My Teacher is an Agent

My Teacher is an Agent
Chapter 25



Setelah rentetan kejadian mengerikan yang terjadi sepekan ini, akhirnya para pemilik yayasan dan juga dewan guru memutuskan untuk mengadakan rapat tertutup. Bukan hanya pihak sekolah, rapat itu juga dihadiri beberapa anggota kepolisian yang nantinya akan menangani kasus kejahatan di GIS.


Berhubung rapat diagendakan hari ini, maka kegiatan belajar mengajar diliburkan. Dan para siswa berikut guru-guru dipulangkan lebih awal. Termasuk Zoey yang sama sekali tidak diijinkan untuk mengikuti rapat tersebut. Hal itu membuat dirinya frustasi. Tapi bukan Zoey namanya kalau dia tidak bisa menemukan cara untuk meluluskan misinya.


Zoey kembali teringat dengan mini kamera yang diam-diam ia pasang di ruang guru dan kantor kepala sekolah. Bukan hanya kamera, Zoey juga menyelipkan perekam suara yang langsung terkoneksi dengan smartphone miliknya. Karena itulah sekarang ia memutuskan untuk pulang dan memantau jalannya rapat dari rumah.


Saat sampai di parkiran, Zoey tersenyum melihat Samuel mengumpat sambil menendang ban mobilnya yang kempis. Cowok itu benar-benar tidak berguna. Bahkan mengatasi ban mobil kempis saja kesulitan. Bukankah hanya tinggal menggantinya saja dan semua selesai.


Perlahan Zoey menghampiri cowok yang belakangan ini selalu menyita perhatiannya. Entah sejak kapan Zoey mulai merasakan debaran aneh setiap ia berinteraksi dengan Samuel. God! He's my student! Umpat Zoey dalam hati.


"Butuh bantuan?" tanya Zoey menawarkan diri.


"Nggak perlu. Gue bisa ngurus ini sendirian." jawab Samuel ketus.


"Yakin? Pernah ganti ban mobil?"


"......"


Zoey menyeringai melihat muridnya itu terdiam mendengar pertanyaannya.


"Sudah. Tinggalkan saja mobil kamu di sini dan saya akan mengantar kamu pulang. Kebetulan saya ada urusan dengan papa kamu."


Samuel sekilas melirik Zoey curiga. Mungkinkah dia ingin mengadukan tindakannya kemarin? Itukan tidak sengaja. Bagaimana bisa seorang wanita seumuran Zoey mempermasalahkan sebuah ciuman singkat. Pasti itu bukan ciuman pertamanya juga.


Samuel akhirnya mengangguk setuju. Lumayan dia tidak harus kehilangan uang jajan untuk membayar ongkos taksi online.


Di perjalanan pulang mereka hanya saling diam. Zoey fokus pada setir mobilnya dan Samuel fokus dengan rasa penasarannya.


"Lo mau ngapain ketemu papa?" tanya Samuel memecah kesunyian.


"Panggil saya ibu. Saya masih guru kamu." jawab Zoey kesal.


"Lo guru kalau di sekolah dan di luar jam itu gue nggak akan bersikap formal."


Zoey menghela nafas lalu menghembuskannya kasar.


Di tengah perjalanan Zoey merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Ia melirik kaca spion dan melihat sebuah mobil SUV melaju membuntuti kendaraannya. Awalnya Zoey sedikit curiga dan mencoba bermain kecepatan dengan mobil tersebut. Setiap Zoey mengurangi laju kendaraannya, mobil SUV itu juga melakukan hal yang sama. Kali ini Zoey yakin kalau ia memang sedang diikuti.


Sampai di sebuah pertigaan jalan, tiba-tiba Zoey membelokkan kendaraan dan membawanya melaju ke jalanan yang sepi. Samuel bingung karena jalan yang dilalui sekarang bukan arah menuju rumahnya.


"Kita mau kemana?" tanya Samuel yang merasa aneh karena tiba-tiba mobil yang ia tumpangi melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi.


"Sorry, sebenarnya saya nggak mau bawa-bawa kamu. Tapi kali ini saya terpaksa." Zoey menjawab dengan tegas. Mata elangnya mulai bekerja. Melirik kaca spion untuk memastikan mobil si pengejar. Dan benar saja mobil itu melaju semakin kencang di belakangnya. "Kita sedang diikuti."


"Hah?!" Samuel seketika menengok ke belakang dan memastikan maksud ucapan gurunya itu.