-tiba semua telah berubah menjadi sesuatu yang lebih mengerikan. Apalagi sudah ada beberapa korban yang mungkin saja sedang mempertaruhkan nyawanya.
Demi hati nurani seorang Aaron Kaniel, sudah jelas harus pihaknya sendiri yang turun tangan. Terlalu lama jika mengharapkan bantuan pihak kepolisian. Bukannya meremehkan, tetapi untuk menurunkan sebuah surat perintah penangkapan, harus ada bukti-bukti konkret yang jelas.
Kalau seperti itu, bisa saja Sang Izrail bertindak lebih cepat.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hay... para readers yg setia.
Sebelumnya Author minta maaf karena hari ini hanya bisa up 1 chapter. Sebenarnya sudah ada naskah yang Author siapkan, tapi itu untuk besok saja. Biar kalian penasaran... xoxo.
Dan spoiler dulu nih... untuk chapter besok sampai beberapa hari ke depan tidak ada satupun teks dialognya. Karna chapter itu khusus untuk sudut pandang dari Denish a.k.a si 'Kentang'. Jadi dilarang protes!! Apalagi komen kalau ceritanya membosankan...
Please... Author sudah sampai berfikir gila untuk membuat chapter itu. So... tunggu kelanjutannya ya... xoxo ♥